Latest Entries »

 

Kain tenun bukan hanya buah keterampilan turun-temurun bagi masyarakat desa kalianget, melainkan juga bentuk identitas kultural dan artefak ritual. Di luar lingkup tradisi masyarakat daerah tujuan wisata itu, kain tenun Balipun tidak sebatas cendera mata, tetapi terus berkembang sebagai komoditas berbasis budaya. Dinamakan tenun ikat karena dalam proses pembuatan motifnya benang bahan pembuat kain itu diikat dalam bentuk-bentuk tertentu. Kain tenun ikat khas Bali sebagai satu kekayaan bangsa masih sangat potensial dikembangkan dan dicarikan pangsa pasar untuk mendorong kegairahan ekonomi perajin, sekaligus memperkaya rancangan motif, teknik pembuatan, dan jenis tekstil yang digunakan. Selama ini di Bali yang paling dikenal potensi tenun ikatnya adalah kawasan wisata Candidasa, Kabupaten Karangasem, Bali. Tenganan, demikian nama desa itu, atau biasa disebut Bali Aga (Bali asli). Menurut sejarah, masyarakat yang tinggal di Desa Tenganan ini adalah suku asli Bali yang tetap mempertahankan pola hidup tradisional sampai saat ini. Ketaatan masyarakat pada aturan tradisional desa yang diwariskan nenek moyang mereka secara turun temurun menjadi sebuah benteng kokoh dari pengaruh luar. Dalam hal dan situasi lain banyak sekalai yang bisa di gali dari tenun ikat ini menuju penguatan dan pengembangan desa mandiri. Tapi pada satu sisi, di jaman yang serba mendapat sentuhan modernisasi, sedikit demi sedikit tenun ikat mulai dilupakan bahkan ditinggalkan. sehingga banyak orang yang mempunyai kemahiran dalam bidang ini yang lalu banting setir ke bidang lain. dijumpai kenyataan bahwa banyak alat tenun bukan mesin (ATBM) yang tidak dioperasikan.

Lahirnya tenun ikat sebagai program Penguatan Penguatan dan Pengembangan desa menuju Desa Mandiri dipengaruhi oleh beberapa faktor yang  dianggap sangat besar peranannyadalam mengakibatkan perkembangan desa dan proses pemberdayaan masyarakat menjadi tidak atau belum optimal. Tidak optimalnya perkembangan dan pemberdayaan diakibatkan oleh beberapa faktor yakni, banyaknya bantuan yang masuk ke desa belum mampu memberi dampak yang signifikan dalam menumbhkembangkan prakarsa swadaya tenun ikat dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sdan pemanfaatan tenun ikat. Secara langsung atau biasa di sebut masalah ego sektoral. Beberapa faktor lain yang turut mempengaruhi adalah :pola pikir masyarakat desa yang bergantung pada bantuan,biaya sosial budaya yang tinggi, dan beberapa faktor lokal lain. Dengan adanya tenun ikat sebagai penguatan dan pengembangan desa menuju desa mandiri adnya proses pemberdayaan masyarakat yang dimulai dari proses : penyadaran,perencanaan,pelaksanaan,pengendalian,pengelolaan, dan pemanfaatan serta pelestarian tenun ikat.

C.RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat diajukan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :

1.Bagaimana cara mengubah pola pikir masyarakat desa yang bergantung pada bantuan menuju pkepengembangan desa mandiri melalui tenun ikat?

2.Bagaimana partisipasi masyarakat dalam proses pemberdayaan melalui tenun ikat yang di arahkan untuk peningkatan kapasitas kemandirian desa sebagai program yang terpadu, kontinyu, dan konsisten?

 D.TUJUAN PROGRAM

Tujuan dari program kreativitas mahasiswa pengabdian masyarakat ini adalah sebagai berikut.

1.Merubah pola pikir masyarakat menuju kepada pengembangan desa mandiri melalui pemberdayaan tenun ikat

2. Untuk mengetahui partisipasi masyarakat tentang pemberdayaan tenun ikat sebagai peningkatan kapasitas kemandirian desa yang terpadu, kontinyu,dan konsisiten.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN

            Hasil Program Kreativitas Mahasiswa yang dilaksanakan dalam bentuk pengabdian masyarakat ini diharapkan mampu memberikan wawasan dan menambah pengetahuan serta merubah pola pikir masyarakat desa menjadi lebih mandiri melalui pemberdayaan tenun ikat tidak hanya kemampuan dalam hal kualitas tapi juga secara kuantitas. Hal khusus yang ingin diharapkan adalah : meningkatkan peran serta masyarakat terutama kelompok miskin dan kelompok perempuan dalam meningkatkan kemandirian guna menopang ekonomi dan adanya atau terbentuknya kelembagaan desa yang berpihak pada orang miskin, transparansi, partisipasi, desentralisasi, akuntabilitas, keberlanjutan dan keterpaduan program.

  F. KEGUNAAN PROGRAM

         Adapun kegunaan dari program pemberdayaan tenun ikat sebagai penguatan dan pengembangan desa kailianget sebagai desa mandiri adalah :

1.Melestarikan Warisan Budaya

2.Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Ekonomi Masyarakat

Pemberdayaan Tenun Ikat ini akan meningkatkan sumber daya manusia di desa kalianget yang berdasarkan atas kemandirian sehingga memberi pengaruh ekonomis dalam kehidupan masyarakat

G.METODE PELAKSANAAN PROGRAM

Metode yang digunakan pada Program Kreativitas Mahasiswa ini adalah metode interaksi dan kerjasama antar mahasiswa, kelompok masyarakat pengrajin di desa kalianget, pihak desa adat, dan pihak terkait yang mendukung pelaksaaan program tersebut. Selain itu, dalam melaksanakan PKM ini, penulis juga menggunakan metode lain, yaitu :

1.Metode Penyuluhan dan Pembinaan

Penulis mengadakan penyuluhan dan pembinaan yang dilakukan secara intensif dan berturut di desa kalianget dan adanya evaluasi dalam pemberdayaan tenun ikat guna menilai tingkat perkembangan desa dari desa berkembang , desa maju dan desa mandiri.Dalam penyuluhan mahasiswa melkukan kerjasama dengan kelembagaan desa sehingga dapat menganalisis hambatan dan kendala yang dihadapi dan di perolehnya masukan program pemberdayaan pengrajin tenun ikat di desa kalianget.

 

 

 

 

 

 

Analisis Situasi Usaha

        Potensi sumber daya perikanan di Bali mulai dilirik kembali, khususnya oleh masyarakat Bali Utara. Potensi perikanan khususnya bidang budidaya.  Potensi perikanan tangkap yang telah menurun berhasil ditopang oleh produksi perikanan budidaya. Hal ini mendorong berkembangnya usaha- usaha perikanan budidaya, baik itu budidaya ikan di tambak, kolam, karamba, jala apung,mina padi, dan lain-lain. Besarnya potensi dari bidang perikanan menyebabkan  usaha perikanan di kabupaten Buleleng sepanjang tahun terus bertambah.

Berdasarkan pemantauan  Dinas Perikanan Kabupaten Buleleng, pada tahun 2010 terdapat 724 unit usaha perikanan, meliputi 480 Balai Benih Ikan (BBI), 22 unit Balai Benih Udang (BBU),  dan 322 unit Balai Benih Swasta. Disamping itu juga terdapat ribuan unit-unit pembenihan skala rumah tangga (skala kecil) milik petani yang tersebar di kawasan pengembangan perikanan baik air tawar maupun air laut.

Hal ini menunjukkan kebutuhan akan pakan ikan terus meningkat seiring dengan berkembangnya usaha-usaha perikanan budidaya secara intensif. Selama ini jenis pakan yang digunakan oleh pembudidaya adalah pakan ikan olahan dari pabrik,  namun pada umumnya daya beli masyarakat tidak dapat menjangkau karena harga pakan buatan pabrik mahal dan terus mengalami kenaikan harga.   Harga pakan yang mahal disebabkan oleh bahan baku pakan pabrik menggunakan tepung ikan impor yang memiliki kualitas tinggi.  Tepung ikan impor dikatakan memiliki kualitas yang tinggi karena merupakan produk sampingan dari industri minyak ikan sehingga kandungan proteinnya tinggi dengan kandungan abu yang  rendah.  Tepung ikan lokal memiliki harga yang lebih rendah dibandingkan tepung ikan impor, namun kandungan protein tepung ikan lokal lebih rendah dengan kandungan abu yang lebih tinggi.  Tepung ikan lokal memiliki kualitas yang lebih rendah  karena bahan baku tepung ikan lokal adalah sisa ikan yang tidak habis terjual atau ikan dengan kualitas yang rendah.  Hal ini menyebabkan industri pakan atau pelet  lebih banyak menggunakan tepung ikan impor dibanding tepung ikan lokal, meskipun menyebabkan harga pakan menjadi mahal.

Indonesia sebenarnya memiliki berbagai sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan atau pellet. Contoh sumber daya alam yang dapat digunakan sebagai bahan baku pakan adalah keong sawah dan maggot.  Bahan baku tersebut mudah diperoleh  ataupun dibudidayakan dan bukan bahan kebutuhan pokok manusia.  Kandungan nutrisi yaitu protein dari keong sawah dan maggot hampir setara dengan kandungan protein tepung ikan impor.  Sayangnya, belum banyak atau bahkan belum ada usaha untuk mengolah dan membuat pakan sekala rumahan menggunakan bahan baku ini khususnya di kabupaten Buleleng.  Adanya upaya mengkonversi bahan baku pelet dari tepung ikan impor ke bahan baku keong sawah dan maggot yang harganya lebih murah dengan kualitas yang hampir sama, mengakibatkan menurunnya biaya produksi pembuatan pakan atau pellet, sehingga  harga jual pakan menjadi lebih murah dan dapat dijangkau oleh pelaku budidaya.  Pelaku budidaya membutuhkan pakan yang memiliki kandungan nutrisi yang memadai dan harga yang murah.

Atas dasar fakta dan asumsi di atas, usaha pakan buatan berbahan baku keong sawah dan maggot sangat bagus untuk dilaksanakan dan dikembangkan di kabupaten Buleleng.  Seirama dengan berkembangnya sistem budidaya ikan secara intensif akan semakin besar kebutuhan terhadap pakan ikan buatan. Dan apabila usaha budidaya ikan secara intensif telah menjadi “trademark” usaha perikanan, kiranya akan membuka peluang usaha produksi massal pakan ikan buatan sekala rumahan sebagai kebutuhan alternatif.

1.2. Profil Bidang Usaha yang Diusulkan

        Pakan buatan yang sering disebut pellet menurut Zonneveld (1991) adalah pakan kering dengan kadar air di bawah 10% dan kandungan nutrisinya lengkap sesuai kebutuhan dari jenis ikan yang dibudidayakan.

Pemilihan bahan baku keong sawah dan  maggot sebagai pengganti tepung ikan impor karena memiliki nilai gizi yang lengkap dan hampir sama kandungan proteinnya dengan tepung ikan impor, mudah dicerna, tidak mengandung racun, mudah diperoleh, bukan kebutuhan pokok manusia, bahan baku bisa dibudidayakan, sehingga potensial untuk perkembangan proses produksi pakan ke depan.  Desa Kalianget sebagai lokasi produksi pakan  menyediakan bahan baku yang melimpah melihat Desa Kalianget merupakan daerah persawahan sehingga keong sawah tersedia cukup banyak, selain itu keong belum dimanfaatkan oleh penduduk karena keong merupakan hama bagi para petani.  Bahan baku maggot atau pada umumnya lebih dikenal dengan nama belatung dapat dibudidayakan sebagai penunjang katersediaan stok bahan baku.  Proses budidaya dilakukan dengan menyediakan media hidup untuk maggot dalam hal ini  adalah bungkil kelapa atau bungkil pisang sebagai media melalui proses pembusukan

 

 

 

 

Maggot                                                Keong Sawah

Harga jual pakan buatan rumahan dengan bahan baku keong sawah dan maggot tidak mahal namun tetap memberi keuntungan. Harga pakan dengan bahan baku keong sawah dan maggot menjadi lebih murah karena dalam pembuatan pakan menggunakan prinsip pemanfaatan sumber daya alam yang terdapat di sekitar tempat produksi dan yang tidak dikonsumsi secara langsung oleh manusia atau pemanfaatan bahan baku yang memiliki nilai nutrisi dan nilai ekonomi dari pada bahan pangan hewani yang akan dihasilkan sehingga biaya produksi dapat ditekan serendah mungkin dan harga jual dapat disesuaikan dengan isi kantong pelaku budidaya atau petani.

 

 

 

 

II. Aspek-aspek Usaha

2.1 Aspek Hukum

a. Legalitas Usaha

Usaha yang dibuat yaitu usaha dagang dengan skala yang masih kecil, tenaga kerja yang digunakan juga masih sangat sedikit dan dapat diproduksi di rumah (Home industri)

b. Perizinan

Usaha yang diciptakan masih dalam skala kecil, izin yang digunakan yaitu hanya izin dari ketua Rukun Tetangga (RT) dan izin dari ketua Rukun Warga (RW). Selain itu juga izin dari masyarakat sekitar tempat memproduksi pakan buatan

2.2  Aspek Teknis dan Teknologi

a. Lokasi Usaha

Pakan buatan rumahan ini mengambil lokasi produksi di desa Kalianget. Pemilihan lokasi berdasarkan pertimbangan yaitu sumber bahan baku pakan di lokasi ini tersedia melimpah, ruang yang tersedia untuk proses produksi pakan luas sehingga mendukung proses-proses pembuatan pakan seperti proses pengeringan atau penjemuran, kepadatan masyarakat hunian tidak seperti di daerah perkotaan sehingga diharapkan pada saat proses produksi  yaitu penggunaan mesin olah tidak mengganggu kenyamanan dan ketenangan  masyarakat sekitar. Tempat ini juga sangat strategis karena para pelaku budidaya sedang berkembang,dan akses pasar ketempat-tempat lain mudah terjangkau dari tempat ini.

b. Mesin/Peralatan/Teknologi

Pembuatan pakan buatan rumahan ini memerlukan beberapa Mesin/Peralatan/Teknologi guna mendukung proses produksi yaitu, mesin pembuat pellet (food cutter), alat timbang, mesin pres, mixer, terpal, baskom, sendok pengaduk, ayakan

(gambar)

c. Proses Produksi Barang/Jasa

Tahap pertama produksi dilakukan survey target hasil produk pakan ke tempat-tempat pelaku budidaya perikanan dan petani serta mencari dan menentukan tempat memperoleh alat dan bahan untuk proses produksi pakan buatan. Survei pertama untuk pembelian alat dan bahan dilakukan di kota Singaraja, bila tidak ditemukan alat dan bahan yang menunjang untuk proses produksi dilakukan survey ke lokasi lain. Bahan baku keong sawah, dan maggot sudah tersedia di lokasi produksi yaitu desa Kalianget.  Keong sawah didapatkan dari petani yang memang tidak memanfaatkannya karena  sebagai bahan buangan yang bersifat hama. Keong sawah juga mudah untuk dibudidayakan karena temapat hidup hewan ini sangat mudah yaitu menyediakan tempat yang lembap dan cepat berkembangbiak  Maggot diperoleh melalui proses  budidaya dengan menggunakan media bungkil kelapa dan bungkil pisang. Untuk memproduksi pakan buatan rumahan dilakukan melalui beberapa proses pembuatan sampai menjadi pakan buatan.

 

 

d. Kapasitas

Pada tahap awal proses produksi, kami mengolah total bahan baku yang digunakan sebanyak 100 kg.  Dari 100 kg bahan baku akan menyusut sebanyak 10 kg setelah menajadi pellet sehingga pellet jadi yang di hasilkan 90 kg

e. Strategi Usaha

Dalam produksi pakan buatan sekala rumahan dilakukan strategi usaha memanfaatkan bahan baku dari sumber daya alam tempat lokasi produksi yang bukan kebutuhan pokok masyarakat dan tidak layak dikonsumsi secara langsung sehingga dapat menekan biaya produksi pakan tanpa mengurangi kualitas pakan dan kemampuan daya beli petani atau pelaku budidaya, sehingga diperoleh keuntungan yang maksimal dan melakukan promo guna membangun kerjasama dengan petani atau pelaku budidaya perikanan yang berkembang pesat di kabupaten Buleleng. Usaha pakan buatan  berbahan baku keong sawah dan maggot juga mendapat dukungan dan kerjasama dengan Gerakan Kelompok Tani(gapoktan) yang ada di tiap desa. Desa yang telah kami survey memiliki gapoktan yaitu Desa Kalianget, Joanyar, Sulanyah yang merupakan wilayah kecamatan Seririt, sedangkan untuk wilayah kecamatan Banyar desa yang telah mendukung usaha pakan buatan ini adalah desa Banyar, Dencarik, dan Temukus.

f. Analisis Lingkungan

Dampak  terhadap lingkungan yaitu untuk dampak negatif akan di upayakan seoptimal mungkin agar tidak menghasilkan limbah yang dapat merusak lingkungan tapi untuk sisi lain usaha pakan buatan rumahan ini mendukung kelestarian lingkungan dalam hal penggunaan bahan baku yang bersifat hama yaitu penggunaan keong sawah yang merupakan hama bagi petani.

2.3  Aspek Pemasaran

a. Jenis Produk (Barang/Jasa) yang Ditawarkan

Produk yang kami tawarkan pakan buatan yang berbahan baku dari pemanfaatan sumberdaya alam yang tidak  layak dikonsumsi secara langsung oleh manusia yaitu pemanfaatan keong sawah dan maggot dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

b. Kegunaan Produk (Barang/Jasa) yang Ditawarkan

Produk pakan buatan yang kami produksi ini memiliki kegunaan sebagai pakan komoditas perikanan pelaku budidaya air tawar yang sedang berkembang pesat di kabupaten Buleleng yaitu pelaku budidaya lele. Gurame, Nila dan komoditas yang lain.  Pakan buatan berbahan baku keong sawah dan maggot sebagai perbaikan atas mahalnya harga pakan buatan pabrik yang tidak dapat dibeli oleh pelaku budidaya atau petani dengan kualitas yang tidak kalah dengan pakan buatan pabrik.

c. Target Konsumen

Produk yang dihasilkan berupa pakan buatan ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pakan dan menunujang daya beli pelaku budidaya perikanan air tawar  yang sedang berkembang pesat  di kabupaten Buleleng.

d. Wilayah Pemasaran

Pemasaran produk pakan buatan rumahan ini pada tahap awal akan kami pasarkan  langsung ke lokasi tempat pelaku budidaya perikanan dalam sekala kecil ataupun komoditas budidaya perikanan sekala besar yaitu seperti di kawasan seputar lokasi produksi pakan yang telah mempunyai organisasi perkumpulan pelaku budidaya yaitu GAPOKTAN  yang berkembang pesat dan sangat mendukung usaha pakan buatan berbahan baku keong sawah dan maggot ini, selain itu kawasan lain yang terdapat lokasi budidaya perikanan dan untuk tahap lebih lanjut kami akan mengadakan kerjasama dengan toko atau usaha dan jasa penyedia pakan buatan sebagai lokasi pemasaran selanjutunya.

e. Peta Persaingan

Produk pakan buatan rumahan belum banyak atau bahkan belum ada usaha yang sama untuk mengolah dan membuat pakan sekala rumahan di kabupaten Buleleng. Selain itu, produk pakan buatan rumahan ini dapat bersaing dengan pakan buatan pabrik karena harga dari pakan buatan rumahan  lebih murah dengan tetap memperhitungkan kualitas dan tingkat keuntungan yang seimbang.

f. Potensi Pemasaran

Melihat pesatnya perkembangan pelaku budidaya perikanan di kabupaten Buleleng dan hampir tidak ada pesaing yang sama kecuali pakan buatan pabrik yang harganya mahal, produk pakan buatan rumahan optimis bisa diterima baik oleh pasar dan pelaku budidaya. Kawasan produktif budidaya perikanan di sekitar tempat produksi pakan merupakan akses yang sangat bagus dan menjanjikan, dukungan dan kerjasama gerakan kelompok tani di tiap desa merupakan langkah awal perkembangan usaha ini ke depan.  Kawasan  lain tempat pelaku budidaya dan petani juga merupakan potensi bagus pemasaran produk pakan buatan rumahan ini selain itu juga toko atau penyedia jasa  penjualan produk perikanan.

g. Rencana Jumlah dan Harga Produk

Apabila proposal usaha pakan buatan rumahan ini disetujui, pada tahap awal akan memproduksi sebanyak 100 kg dari campuran bahan baku. Pakan dikemas menjadi ukuran 1 kg, 5 kg, 10 kg, dan dipasarkan juga dengan ukuran curah.  Harga jual pakan buatan rumahan ini adalah Rp 10.000 per kg sedangkan harga pakan buatan pabrik di pasaran Rp 13.000

      2.4  Aspek Manajemen

a. Bentuk Usaha

Usaha yang dibuat dalam bentuk industri skala kecil yang dapat diproduksi dengan cara (Home industri) atau industri rumah tangga, dimana usaha ini membutuhkan dana yang tidak begitu besar dalam realisasinya.

b. Struktur Organisasi

Proses produksi pakan buatan rumahan ini, melibatkan 4 orang yang  bekerjasama di dalamnya yaitu Kadek Fendi Wirawan, Kadek Yusandika, Gede Andi Antara, I Made Wiratama yang masing-masing memiliki jabatan dan tanggung jawab diantaranya, Kadek Fendi Wirawan menjabat sebagai direktur utama yang juga sebagai penanggung jawab usaha dan pemasaran, Kadek Yusandika sebagai akunting yang mengatur dan mengawasi keuangan yang masuk dan keluar, Gede Andi Antara dan Made Wiratama bertugas di bagian produksi dan merangkap tugas sebagai penyedia alat dan bahan.

c.  Tenaga Kerja

Usaha pakan buatan rumahan dalam proses produksi awal tidak akan merekrut tenaga kerja lain dalam proses produksi. Dengan 4 orang pada struktur organisasi sudah dapat melakukan proses produksi dengan maksimal dengan jabatan dan fungsi tugas yang sudah ditentukan.  Dan apabila usaha pakan ini nantinya telah berkembang kami akan merekrut tenaga kerja lain mengingat kesibukan kami sebagai mahasiswa.

5  Aspek Ekonomi dan Keuangan

a. Perkiraan Pendapatan

Modal Tetap (MT)

NO Nama Barang Jumlah Biaya
1 Mesin Food Cutter(pellet ikan) kapasitas 100-150 kg/jam 1 Rp. 11.875.000
2 Mixer pencampur pakan(kapasitas 45 kg) 1 Rp. 9.700.000
3 Alat Timbang 1 Rp. 300.000
4 Mesin Press 1 Rp. 700.000
5 Baskom/Wajan 2 Rp .339.000
6 Terpal 2 Rp.150.000
7 Ayakan 2 Rp. 50.000
8 Sendok Pengaduk 2 Rp. 30.000
9 Listrik 380 Volt Rp 200.000
                      JUMLAH Rp. 23.344.000

 

Biaya Tidak Tetap (BTT)

No Nama Bahan Jumlah Biaya
1 Keong Sawah(tepung) 24 kg Rp.96.000
2 Maggot(tepung) 20 kg Rp. 100.000
3 Tepung Terigu 6 kg Rp. 24.000
4 Dedak Halus 14 kg Rp. 28.0000
5 Vitamin dan Mineral 5 kg Rp. 50.000
6 Minyak Ikan 1 Botol Rp. 21.000
7 Tepumg Kedelai 25 kg Rp. 75.000
8 Tepumg Jagung 6 kg Rp. 18.000
                          JUMLAH Rp. 412.000

 

Biaya Tetap (BT)

1 Gaji Produksi dan Penyedia Alat dan Bahan(2 Tenaga) Rp. 3000.000
2 Gaji Akuntan Rp. 1.100.000
3 Gaji Marketing Rp1.100.000
                  JUMLAH Rp. 5.200.000

 

Perhitungan Biaya Umum (BU):

10% dari Biaya Tetap (BT)           = 10% x Rp 5.200.000

= Rp 520.000

 

 

Perhitungan Biaya Penyusutan (BP):

NO Nama Barang(Modal Tetap) Harga/Daya Tahan(bulan) Biaya Penyusutan
1 Mesin Food Cutter(pellet ikan) kapasitas 100-150 kg/jam Rp. 11.875.000/48 bulan Rp 247.395
2 Mixer pencampur pakan(kapasitas 45 kg) Rp. 9.700.000/48 bulan Rp 202.083
3 Alat Timbang Rp. 300.000/24 bulan Rp 12.500
4 Mesin Press Rp. 700.000/36 bulan Rp 19.444
5 Baskom/Wajan Rp .339.000/12 bulan Rp 28.250
6 Terpal Rp.150.000/6 bulan Rp 25 000
7 Ayakan Rp. 50.000/6 bulan Rp 8.333
8 Sendok Pengaduk Rp. 30.000/6 bulan Rp 5000
                      Jumlah Biaya Penyusutan Rp 548.005

 

Pendapatan;

90 kg x Rp. 10.000                                   = Rp. 900.000 (jam)

8 Jam x Rp. 900.000                                 = Rp. 7.200.000 (hari)

30 x Rp.7.200.000                                                = Rp.216.000.000(bulan)

Rasio:

 

 

Perhitungan BEP (Break Event Point):

 

 

= 9.629.629

 

 

b. Perkiraan Biaya

Perkiraan biaya produksi pakan buatan rumahan adalah sebagai berikut :

Penyediaan alat

NO Nama Barang Jumlah Biaya
1 Mesin Food Cutter(pellet ikan) kapasitas 100-150 kg/jam 1 Rp. 11.875.000
2 Mixer pencampur pakan(kapasitas 45 kg) 1 Rp. 9.700.000
3 Alat Timbang 1 Rp. 300.000
4 Mesin Press 1 Rp. 700.000
5 Baskom/Wajan 2 Rp .339.000
6 Terpal 2 Rp.150.000
7 Ayakan 2 Rp. 50.000
8 Sendok Pengaduk 2 Rp. 30.000
9 Listrik 380 Volt Rp 200.000
                      JUMLAH Rp. 23.344.000

 

Penyediaan bahan

No Nama Bahan Jumlah Biaya
1 Keong Sawah(tepung) 24 kg Rp.96.000
2 Maggot(tepung) 20 kg Rp. 100.000
3 Tepung Terigu 6 kg Rp. 24.000
4 Dedak Halus 14 kg Rp. 28.0000
5 Vitamin dan Mineral 5 kg Rp. 50.000
6 Minyak Ikan 1 Botol Rp. 21.00
7 Tepumg Kedelai 25 kg Rp. 75.000
8 Tepumg Jagung 6 kg Rp. 18.000
                          JUMLAH Rp. 412.000

 

c. Kebutuhan Dana

Berdasarkan rincian dana di atas, untuk dapat memproduksi pakan buatan rumahan maka dibutuhkan dana untuk pembelian alat dan bahan dengan perhitungan total sebagai berikut :

Rp.23.344.000 + Rp. 412.000 = Rp.Rp. 23.756.000

d. Alternatif Sumber Dana

Sumber dana untuk dapat mewujudkan usaha produksi pakan buatan rumahan  ini diperoleh dari DIPA Undiksha, besarnya dana yang diperlukan dalam usaha ini adalah Rp 23.756.000-.

  1. II.    Penutup

Usaha pakan buatan rumahan ini sangat bagus dikembangkan dan sangat menjanjikan untuk usaha ke depan, mengingat semakin meningkat dan berkembangnya usaha perikanan sistem budidaya baik dalam sekala besar maupun perikanan sekala rumah tangga yang sepanjang tahun semakin intensif,  membuat fakta  besarnya  kebutuhan pakan para pembudidaya atau petani di kabupaten Buleleng.  Rendahnya daya beli pelaku budidaya terhadap pakan buatan pabrik yang mahal akan teratasi dengan pakan buatan rumahan ini dengan harga yang lebih murah dan kualitas yang tidak kalah, selain itu belum  atau hampir tidak ada usaha  sejenis di kabupaten Buleleng akan memberikan kecendrungan yang sangat besar terhadap berkembangya usaha pakan buatan rumahan ini ke depan nantinya.

Untuk dapat mewujudkan usaha pakan buatan rumahan ini maka bantuan dana sangat diperlukan terutama dalam pembelian alat dan bahan yang digunakan untuk proses produksi pakan buatan.


 

Pakan alami dalam budidaya air laut

Pakan alami adalah organisme hidup baik tumbuhan ataupun hewan yang dapat dikonsumsi oleh ikan.  Pakan alami juga mengandung arti segala bahan makanan yang tersaji dan berasal langsung dari alam. Contoh: Silase atau daun-daunan adalah makanan alaminya ternak (di darat). Fitoplankton dan zooplankton adalah makanan alaminya ikan (di air).  Pakan alami dalam budidaya laut biasanya menghuni wilayah perairan laut yang merupakan sumber makanan utama untuk larva dan juvenile ikan laut.  Pakan alami dapat bergerak aktif dan sehingga mengundang larva ikan untuk memakannya.  Dalam budidaya air laut pakan alami bisa didapat dengan jalan budidaya  maupun menangkap di alam.  Hasil tangkapan pakan alami dari alam  sangat brgantung dengan musim dan kualitasnya sangat beragam.  Karena itulah pakan alami perlu di budidayakan.

Pakan alami, terdiri atas : 1). Pakan Segar (fresh feed atau frozen feed). Adalah pakan segar dan beku dari freezer dimana bentuknya tidak berubah seperti keadaan hidup. Misalnya fito maupun zooplankton beku serta ikan atau udang-udangan beku dll.  2).Pakan Hidup (live food). Adalah pakan yang diberika dalam keadaan masih hidup ketika diberikan kepada hewan kultivan. Pakan ini bias dibiakkan bersama-sama dengan kultur kultivan tapi juga bias dibiakkan terpisah. Misal: fitoplankton Chlorella sp atau zooplankton Brachionus sp atau Artemia sp sebagai pakan yang dibiakkan bersama-sama dengan larva ikan laut dan udang.

Artemia sp merupakan salah satu pakan alami dalam budidaya laut. Pemenuhan artemia sp sebagai kebutuhan pakan alami dilakukan dengan melakukan kultur artemia. Secara taksonomis, klasifikasi sistematika Artemia adalah sebagai berikut:

Phyllum : Arthropoda

Class : Crustacea

Subclass : Branchiopoda

Order : Anostraca

Family : Artemiidae

Genus : Artemia, Leach 1819

Populasi Artemia ditemukan di lebih dari 300 danau air asin baik alamiah

maupun buatan di seluruh dunia ((Sorgeloos et al., 1986). Kemampuan beradaptasi secara fisiologis artemia di kadar garam yang tinggi menjadikan hewan ini satu satunya yang paling efisien pada system osmoregulasinya di kerajaan binatang (Croghan, 1958). Apalagi hewan ini juga mampu mensintesa secara efisien pigmen-pigmen respirasi (haemoglobin) untuk mengatasi rendahnya kadar oksigen di media hidupnya dimana konsentrasi kadar garamnya sangat tinggi (Gilchrist,1954) dan akhirnya dapat memproduksi kista dormannya ketika kondisi lingkungan membahayakan kelangsunganhidupnya. Sehingga Artemia hanya akan ditemukan di perairan dengan kadar garam dimana predatornya tidak bias hidup di dalamnya,yaitu pada 70 ppt (Sorgeloos, et al., 1986). Pada kondisi dimana tidak ada predator dan kompetitor Artemia dapat sering berkembang dalam kultur tunggal (monokultur) yang skala besar, dengan densitas yang terkontrol terutama oleh makanan yang terbatas. Reproduksi ovoviviparous (nauplii sebagai keturunan langsungnya) terjadi biasanya pada tingkat kadar garam yang rendah, sementara kista sebagai hasil reproduksi oviparous diproduksi pada salinitas diatas 150 ppt (Sorgeloos, et. al., 1986).

Kista kering diambil di tambak-tambak garam atau danau-danau garam dan di produksi pada Artemia yang diberi makan fitoplankton alami. Perkembangan terkini menunjukkan bahwa mengkultur nauplii Artemia hingga dewasa sebagai pakan langsung bagi larvae yang lebih besar merupakan sumber protein bagi pakan hewan bahkan untuk manusia(Sorgeloos, 1980). Semenjak munculnya ekspansi lavikultur secara komersial dan mendunia pada ikan laut dan udang dangan yang membutuhkan kista Artemia dalam jumlah banyak, dimana kista kemudian akan ditetaskan menjadi nauplii sebagai pakan larvae, kebutuhan akan adanya Artemia menjadi sangat krusial di industry marikultur.

Kemudahan pemanfaatan Artemia terletak pada keseterdiaan kista kering kemasan yang memuaskan konsumen seperti para akuaris, akuakulturis, ahli ekologi perairan, dan ahli toksikologi lingkungan yang memanfaatkan Artemia sebagai hewan standard di laboratorium. Menurut Kinne (1977) lebih dari 85% hewan laut yang dikultivasi sejauh ini telah diberi Artemia sebagai sumber makanannya baik secara single maupun kombinasi dengan sumber makanan yang lain.

Walau di alam Artemia hanya tumbuh baik pada kadar garam lebih dari 100 ppt, namun Artemia juga masih hidup pada air laut normal. Kenyataannya, batas salinitas terendah dimana Artemia masih ditemukan di alam merupakan batas salinitas tertinggi dimana ikan sebagai predator ditemukan. Berdasarkan penelitian, performa fisiologi seperti laju pertumbuhan dan efisiensi konversi makanan justru paling bagus pada salinitas rendah yaitu pada salinitas air laut 35 ppt (Reeve, 1963). Sehingga, kultur Artemia dalam air laut secara tertutup dari predator baik dari air sendiri maupun udara (insekta) kemudian dikembangkan.

Secara umum, kultur Artemia dilakukan pada beberapa cara :

1). Konstruksi Wadah

Bahan : fibre glass, kayu berlapis plastik, semen

Bentuk: conical, persegi tanpa sudut (lengkung)

Depth : < 100 cm

Size : variatif

2). Sistem Pemeliharaan

Raceway System (air berputar)

Flow Through System (air mengalir)

Batch System without water renewal (Kultur dalam wadah tanpa

ganti air)

3). Pakan

Alga, tepung kedelai, dedak, bungkil kelapa, copepoda, rotifera,

silase ikan, ragi, microcapsulated diets dll

4). Media

Air (20-35 ppt): danau air asin, tambak garam

Secara umum teknik kultur Artemia dengan densitas tinggi memerlukan

beberapa factor pendukung diantaranya sbb:

5).  Pengadukan secara terus-menerus dengan aerasi sehingga semua volume media tercampur dan Artemianya terdistribusi di semua kolom

 

 

 

Sebagai kesimpulan dari uraian diatas, maka ada beberapa pertimbangan mengapa praktisi budidaya mempergunakan Artemia sebagai sumber pakan alami.

Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa:

1. Artemia telah secara intensif dimanfaatkan sebagai pakan di industry aquakultur secara luas, dan kistanya telah tersedia di pasaran di pelbagai sumber yang bias dipercaya kualitasnya.

2. Teknologi untuk memproduksi larvae nauplii dari materi kista Artemia telah

diketahui secara baik

3. Artemia telah dikenal sebagai sumber pakan alami dengan kandungan nutrisi lengkah bagi pelbagai kelompok kultifan krustasea dan ikan baik yang hidup pada media air laut maupun tawar

4. Artemia ditemukan di lebih dari 300 danau air asin dan di tambak-tambak garam di seluruh dunia. Pemanfaatan terbesar Artemia berda di Asia Tenggara yang berasal dari the Great Salt Lake di Utah, U.S.A dimana pemanenan (harvesting), pengeringan (drying), dan pengalengan (canning) dilakukan dibawah lisensi Pemerintah Amerika.

5. Di hampir semua system akuakultur, Artemia disajikan dalam bentuk nauplii segar yang baruI menetas. Namun beberapa praktisi lebih memilih Artemia dewasa yang nilai nutrisi dipercaya lebih baik.

 

Gambar artemia

Indonesia sebagai  Negara Maritime mempunyai potensi hasil perikanan laut yang sangat besar. Sebagai Negara kepulauan yang mempunyai garis pantai terpanjang di dunia 81.000 km lebih mempunyai  potensi laut 6,1 juta ton/tahun dengan potensi lestari untuk usaha penangkapan 4,9 juta/tahun. Namun demikian potensi lestari tersebut sangat sulit untuk ditingkatkan. Kebutuhan dunia akan produk perikanan makin meningkat setiap tahun. Apabila dikonversikan dari program peningkatan konsumsi ikan penduduk Indonesia pada tahun 2003 dengan jumlah penduduk 210 juta jiwa dengan tingkat konsumsi ikan sebesar 26,5 kg/kapita/tahun, maka dibutuhkan persediaan 5,5 juta ton ikan pertahun. Apabila ditambah dengan volume ekspor 1,4 juta/ton dan kebutuhan ikan untuk industri  tepung ikan 0,3 juta ton/tahun maka pada tahun 2003 terjadi kekurangan produksi ikan sebesar 2,3 juta ton/tahun. Tingkat produksi budidaya pada saat ini 1,1 juta ton, berarti untuk mencukupi kebutuhan akan ikan pada tahun tersebut, Indonesia harus meningkatkan produksi budidaya sebesar 1,2 juta ton/tahun. Salah satu usaha budidaya yang masih  terbuka sangat luas adalah budidaya laut.

Usaha budidaya laut merupukan salah satu usaha yang  dapat  member alternative sumber penghasilan untuk meningkatkan pendapatan bagi  nelayan. Apabila  usaha budidaya  berkembang, maka produksi  dapat ditingkatkan baik jumlah maupun mutunya. Dampak  lebih lanjut dari usaha ini adalah kesejahteraan masyarakat  nelayan mengalami peningkatan, dismping itu Negara  diuntungkan karena  adanya peningkatan jumlah  devisa sebagai hasilekspor produk perikanan.

Kerapu tikus merupakan salah satu jenis ikan kerapu yang mempunyai prospek  pemasaran cukup baik dan harganya mahal terutama untuk pasar ekspor. Kalau kita perhatikan  ditingkat pengumpul ikan krapu, maka prosentase kerapu tikus yang tertangkap sangat  kecil dibandingkan dengan kerapu jenis lain. Hal ini yang menyebabkan  kerapu  tikus sulit dijumpai  dipsaran. Permintaan  pasar akan komoditas ini stabil bahkan  cenderung meningkat. Dengan  demikian pengembangan usaha budidaya  kerpau tikus mempunyai  prospek yang sangat cerah. NAmun demikian hal yang masih menjadi  perhatian  utama adalah ketersediaan  benih yang belum  dapat   terpenuhi baik jumlah, mutu maupun berkesinambungan. Benih yang berasal dari alam ketersediaannya belum dapat dipstikan. Benih yang diperoleh dari hatchery jumlahnya masih sangat terbatas hal ini disebabkan kelulushidupan (SR) yang masih rendah dan hatchery baru terdapat di lembaga pemerintah yang sedikit  jumlahnya dan terbatas fasilitasnya.

Memperhatikan hal tersebut, maka usaha pembenihan yang dlakukan baik usaha kecil perorangan, kelompok tani-nelayan maupun pengusaha besar mutlak diperlukan dan  harus segera dikembangkan untuk memenuhi  kebutuhan benih saat ini dan msa yang akan datang. Disamping memenuhi kebutuhan bnih didalam negeri, maka kelebihan benih juga  dapat diekspor ke Negara-negara  yang membutuhkan baik sebagai  ikan  hias maupun  benih budidaya. Hal ini memberikan peluang  tersendiri oleh karena pada saat  ini pembenihan kerapu tikus yang sudah berhasil memproduksi benih secara missal baru di Indonesia dan belum berhasil di negara-negara lain.

2.1      Taksonomi dan Morfologi Kerapu Tikus

Menurut Randall (1987), sistematika kerapu tikus adalah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.1. Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis)

Phylum                            : Chordata

Subphylum                      : Vertebrata

Class                                : Osteichtyes

Sub class                          : Actinopterigi

Ordo                                : Percomorphi

Sub ordo                          : Percoidea

Family                             : Serranidae

Subfamily                        : Epinephelinae

Genus                              : Cromileptes

Spesies                             : Cromileptes altivelis

 

Deskripsi yang dilakukan oleh Swainson cit Randall (1987) menyebutkan kerapu tikus mempunyai sirip dorsal X, 17-19; sirip anal III, 10; sirip pectoral 17-18; sirip garis lateral53-55; sisik berbentuk sikloid; bagian dorsal meninggi berbentuk concave (cembung); tebal tubuh2,6-3,0 inc SL; tidak mempunyai gigi cacine; lobang hidung besar berbentuk bulan sabit vertikal; sirip caudal membulat. Warna kulit terang abu-abu kehijauan dengan bintik-bintik hitam diseluruh kepala, badan dan sirip. Kerapu tikus muda bintik hitamnya lebih besar dan lebih sedikit. Menurut Valenciennes cit Randall (1987) kerapu tikus mempunyai panjang maksimum 70 cm.

 

2.2      Penyebaran dan Habitat

 

Daerah penyebaran kerapu tikus dimulai dari Afrika Timur sampai Pasifik Barat Daya (Valenciennes cit Randall. 1987). Weber dan Beaufort (1931) mengatakan bahwa, di Indonesiaa ikan kerapu banyak ditemukan diperairan Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Pulau Buru dan Ambon. Salah satu indikator adanya kerapu adalah perairan karang, Indonesia memiliki perairan karang yang cukup luas sehingga potensi sumberdaya ikan kerapunya sangat besar (Tampubolon dan Mulyadi, 1989).

Dalam siklus hidupnya, pada umunya kerapu muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5-3 m, selanjutnya menginjak dewasa berupaya keperairan yang lebih dalam antara 7-40 m, biasanya perpindahan ini berlangsung pada siang dan senja hari. Telur dan larva bersifat pelagis sedangkan kerapu muda hingga dewasa bersifat demersal (Tampubolon dan Mulyadi, 1989). Habitat favorit larva dan kerapu tikus muda adalah perairan pantai dengan dasar pasir berkarang yang banyak ditumbuhi padang lamun (Anonymous, 1991).

Powles cit Leis (1987) telah melakukan studi distribusi vertikal pada berbagai jenis larva ikan kerapu dngan menggunakan jaring neuston dan jaring bongo. Larva kerapu pada umumnya menghindari permukaan air pada siang hari, sebaliknya pada malam hari lebih banyak ditemukan dipermukaan air. Penyebaran vertikal tersebut sesuai dengan sifat ikan kerapu sebagai organisme noctural, pada siang hari lebih banyak bersembunyi di liang-liang karang, sedangkan pada malam hari aktif bergerak dikolom air untuk mencari makan.

Parameter-parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu temperatur antara 24-31 oC, salinitas antara 30-33 ppt, kandungan oksigen terlarut lebih besar dari       3,5 ppm dan pH antara 7,8-8,0 (Chua dan Teng, 1978; Yoshimitsu et. al. 1986). Menurut Nybakken (1988) perairan dengan kondisi tersebut diatas pada umumnya terdapat diperairan terumbu karang.

 

2.3      Siklus Reproduksi dan Perkembangan dan Perkembangan Gonad

Ikan kerapu bersifat hermaprodit protogini, yaitu pada perkembangan mencapai dewasa (matang gonad) berjenis kelamin betina dan akan berubah menjadi jantan apabila ikan tersebut tumbuh menjadi lebih besar atau bertambah tua umurnya. Fenomena perubahan jenis kelamin pada kerapu sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin dan ukuran (Smith, 1982). Sedangkan Chen (1977) mengatakan bahwa pada jenis E. diacanthus kecenderungan  perubahan kelamin terjadi selama massa non reproduksi yakni antara umur 2-6 tahun, tetapi perubahan terbaik terjadi antara umur 2-3 tahun dan perubahan itu terus berlangsung sepanjang tahun kecuali dua bulan selama masa kematangan gonad. Secara garis besar dapat dikatakan peralihan perubahan kelamin akan ada selama tidak dalam musim pemijahan, dan perubahan kelamin segera didapati sesudah pemijahan berlangsung.

Pada umumnya kerapu bersifat soliter tetapi pada saat akn memijah bergerombol, di perairan Indo Pasifik puncak pemijahan berlangsung beberapa hari sebelum bulan purnama pada malam hari (Tampubolon dan Mulyadi, 1989). Dari hasil pengamatan diwilayah Indonesia, musim-musim pemijahan ikan kerapu terjadi pada bulan Juni-September dan Nopember-Pebruari terutama di perairan Kep. Riau, Karimun Jawa dan Irian Jaya ( Sugama, 1995).

 

2.4      Perkembangan Larva

Telur fertil berwarna bening atau transparan, melayang-layang di badan air atau mengapung di permukaan air dengan diameter antara 850-950 mikron dan mempunyai gelembung minyak dengan diameter 170-220 mikron terletak pada bagian posterior, sehingga posisi embrio larva nungging ke bawah. Telur yang dibuahi akan mengalami perkembangan lebih lanjut menjadi embrio dan menetas menjadi larva kurang lebih 19 jam sejak telur dibuahi. Telur yang tidak dibuahi akan segera berubah warna menjadi keruh atau putih dan mengendap di dasar air.

Berdasarkan pengamatan mikroskopis dapat diketahui bahwa telur ikan kerapu tikus berbentuk bulat tanpa kerutan, cenderung menggerombol pada kondisi aerasi dan kuning telur tersebar merata. Perkembangan embrional telur sejak pembuahan sampai penetasan membutuhkan waktu paling tidak 19 jam, dimana pembelahan sel pertama kali terjadi 40 menit setelah pembuahan. Pembelahan sel berikutnya berlangsung setiap 15-30 menit sampai mencapai tahap multisel selama 2 jam 25 menit sejak penetasan. Setelah tahap multisel tahap berikutnya adalah blastula, gastrula, neurula, dan embrio. Gerakan pertama pada embrio terjadi kurang lebih pada jam ke 16 setelah pembuahan, selanjutnya telur menetas menjadi larva pada sekitar jam ke 19 pada suhu antara 27-29 oC. Larva yang baru menetas mempunyai panjang badan total antara 1,69-1,79 mm. Mata belum berpigmen, mulut dan anus belum terbuka. Perkembangan berikutnya tubuh semakin panjang, sedangkan kantong telur dan gelembung minyak semakin mengecil. Pembentukan sirip punggung mulai terjadi pada hari pertama. Pada hari kedua sirip dada mulai terbentuk dan jaringan usus telah berkembang sampai ke anus. Berikutnya pada hari ketiga mulai terjadi pigmentasi saluran pencernaan bagian atas dan mulut mulai membuka dengan ukuran bukaan sekitar 75 mikron.

 

2.5      Cara Makan dan Jenis Makanan

Sebagaimana jenis ikan kerapu lainnya, kerapu tikus bersifat carnivora, terutama memangsa larva moluska (trokofor), rotifer, mikrokrustasea, kopepode, dan zooplankton untuk larva; sedangkan untuk ikan kerapu tikus yang lebih dewasa memangsa ikan-ikan kecil, crustacea dan cephalopoda. Menurut Nybakken (1988) sebagai ikan karnivora, kerapu cenderung menangkap mangsa yang aktif bergerak di dalam kolom air. Kerapu mempunyai kebiasaan makan pada siang dan malam hari, lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari (Tampubolon dan Mulyadi, 1989). Berdasarkan prilaku makannya, ikan kerapu menempati struktur tropik teratas dalam piramida rantai makanan ( Randall, 1987). Sebagai ikan karnivora, kerapu mempunyai sifat buruk yaitu kanibalisme. Kanibalisme merupakan salah satu penyebab kegagalan pemeliharaan dalam usaha pembenihan.

3.1     Pembudidayaan Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis)

Kerapu tikus merupakan salah satu jenis ikan kerapu yang mempunyai prospek pemasaran cukup baik dan mahal terutama untuk pasar ekspor. Kalau kita perhatikan ditingkat pengumpul ikan kerapu, maka prosentase kerapu tikus yang tertangkap sangat kecil dibandingkan dengan kerapu jenis lainnya. Hal ini menyebabkan kerapu tikus sulit di jumpai di pasaran. Permintaan pasar akan komoditas ini stabil bahkan cenderung meningkat. Dengan demikian pengembangan usaha budidaya ikan kerapu ini memiliki prospek yang sangat cerah.

Adapun yang harus diperhatikan dalam proses pembudidayaan ikan kerapu tikus yaitu:

1)      Lokasi

Pemilihan lokasi untuk budidaya ikan kerapu memegang peranan yang sangat penting. Permilihan lokasi yang tepat akan mendukung kesinambungan usaha dan target produksi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih lokasi untuk budidaya ikan kerapu ini adalah faktor resiko seperti keadaan angin dan gelombang, kedalaman perairan, bebas dari bahan pencemar, tidak mengganggu alur pelayaran; faktor kenyamanan seperti dekat dengan prasarana perhubungan darat, pelelangan ikan (sumber pakan), dan pemasok sarana. Dan prasarana yang diperlukan (listrik, telpon), dan faktor hidrografi seperti selain harus jernih, bebas dari bahan pencemaran dan bebas dari arus balik, Dan perairannya harus memiliki sifat fisik dan kimia tertentu (kadar garam, oksigen terlarut).

2)      Analisis Produksi

Kerapu merupakan jenis ikan demersal yang suka hidup di perairan karang, di antara celah-celah karang atau di dalam gua di dasar perairan. Ikan karnivora yang tergolong kurang aktif ini relatif mudah dibudidayakan, karena mempunyai daya adaptasi yang tinggi. Untuk memenuhi permintaan akan ikan kerapu yang terus meningkat, tidak dapat dipenuhi dari hasil penangkapan sehingga usaha budidaya merupakan salah satu peluang usaha yang masih sangat terbuka luas.

Dikenal 3 jenis ikan kerapu, yaitu kerapu tikus, kerapu macan, dan kerapu lumpur yang telah tersedia dan dikuasai teknologinya. Dari ketiga jenis ikan kerapu di atas, untuk pengembangan di Singaraja ini disarankan jenis ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). Hal ini karena harga per kilogramnya jauh lebih mahal dibandingkan dengan kedua jenis kerapu lainnya. Di Indonesia, kerapu tikus ini dikenal juga sebagai kerapu bebek atau di dunia perdagangan internsional mendapat julukan sebagai panther fish karena di sekujur tubuhnya dihiasi bintik-bintik kecil bulat berwarna hitam.

3)      Penyebaran dan Habitat

Daerah penyebaran kerapu tikus di mulai dari Afrika Timur sampai Pasifik Barat Daya. Di Indonesia, ikan kerapu banyak ditemukan di perairan Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Pulau Buru, dan Ambon. Salah satu indikator adanya kerapu adalah perairan karang. Indonesia memiliki perairan karang yang cukup luas sehingga potensi sumberdaya ikan kerapunya sangat besar.

Dalam siklus hidupnya, pada umumnya kerapu muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5 – 3 m, selanjutnya menginjak dewasa beruaya ke perairan yang lebih dalam antara 7 – 40 m. Telur dan larvanya bersifat pelagis, sedangkan kerapu muda dan dewasa bersifat demersal. Habitat favorit larva dan kerapu tikus muda adalah perairan pantai dengan dasar pasir berkarang yang banyak ditumbuhi padang lamun.

Parameter-parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu temperatur antara 24 – 310C, salinitas antara 30-33 ppt, kandungan oksigen terlarut > 3,5 ppm dan pH antara 7,8 – 8. Perairan dengan kondisi seperti ini, pada umumnya terdapat di perairan terumbu karang.

Budidaya ikan kerapu tikus ini, dapat dilakukan dengan menggunakan bak semen atau pun dengan menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA). Untuk keperluan studi ini, dipilih budidaya dengan menggunakan KJA. Budidaya ikan kerapu dalam KJA akan berhasil dengan baik (tumbuh cepat dan kelangsungan hidup tinggi) apabila pemilihan jenis ikan yang dibudidayakan, ukuran benih yang ditebar dan kepadatan tebaran sesuai.

4)      Metode Bak Kultur

Seperti  telah disebutkan, bahwa bak kultur yang diperlukan dalam usaha pembenihan adalah: bak atau pematangan induk, bak pemeliharaa larva, dan bak kultur plankton.

  1. 1.      Bak induk

Bak yang dimaksud adalah bak yang digunakan untuk pemeliharaan induk hingga matang gonad bahkan memijah. Pemeliharaan atau pematangan induk dapat dilakukan melalui 2 macam wadah yaitu karamba jarring apung dilaut dan bak secara terkendali di darat.

Bak untuk pemeliharaan induk atau pematangan gonad dapat terbuat dari fiberglass atau pasangan bata. Bak sebaiknya terbentuk bulat, untuk memudahkan dalam pengumpulan telur dan sirkulsi air media akan lebih sempurna.Kapasitas bak  minimal adalah 50 ton dengan kedalaman 2 meter.  Untuk  keperluan dalam pengumpulan telur bak dilengkapi dengan bak penampung telur yang terletak tepat pada pipa pembuangan air yang dibuat pada permukaan bak. Disamping pipa pembuangan pada permukan yang berfungsi untuk mengeluarkan telur, juga harus dilengkapi pipa pembuangan yang terletak pada dasar bagian tengah untuk mengeluarkan kotoran dan pengeringan. Bak  induk seluruhnya ditempatkan dalam ruang terbuka yang mendapatkan cukup matahari.

 

  1. 2.      Bak pemeliharaan larva

Larva kerapu tikus dapat dipelihara dalam bak yang terbuat dari berbagai bahan dan ukuran, namun demikian harus memenuhi beberapa persyaratan yang diperlukan secara teknis dan kemudahan oprasional. Beberapa persyaratan bak larva : terbuat dari bahan yang tidak bereaksi dengan air laut atau bahan kimia, pori-pori bak terutama bagian dalam harus halus sehingga mudah pada saat pembersihan, tahan lama serta harga ekonomis.

Bak Larva harus dilengkapi dengan bak  panen yaitu bak kecil untuk menampung benih sementara pada saat panen. Bak ditempatkan tepat dibagian pipa pembuangan karena pada saat panen, jika  bak larva mempunyai kapasitas sekitar 10 ton, bak panen paling tidak mempunyai ukuran 1x 0,5 x 0,4 meter. Ukuran dan bentuk larva tidak berpengaruh langsung terhadap kehidupan larva.

Larva kerapu tikus, peka terhadap intensitas cahaya yang terlalu kuat, untuk itu bak pemeliharaan larva sebaiknya ditempatkan dalam ruang beratap. Atap dapt terbuat dari bahan asbes atau bahan lain yang tidak transparan. Jika bak ditempatkan dalam ruang tertutup(dilengkapi dengan dinding) atap asbes sebaiknya dikombinasi dengan bahan atap yang transparan sekitar 10 % agar supaya ruangan tidak terlalu gelap.Ketersediaan cahaya ii mempunyai plankton yang terdapat dalam media pemeliharaan dan dapat tetap hidup.

 

  1. 3.      Bak kultur plankton

Sarana kultur plankton yang diperlukan tidak hanya bak untuk kultur missal. Kultur  plankton dilakukan secara bertingkat  mulai kultur murni hingga kultur missal. Untuk keperluan kultur murni diperlukan laboratorium. Seperti halnya untuk pemeliharaan larva, bak untuk keperluan kultur missal plankton dapat teruat dari berbagai bahan dan ukuran. Namun bak yang paling umum adalah bak semen. Ukuran bak disesuaikan dengan kebutuhan plankton setiap harinya, jika bak larva lebih dari 10 bak sebaiknya bak plankton berukuran minimal 50 ton. Hal ini memudahkan dalam pekerjaan dan untuk mengoptimalkan tenaga kerja. Ukuran minimal bak plankton sebaiknya adalah sama dengan bak pemeliharaan larva. Berbagai ukuran bak ini bukan berdasarkan kebutuhan teknis kultur plankton tetapi untuk memudahkan dalam pekerjaan. Pada prinsipnya plankton dapat tumbuh dengan baik dan pada berbagai wadah.

Jumlah bak plankton yang diperlukan harus disesuaikan dengan jumlah bak pemeliharaan larva. Dan hasil penghitungan dan pengalaman, total volume bak plankton minimal 200% dari total volume bak larva. Dari total volume tersebut digunakan untuk kultur fitoplankton dan sisanya untuk zooplankton (rotifer)

Langkah-langkah dalam proses budidaya ikan kerapu yaitu:

1)                  Pemilihan Benih

Kriteria benih kerapu yang baik, adalah : ukurannya seragam, bebas penyakit, gerakan berenang tenang serta tidak membuat gerakan yang tidakberaturan atau gelisah tetapi akan bergerak aktif bila ditangkap, respon terhadap pakan baik, warna sisik cerah, mata terang, sisik dan sirip lengkap serta tidak cacat tubuh.

2)                  Penebaran Benih

Proses penebaran benih sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup benih. Sebelum ditebarkan, perlu diadaptasikan terlebih dahulu panda kondisi lingkungan budidaya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam adaptasi ini, adalah :

(a) waktu penebaran (sebaikanya pagi atau sore hari, atau saat cuaca teduh)

(b) sifat kanibalisme yang cenderung meningkat panda kepadatan yang tinggi

(c) aklimatisasi, terutama suhu dan salinitas.

3)                  Pendederan

Benih ikan kerapu ukuran panjang 4 – 5 cm dari hasil tangkapan maupun dari hasil pembenihan, didederkan terlebih dahulu dalam jaring nylon berukuran 1,5×3×3 m dengan kepadatan ± 500 ekor. Sebulan kemudian, dilakuan grading (pemilahan ukuran) dan pergantian jaring. Ukuran jaringnya tetap, hanya kepadatannya 250 ekor per jaring sampai mencapai ukuran glondongan (20 – 25 cm atau 100 gram). Setelah itu dipindahkan ke jaring besar ukuran 3×3×3 m dengan kepadatan optimum 500 ekor untuk kemudian dipindahkan ke dalam keramba pembesaran sampai mencapai ukuran konsumsi (500 gram).

4)   Pakan dan Pemberiannya

Biaya pakan merupakan biaya operasional terbesar dalam budidaya ikan kerapu dalam KJA. Oleh karena itu, pemilihan jenis pakan harus benar-benar tepat dengan mempertimbangkan kualitas nutrisi, selera ikan dan harganya. Pemberian pakan diusahakan untuk ditebar seluas mungkin, sehingga setiap ikan memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan pakan. Pada tahap pendederan, pakan diberikan secara ad libitum (sampai kenyang). Sedangkan untuk pembesaran adalah 8-10% dari total berat badan per hari. Pemberian pakan sebaiknya pada pagi dan sore hari. Pakan alami dari ikan kerapu adalah ikan rucah (potongan ikan) dari jenis ikan tanjan, tembang, dan lemuru. Benih kerapu yang baru ditebar dapat diberi pakan pelet komersial. Untuk jumlah 1000 ekor ikan dapat diberikan 100 gram pelet per hari. Setelah ± 3-4 hari, pelet dapat dicampur dengan ikan rucah. Produk NASA yang dapat digunakan adalah Viterna dan POC NASA, kedua produk ini dicampur terlebih dahulu menjadi satu. Dosis : 1 tutup botol campuran dari 2 produk NASA tersebut dicampurkan pada 1 liter air, kemudian disemprotkan atau direndam pada 5 kg pelet atau pakan ikan kerapu lainnya. Selanjutnya dikeringanginkan secukupnya sekitar 15 menit, kemudian baru pakan atau pelet ditebar di kolam. Pemberian 1 – 2 kali per hari pemberian pada pagi atau sore hari.

3.2  Faktor Penyebab Timbulnya Penyakit

  1. 1.      Lingkungan

Lingkungan terutama  sifat fisik, kimia dan biologi  perairan sangat mempengaruhi  kesimbangan antara ikan  sebagai inang dan organisasi penyebab penyakit. Lingkungan yang baik akan meningkatkan daya tahan ikan, sedang lingkungan yang kurang baik akan menyebabkan ikan mudah stress dan  dapat menurunkan  daya tahan  tubuh serta rentan terhadap serangan pathogen. Beberapa faktor lingkungan  yang dapat mempengaruhi kesehatan ikan adalah tempratur air, oksigen terlarut,salinitas,bahan oranik, Ammonia dan beberapa senyawa yang bersifat racun seperti pestisida.

  1. 2.      Daya Dukung Perairan

Kepadatan ikan yang melebihi daya dukung perairan akan  menimbulkan persaingan oksigen yang tinggi, sehingga  oksigen  terlarut menjadi rendah dan sisa metabolisme seperti  ammonia akan meningkat sehingga dapat menimbulkan stress dan merupakan penyebab timbulnya penyakit.

  1. 3.      Pakan

Pemberian  pakan yang kurang baik mutunya dapat menyebabkan ikan kekurangan vitamin-vitamin yang akan diikuti oleh pertumbuhan yang lambat atau penurunan daya tahan ikan sehingga ikan mudah terkena penyakit. Selain itu tingkat pemberian pakan dan kualitas pakan yang diberikan juga dapat mempengaruhi  system kekebalan.

Jenis-jenis Penyakit

Penyakit yang terdapat  pada pemeliharaan ikan kerapu tikus disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor pathogenetik dan non pathogenethik.

  1. 1.    Faktor pathogenetik
    1.  Penyakit  cacing, cacing mikroskopik  jenis nematode banyak dijumpai pada air  media  pemeliharaan larva kerapu tikus. Cacing jenis nematode yang ditemukan jumlahnya sangat  banyak, rata-rata berukuran panjang 834 mikro, dengan diameter tengah 88 mikro dan diameter ujung 18 mikro. Penyebab timbulnya  cacing dipemeliharaan ikan disebabkan oleh tingginya  bahan organic terlarut di perairan. Kondisi perairan  yang demikian dapat mempercepat berkembangnya cacing.Dalam usaha pembenihan  ikan kerapu tikus cacing jenis Nematoda perlu mendapat perhatian, karena dapat menyebabkan kegagalan karena banyak menimbulkan kematian dalam jumlah besar.
    2. Cryptocarioniasis

Penyakit ini disebabkan oleh jenis parasit protozoa yaitu Cryptocarioniasis irritans.Gejala yang terlihat  adalah terdapat bintik-bintikputih seperti titik, luka yang tersebar dan terjadi pendarahan pada kulit bagian dalam. Ikan kehilangan nafsu makan, mata membekak, pada sisik-sisik lepas dan terjadi pendarahan  pada kulitnya serta pembusukan pada bagian  sirip akibat terinfeksi bakteri/infeksi sekunder.

Untuk menanggulangi serangan parasit ini dapat dilakukan dengan perendaman baik menggunakan air tawar selama 15 menit atau methylene blue 0,1 ppm selama 30menit. Perendama dapat diulang sebanyak 2-3 kali. Sedangkan  terhadap infeksi sekunder seperti pembusukan dapat dicegah dengan menggunakan acriflavin 10 ppm/jam. Agar penyakit ini tidak mudah menyebar, maka ikan-ikan  yang telah terserang parasit ini harus dipisahkan  sejauh mungkin dari ikan yang sehat. Ikan yang mati atau sakit parah segera ambil dan musnahkan.

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang sering dijumpai pada pemeliharaan  ikan kerapu tikus adalah penyakit Bakterial Fin Rot dan Vibriosis.

Bakterial Fin Rot  atau penyakit sirip rontok disebabkan  oleh serangan baktery Myxobacter sp. Gejala yang diperlihatkan adalah kerusakan terutama pada sirip, ekor, geripis dan menipis pada bagian pangkalnya serta terdapat luka pada bagian spin bagian dorsal. Penanggulangan penyakit ini dilakukan dengan cara perendaman air tawar selama 10-15 menit atau Nitrofurazon 15 ppm selama 24 jam. Perendaman ini dapat dilakukan selam 3 hari berturut-turut.

Vibriosis, penyakit vibriosis disebabkan oleh  bakteri vibrio. Biasanya penyakit ini muncul sebagai pathogen sekunder yang timbul kemudian akibat infeksi  primer oleh protozoa. Gejala yang diperlihatkan adalah nafsu makan berkurang, ikan  tampak lesu, terjadi pembudukan pada  fin rot (bagian sirip),mata menonjol (popeye) dan terjadi pengumpulan  cairan diperut. Penanggulangan penyakit ini dapat dilakukan dengan pemberian 0,5 Oxytetracyclin/kg  pakan selama7 hari. Bila ikan tidak mau makan dapat dilakukan perendaman dengan Nitrofurazon 15 ppm selama 24 jam.

 

  1. 2.  Penyakit yang disebabkan oleh faktor non pathogenetik.

Pada pemeliharaan ikan kerapu tikus ini penyakit yang banyak disebabkan oleh faktor pathogenetis seperti lingkungan. Faktor lingkungan erat kaitannya dengan kualitas air. Kualitas air mempengaruhi kesehatan ikan adalah : tempratur air, oksigen terlarut, salinitas,Ammonia dan beberapa senyawa yang bersifat racun seperti pestisida. Beberapa penyakit non pathogenetik pada larva ikan kerapu tikus adalah

  1. Defiensi oksigen

Penyakit ini disebabkan karena ikan bak pemeliharaan dengan padat penebaran tinggi, kelebihan pakan, kurangnya aerasi system penyaringan yang  kurang baik serta banyaknya kotoran di dasar bak hingga menyebabkan terjadinya dekomposisi bahan organik. Gejala yang diperlihatkan adalah larva ikan  berada  dipermukaan  air, sulit bernafas dan akhirnya menyebabkan kematian dengan kondisi insang pucat,mulut operculum terbuka. Penanggulangannya  jika ikan menunjukkan gejala kekurangan oksigen  jangan  nyalakan aerasi  terlalu besar. Bersihkan dasar bak dengan menyipon perlahan-lahan dan lakukan pergantian air.

  1. Acidosis dan Alkolosis, sebagian besar ikan akan dapat hidup pada pH yang netral yaitu 7 Larva ikan kerapu tikus dapat hidup  pada kisaran pH 6-8. Jika Ph kurang dari 6, ikan akan sulit nafs, bergerak lambat dipinggir-pinggir bak dan akan mencari  udara di permukaan air. Alkoliosis terjadi bila pH mendekati 8 atau lebih. Gejala yang terlihat adalah warna kulit putih agak keruh, sirip mengembang, diikuti dengan kerusakan pada kulit dan insang. Gejala dan penanggulangan penyakit  ini hampir sama dengan penyakit defisiensi oksigen.
  2. Gas Bubble Diseases, kelarutan gas dalam air, khususnya air sebagai media larva ikan budidaya perlu mendapat perhatian  tersendiri, antara lain : kelarutan gas Oksigen dan Nitrogen. Hal ini disebabkan  karena  kandungan  oksigen  dalam air  sudah jenuh (super saturated). Gejala dan penanggulangan  penyakit  ini hampir sama dengan penyakit defiensi oksigen. Selain hal-hal tersebut di atas lewat faktor lingkungan  yang sering menyebabkan timbulnya penyakit adalah kelimpahan plankton, pencemaran dan iklim.

 

3.3  Cara Panen

Panen dilakukan dengan dua tahap yaitu panen dari bak pemeliharaan larva dan dari bak pendederan.

  1. 1.      Panen dari Bak Larva

Panen ini dilakukan setelah larva berumur 40 hari atau sudah menjadi benih yang siap untuk dipindahkan ke dalam bak pendederan, pemindahan ini dilakukan untuk melatih benih agar dapat ikan rucah dalam bak pendederan yang relatif lebih kecil dari bak pemeliharaan larva dengan kondisi media air yang terus mengalir selama 24 jam. Dari hasil pengamatan menunjukkan dengan cara ini benih lebih cepat beradaptasi dengan pakan yang baru berupa cacahan ikan sehingga benih tampak lebih cepat besar  dan benih yang hanya diberi pakan artemia dewasa.

 

  1. 2.      Panen dari Bak Pendederan

Panen dari bak ini dilakukan untuk benih yang akan dipelihara di Karamba Jaring Apung atau benih yang siap untuk dipacking. Yang perlu diperhatikan untuk benih yang akan dipacking adalah pada saat panen benih harus dalam kondisi dipuasakan atau tidak diberi pakan yang disesuaikan dengan tingkat berat dan ukuran. Untuk ukuran kurang 3 gram dipuasakan 12-24 jam sebelumnya, sedangkan untuk ikan yang lebih dari 3 gram, 36-46 jam menjelang pengangkutan. Kondisi benih demikian sangat aman untuk di packing.

 

Pengalaman menunjukkan benih kerapu tikus, bila di packing dalam kondisi kenyang atau di dalam lambung masih tersisa pakan maka pakan tersebut akan dimuntahkan, demikian juga bila waktu mempuasakan tidak tepat sehingga di dalam sistem pencernaan masih tersisa pakan, maka pada saat di packing akan mengeluarkan kotoran yang akan merusak kualitas air yang dapat mengakibatkan kematian pada ikan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan guna mendukung keberhasilan panen, antara lain : persiapan panen, ukuran panen, waktu panen dan cara panen.

  1. Persiapan panen, untuk medapat hasil panen yang maksimal, maka persiapan sebelum dilakukan pemanenan hendaknya disiapkan alat pane yang akan digunakan berupa : skop net, ember, dan jaring.
  2. Ukuran dan waktu panen, ukuran dan umur sangat menentukan kemampuan benih kerapu tikus untuk dipanen, oleh karena itu ukuran ikan hendaknya sudah mencapai 1,5 – 2cm atau ikan sudah berumur lebih dari 40 hari. Waktu panen sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari.
  3. Cara panen, dikurangi air di dalam bak sampai tersisa 1/3 dari volume awal. Ikan digiring dengan waring ke sudut bak, agar mempermudah penangkapannya. Ikan ditangkap dengan skop net dan dimasukkan ke dalam wadah yang siap untuk dimasukkan ke kantong plastik.

 

rekayasa genetika

Bioteknologi merupakan salah satu hasil dari berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Bioteknologi adalah pemanfaatan makhluk hidup untuk mengubah bahan menjadi produk dan jasa, dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmiah. Bioteknologi ini meliputi biologi molekuler, biokimia dan rekayasa genetika. Rekayasa genetika merupakan proses dan teknik untuk menghasilkan produk dan jasa yang melibatkan pemanfaatan mikroba. Rekayasa genetika merupakan alat yang mendasar dari bioteknologi.

Rekayasa genetika (Ing. genetic engineering) adalah penerapan genetika untuk kepentingan manusia. Pengertian tekayasa genetika dalam arti sempit yaitu suatu penerapan teknik-teknik genetika molekular untuk mengubah susunan genetik dalam kromosom atau mengubah sistem ekspresi genetik yang diarahkan pada kebermanfaatan tertentu. Teknologi rekayasa genetika merupakan transplantasi atau pencangkokan satu gen ke gen lainnya dimana dapat bersifat antargen dan dapat pula lintas gen. Oleh karena itu, rekayasa genetika juga diartikan sebagai perpindahan gen. Proses rekayasa genetika pertama kali ditemukan oleh Crick dan Watson pada tahun 1953. Pada tahun 1973 Stanley Cohen dan Herbert Boyer menciptakan bakteri melalui rekayasa genetika untuk pertama kalinya.

Prinsip dasar dalam rekayasa genetika adalah suatu proses penyematan segmen DNA dari organisme apapun ke dalam genom plasmid atau replikon virus untuk membentuk rekombinan DNA baru. Rekayasa genetika telah berperan dalam segala bidang yakni dalam bidang kesehatan, pertanian dan juga industri. Rekayasa genetika juga memiliki keuntungan dan kerugian serta memiliki dampak positif dan negatif terhadap lingkungan dan masyarakat. Salah satu contoh hasil rekayasa genetika di bidang kesehatan yaitu terciptanya hormon insulin hasil rekayasa genetika. Dengan adanya hormon insulin hasil rekayasa genetika maka penyakit diabetes mellitus dapat diatasi.

Berdasarkan hal tersebut maka pada makalah ini akan diuraikan mengenai pengertian, sejarah, prinsip dasar, aplikasi, dampak, serta keuntungan dan kerugian dari rekayasa genetika.

 

2.1      Pengertian Rekayasa Genetika

Rekayasa genetika (Ing. genetic engineering) adalah penerapan genetika untuk kepentingan manusia. Dengan pengertian ini kegiatan pemuliaaan hewan atau tanaman melalui seleksi dalam populasi dan penerapan mutasi buatan tanpa target dapat dimasukkan ke dalam rekayasa genetika. Pengertian tekayasa genetika dalam arti sempit yaitu suatu penerapan teknik-teknik genetika molekular untuk mengubah susunan genetik dalam kromosom atau mengubah sistem ekspresi genetik yang diarahkan pada kebermanfaatan tertentu. Obyek rekayasa genetika mencakup hampir semua golongan organisme, mulai dari bakteri, fungi, hewan tingkat rendah, hewan tingkat tinggi, hingga tumbuh-tumbuhan.. Rekayasa genetika merupakan alat yang mendasar dari bioteknologi, di mana terdapat keterlibatan banyak proses di dalamnya yang terdiri dari:

  1. Tahap isolasi gen.
  2. Modifikasi gen sehingga berfungsi sesuai yang diinginkan.
  3. Mempersiapkan gen untuk disisipkan ke dalam organisme baru.
  4. Kemudian pengembangan transgenik atau GMO’s.

Teknologi rekayasa genetika merupakan transplantasi atau pencangkokan satu gen ke gen lainnya dimana dapat bersifat antargen dan dapat pula lintas gen. Oleh karena itu, rekayasa genetika juga diartikan sebagai perpindahan gen. Misalnya gen pankreas babi ditransplantasikan ke bakteri Escheria coli sehingga dapat menghasilkan insulin dalam jumlah yang besar. Sebaliknya gen bakteri yang menghasilkan toksin pembunuh hama ditransplantasikan ke tanaman jagung maka akan diperoleh jagung transgenik yang tahan hama tanaman. Domba Dolly dihasilkan dari hasil transplantasi gen atau gen yang satu dipindahkan ke gen yang lain. Demikian pula gen tomat ditransplantasikan ke ikan transgenik sehingga ikan menjadi tahan lama dan tidak cepat busuk dalam penyimpanan. Rekayasa genetika dalam bibit pangan nabati telah berkembang dengan luas begitu juga produk rekayasa genetika pada hewan misalnya produksi hormon untuk peningkatan kuantitas maupun kualitas dari pangan hewani. Dengan adanya produk-produk rekayasa genetika tersebut dapat dikatakan bahwa produk rekayasa genetika khususnya bahan pangan mengintroduksi unsur toksis, bahan-bahan asing dan berbagai sifat yang belum dapat dipastikan dan berbagai karakteristik lainnya.

2.2      Sejarah Perkembangan Rekayasa Genetika

Rekayasa genetika dapat dianggap sebagai cabang biologi maupun sebagai ilmu-ilmu rekayasa (keteknikan). Hal ini muncul dari usaha-usaha yang dilakukan untuk menyingkapi material yang diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain. Rekayasa ini muncul ketika orang mengetahui bahwa kromosom adalah material yang membawa bahan gen. Penemuan struktur DNA menjadi titik yang paling pokok karena dari sinilah orang kemudian dapat menentukan bagaimana sifat dapat diubah dengan mengubah komposisi DNA, yang adalah suatu polimer bervariasi. Tahap-tahap penting berikutnya adalah serangkaian penemuan enzim restriksi (pemotong) DNA, regulasi (pengaturan ekspresi) DNA (diawali dari penemuan operon laktosa pada prokariota), perakitan teknik PCR, transformasi genetik, teknik peredaman gen (termasuk interferensi RNA), dan teknik mutasi terarah (seperti Tilling). Sejalan dengan penemuan-penemuan penting itu, perkembangan di bidang biostatistika, bioinformatika dan robotika/automasi memainkan peranan penting dalam kemajuan dan efisiensi kerja bidang ini.

Pada awalnya, proses rekayasa genetika ditemukan oleh Crick dan Watson pada tahun 1953. Rekayasa genetika merupakan suatu rangkaian metode yang canggih dalam perincian akan tetapi sederhana dalam hal prinsip yang memungkinkan untuk dilakukan pengambilan gen atau sekelompok gen dari sebuah sel dan mencangkokkan gen atau sekelompok gen tersebut pada sel lain dimana gen atau sekelompok gen tersebut mengikat diri mereka dengan gen atau sekelompok gen yang sudah ada dan bersama-sama mengalami reaksi biokimiawi. Pada dasarnya rekayasa genetika memanipulasi DNA (asam deoksiribosenuklat). Gen atau pembawa sifat yang bisa diturunkan dalam mahkluk terdiri dari rantai DNA. Rekayasa genetika menyeleksi gen DNA dari suatu organisme ke organisme lainnya. Pada awalnya, perkembangan tersebut hanya antara satu jenis mahkluk hidup, tetapi kini perkembangan sudah sedemikian maju sehingga bisa dimungkinkan untuk memindahkan gen dari satu jenis mahkluk hidup ke mahkluk hidup lainnya yang berbeda jenisnya, sebagai contohnya adalah gen ikan yang hidup di daerah dingin dipindahkan ke dalam tomat untuk mengurangi kerusakan akibat dari pembekuan.

Pada tahun 1973 Stanley Cohen dan Herbert Boyer menciptakan bakteri melalui rekayasa genetika untuk pertama kalinya. Kemudian tahun 1981, pertama kali di kembangkan tikus dan lalat buah produk rekayasa genetika, menyusul pada tahun 1985 Plant Genetic Systems (Ghent, Belgium), sebuah perusahaan yang didirikan oleh Marc Van Montagu dan Jeff Schell, merupakan perusahaan pertama yang mengembangkan tanaman tembakau toleran terhadap hama dengan mengambil protein insektisida dari bakteri Bacillus thuringiensis.

2.3      Prinsip- prinsip Dasar Rekayasa Genetika

Zaman rekayasa genetika dimulai ketika Dr. Paul Berg dari Stranford University di California USA dan usaha sekelompok peneliti lainnya, yaitu Dr Stanley Cohen dan Dr Annie Chang dari Stranford University serta Dr Herbert Boyer dan Dr Robert Helling dari University of California di San Fransisco menemukan bahwa bahan-bahan tertentu yang dinamakan enzim pembatas mampu bertindak sebagai “gunting biologi”, yaitu dapat mengenal dan kemudian secara kimia memotong tempat-tempat khusus sepanjang molekul DNA. Enzim-enzim yang mampu menggunting suatu gen dari DNA suatu makhluk tersebut  ternyata dapat pula memotong tempat-tempat serupa dalam molekul DNA dari mahkluk berkaitan.

Sebuah penemuan penting lainnya ialah suatu enzim disebut ligase, membiarkan suatu gen yang digunting dari suatu molekul DNA ditempelkan pada tempat serupa dalam DNA mahkluk tak berkaitan. Hibrid yang terbentuk dari cara ini disebut DNA rekombinan.  Selama ini lebih dari 200 enzim pembatas telah ditemukan, dan dengan demikian tersedialah beraneka ragam gunting biologi untuk memotong gen-gen yang diinginkan dan mencangkokkannya ke rumah-rumah baru. Para ahli genetika kini dimungkinkan untuk membongkar sel-sel bakteri, virus, hewan, dan tumbuhan untuk diambil DNA-nya dengan menggunakan enzim-enzim pembatas. Akan tetapi mengambil DNA dari suatu mahkluk dan memasukkannya ke dalam makhluk lain bukanlah sekedar pekerjaan memotong dan menempel. Suatu gen harus diikutsertakan untuk dipindahkan ke suatu pengangkut khusus, yaitu vektor. Sekelompok vektor yang bermanfaat adalah plasmid-plasmid, yaitu ikalan-ikalan  DNA kecil yang terdapat dalam sel bakteri diluar kromosomnya. Sebuah plasmid dapat diambil dari bakteri, ikalan dibuka dengan enzim pemotong, fragmen DNA baru dapat dimasukkan dan plasmid itu dikembalikan ke bakteri. Selanjutnya setiap kali bakteri itu membelah diri menjadi dua, dan plastid rekombinan juga membelah diri. Dengan demikian DNA rekombinan itu terus membuat klon-klon DNA dari dirinya.

Secara singkat prinsip rekayasa genetika dapat dijelaskan sebagai suatu proses penyematan segmen DNA dari organisme apapun ke dalam genom plasmid atau replikon virus untuk membentuk rekombinan DNA baru. Sebagai sel inang molekul baru ini dapat berupa “sel prokariotik” atau sel eukariotik tergantung dari titik awal replikasi yang ada pada vektor. Enzim endonuklease restriksi memungkinkan pemotongan rantai DNA, yang menghasilkan ujung-ujung bersifat lekat atau kohesif dan dapat digabungkan lagi dengan perantaraan enzim ligase DNA.

Teknologi DNA Rekombinan

Bersama dengan beberapa metode manipulasi biokimiawi dan biologi lainnya, metoda-metoda pembelahan dan penggabungan molekul-molekul DNA ini dikembangkan menjadi suatu bioteknologi yang dinamakan Teknologi DNA Rekombinan. Potensinya pertama kali ditunjukkan oleh Stanley Cohen dari Universitas Stanfordd bersama Herbert Boyer dari ECSF (1972).

Langkah-langkah utama dalam Teknologi DNA Rekombinan ini adalah:

  1. Penyiapan gen yang akan diklon dan vektor untuk kloning Gen, berupa fragmen DNA yang akan diklon dapat disiapkan melalui beberapa cara:
    1. Jika fragmen DNA yang dimaksud dapat diidentifikasi dan dikarakterisasi, fragmen DNA tersebut dapat langsung dipakai.
    2. Kadang-kadang fragmen DNA yang diinginkan sulit diidentifikasi, tetapi membawa fungsi yang dapat diseleksi dan diungkapkan dalam sel inang. Dalam kasus ini dapat dilakukan cloning shotgun (senapan tabor). Klon yang tepat dapat diseleksi dengan uji biologik.
    3. Dalam kasus-kasus tertentu hanya mRNA yang dapat diperoleh. DNA kopi (cDNA) dapat direkontruksi dari mrna dengan enzim transcriptase balik.
    4. Jika eksperimen dimulai dengan data rangkaian asam amino dari proteinnya, suatu gen sintetik dapat direkontruksi menurut aturan kode genetik dengan menggunakan metode-metode sintesa DNA.

Kebanyakan segmen DNA tidak memiliki kemampuan bawaan untuk mereplikasi sendiri. Bahkan suatu segmen DNA yang dapat mereplikasi dalam sel inang aslinya tidak selalu memiliki syarat-syarat genetik spesifik yang diperlukan untuk mereplikasi dalam lingkungan yang berbeda. Untuk memproduksinya dalam sintesis biologi ia harus diintegrasi ke dalam molekul DNA yang mengandung gen-gen yang mengkode fungsi replikasi dalam inang yang sesuai. Molekul yang demikian ini disebut vektor.

Untuk kloning dalam berbagai organisme telah dikembangkan sistem-sistem inang vektor tertentu yang berbeda-berbeda. Ada empat macam vector yang telah dikembangkan untuk kloning DNA dalam Escherichia coli, yaitu plasmid, fag, kosmid, dan plasmid. Plasmid adalah molekul-molekul DNA lingkar kecil yang dapat mereplikasi sendiri dalam sel bakteri. Selain mengandung gen perlu untuk replikais, kebanyakkan plasmid mengandung juga satu gen yang mengkode suatu enzim yang berguna untuk inangnya, misalnya menggangu aksi antibiotik spesifik. Gen ini disebut faktor R (‘resistansi’) yang memberi pada sel inangnya ketahanan  terhadap antibiotik tersebut. Sifat ini sangat berguna untuk menyeleksi klon yang diinginkan. Karena itu adalah penting bahwa plasmid dapat dibelah oleh enzim restriksi tanpa menggangu kemampuan plasmid untuk mereolikasi dan atau untuk memberi resistensi antibiotik.

Vektor-vektor baru telah dikonstruksi untuk meningkatkan frekuensi pemasukan molekul DNA rekombinan dan memudahkan penyeleksian bakteri yang mengandungnya. Sebagai contoh plasmid Pbr 322 terdiri dari 4326 nukleotida dan mengandung gen-gen yang teresistansi terhadap tetrasiklin dan ampisilin. Vektor lainnya adalah fag. Sebagian besar DNA-nya tidak penting untuk infeksi dan dapat diganti dengan DNA asing. Mutan-mutan fag yang dirancang untuk kloning DNA telah dikonstruksi. Hampir semua partikel-partikel fag yang dibentuk akan mengandung DNA asing yang disisipkan. Kelebihan penggunaan virion-virion ini sebagai vektor ialah bahwa virion akan memasuki bakteri dengan frekuensi lebih tinggi dari plasmid. Molekul-molekul DNA rekombinan dapat dikemas in vitro untuk membawa virion-virion yang infektif.

Kosmid adalah vektor lain yang dikonstruksikan dari plasmid normal dan tempat cos (ujung kohesif) dari fag λ. Plasmid normal diurutkan dari fag λ dan plasmid Col E1.

  1. Pembentukan Molekul DNA Rekombinan
  2. Pemasukan Molekul DNA Rekombinan Ke Sel Inang

Kebanyakan sel bakteri prokariot dan eukariot mengambil molekul-molekul DNA telanjang dari medium. Chang, Cohen dan Hsu (1972) menemukam bahwa jika membran sel E.coli dibuat permeabel dengan perlakuan Kalsium klorida, molekul DNA rekombinan dapat dimasukkan. Efisiensi pengambilan sangat rendah, sekitar 1.1, tetapi sel cukup dapat ditransformasi dalam kondisi eksperimen yang tepat. Efisiensi pemasukan akan lebih besar jika sel-sel target ditransfeksi dengan virion-virion yang telah dirakit ulang.

  1. Seleksi Klon Yang Mengandung Molekul DNA Rekombinan

Walaupun frekuensi pemasukan molekul DNA rekombinan ke dalam sel inang sangat rendah, klon sel-sel yang mengandung molekul rDNA dapat diseleksi dengan mudah berdasarkan adanya vektor atau gen yang disisipkan. Misalnya sel yang mengandung faktor R akan tetap hidup dan berlipat ganda dalam medium yang mengandung antibiotik yang sesuai, sedangkan sel-sel lainnya mati. Pendekatan lain adalah menentukan sel-sel mana yang menambat RNA komplementer terhadap gen yang diamati. Klon-klon yang mengandung rDNA stabil untuk beberapa ratus generasi.

Penelitian genetika bergantung pada satu prinsip pokok, yaitu bahwa organisme-organisme memiliki persamaan dan perbedaan daripada kedua induknya. Informasi genetik dari organisme dibawa dalam molekul-molekul yang disebut asam nukleat. Semua organisme yang tubuhnya terdiri atas  sel-sel menggunakan asam dioksiribonukleat (DNA) untuk menyimpan informasi genetik. Beberapa tipe asam ribonukleat (RNA) memindahkan informasi genetik tadi dan membuat protein yang sangat dibutuhkan sel-sel hidup. Sebaliknya, beberapa mikroba, virus dan viroid menggunakan RNA untuk menyimpan informasi genentik.

2.4      Aplikasi Rekayasa Genetika dalam Berbagai Aspek Kehidupan

2.4.1    Rekayasa Genetika dalam Aspek Pertanian

Pada dasarnya rekayasa genetika di bidang pertanian bertujuan untuk menciptakan ketahanan pangan suatu negara dengan cara meningkatkan produksi, kualitas, dan upaya penanganan pascapanen serta prosesing hasil pertanian. Peningkatkan produksi pangan melalui revolusi gen ini ternyata memperlihatkan hasil yang jauh melampaui produksi pangan yang dicapai dalam era revolusi hijau. Di samping itu, kualitas gizi serta daya simpan produk pertanian juga dapat ditingkatkan sehingga secara ekonomi memberikan keuntungan yang cukup nyata. Adapun dampak positif yang sebenarnya diharapkan akan menyertai penemuan produk pangan hasil rekayasa genetika adalah terciptanya keanekaragaman hayati yang lebih tinggi.

Aplikasi teknologi DNA rekombinan di bidang pertanian berkembang pesat dengan dimungkinkannya transfer gen asing ke dalam tanaman dengan bantuan bakteri Agrobacterium tumefaciens. Melalui cara ini telah berhasil diperoleh sejumlah tanaman transgenik seperti tomat dan tembakau dengan sifat-sifat yang diinginkan, misalnya perlambatan kematangan buah dan resistensi terhadap hama dan penyakit tertentu.

1.       Pemuliaan Tanaman

Pada dasarnya prinsip pemuliaan tanaman, baik yang modern melalui penyinaran untuk menghasilkan mutasi maupun pemuliaan tradisional sejak zaman Mendel, adalah sama, yakni pertukaran materi genetik. Baik seleksi tanaman secara konvensional maupun rekayasa genetika, keduanya memanipulasi struktur genetika tanaman untuk mendapatkan kombinasi sifat keturunan (unggul) yang diinginkan.

Bedanya, pada zaman Mendel, kode genetik belum terungkap. Proses pemuliaan dilakukan dengan “mata tertutup” sehingga sifat-sifat yang tidak diinginkan kembali bermunculan di samping sifat yang diharapkan. Cara konvensional tidak mempunyai ketelitian pemindahan gen. Sedangkan pada new biotechnology pemindahan gen dapat dilakukan lebih presisi dengan bantuan bakteri, khususnya sekarang dengan dikembangkannya metode-metode DNA rekombinan.

2.       Varietas baru

Apa yang ingin dilakukan oleh para ahli genetika ialah memasukkan gen-gen spesifik tunggal ke dalam varietas-varietas tanaman yang bermanfaat. Hal ini akan meliputi dua langkah pokok. Pertama, memperoleh gen-gen tertentu dalam bentuk murni dan dalam jumlah yang berguna. Kedua, menciptakan cara-cara untuk memasukkan gen-gen tersebut ke kromosom-kromosom tanaman, sehingga mereka dapat berfungsi.

Langkah yang pertama bukan lagi menjadi masalah. Dengan teknik DNA rekombinan sekarang, ada kemungkinan untuk menumbuhkan setiap segmen dari setiap DNA pada bakteri. Tidak mudah untuk mengidentifikasi segmen khusus yang bersangkutan di antara koleksi klon. Khususnya untuk mengidentifikasi segmen tertentu yang bersangkutan di antara koleksi klon, apalagi untuk mengidentifikasi gen-gen yang berpengaruh pada sifat-sifat seperti hasil produksi tanaman.

Langkah kedua, memasukkan kembali gen-gen klon ke dalam tanaman juga bukan sesuatu yang mudah. Peneliti menggunakan bakteri Agrobacterium yang dapat menginfeksi tumbuhan dengan lengkungan kecil DNA yang disebut plasmid Ti yang kemudian menempatkan diri sendiri ke dalam kromosom tumbuhan. Agrobacterium merupakan vektor yang siap pakai. Tambahkan saja beberapa gen ke plasmid, oleskan pada sehelai daun, tunggu sampai infeksi terjadi, setelah itu tumbuhkan sebuah tumbuhan baru dari sel-sel daun tadi. Selanjutnya tumbuhan itu akan mewariskan gen baru kepada benih-benihnya.

Rekayasa genetika pada tanaman tumbuh lebih cepat dibandingkan dunia kedokteran. Alasan pertama karena tumbuhan mempunyai sifat totipotensi (setiap potongan organ tumbuhan dapat menjadi tumbuhan yang sempurna). Hal ini tidak dapat terjadi pada hewan, kita tidak dapat menumbuhkan seekor tikus dari potongan kepala atau ekornya. Alasan kedua karena petani merupakan potensi besar bagi varietas-varietas baru yang lebih unggul, sehingga mengundang para pebisnis untuk masuk ke area ini.

2.4.2    Rekayasa Genetika dalam Aspek Kesehatan

1.       Sebagai alat penelitian sikuensi generasi DNA dan RNA

Teknologi rekombinasi DNA menjadi alat penelitian yang essensial pada genetika molekul modern. Mutasi dihasilkan dalam klon gen dan memungkinkan mengisolasi suatu gen dan memasukkan kembali dalam sel hidup atau bahkan dalam sel germinal. Disamping menghemat waktu dan tenaga, mutasi genetik mampu mengkonstruksi mutan yang secara praktis tidak dapat dibuat dengan berbagai cara.

Perkembangan teknik gene cloning pada tahun 1970-an memberikan motivasi kuat bagi dunia riset untuk mempelajari gen dan aktivitasnya dengan teknik atau prosedur kedua terjadi pada akhir tahun 1980-an dengan ditemukannya teknologi PCR (Polymerase Chain Reaction. Dengan teknik ini kita dapat memperbanyak DNA dalam tabung reaksi sehinga memberikan kemudahan aplikasi di berbagai bidang, mialnya mengamplifikasi gen tertentu untuk sequencing, cloning, fingerprinting  dan mendeteksi pathogen. Ditemukannya enzim Taq polymerase pada bakteri termofilik (Thermus aquaticus) yang dapat bekerja pada suhu tinggi (960C) merupakan dasar teknik PCR karena enzim ini dapat mensintesis molekul DNA dalam tabung reaksi dengan cara mengatur temperature dari alat yang disebut thermocycler.

Salah satu aplikasi PCR yang mencengangkan adalah dalam bidang kedokteran forensik. Teknik PCR dapat digunakan untuk mengamplifikais DNA dari suatu sampel yang jumlahnya sangat sedikit, misalnya sehelai rambut, cairan tubuh seperti sperma atau darah bahkan dari tulang manusia yang sudah berumur ratusan tahun. Hasil amplifikasi tersebut selanjutnya dapat dianalisis dengan DNA fingerprinting (sidik jari DNA) sehingga dapat dijadikan sebagai bukti dalam menentukan pelaku kejahatan, misalnya perkosaan.

Teknik PCR juga dapat digunakan untuk mengungkap keanekaragaman genetik mikrobia tanpa harus melakukan kultivasi terlebih dahulu. Hal ini membawa konsekuensi yang penting dalam ekologi mikrobia karena aktivitas populasi mikrobia dalam suatu habitat dapat dipantau melalui DNA fingerprinting dan sequencing terhadap DNA amplikon yang diperoleh dari sample tanah atau air.

  1. Mempercepat Produksi Zat anti  Kanker. Teknik  kultivasi bioreaktor ini juga telah berhasil dilakukan untuk memproduksi zat anti kanker dari beberapa spesies tanaman Taxus.
  2. Menghasilkan Anti Bodi. Prinsip rekayasa genetika merupakan terobosan penting di dalam pembuatan serangan virus, bakteri dan bahan-bahan protein lainnya. Anti-bodi pada umumnya diperoleh dari darah binatang, tetapi sekarang dapat dibuat melalui cara melebur sel-sel tumor yang potensial menghasilkan antibodi dengan sel-sel yang benar-benar bisa membuat sebuah  antibodi yang penting.  Sel hibrida kemudian melanjutkan pembelahan dan membentuk sebuah klona sel-sel yang berkembang cepat (seperti layaknya sel-sel tumor) menghasilkan antibodi yang dibutuhkan. Teknik hibrida ini menghasilkan antibodi monoklonal. Antibodi monoklonal ini sangat berguna untuk mengembangkan produk diagnostik, immunoterapetik dan uji kehamilan
  3. Dalam bidang kesehatan, industri farmasi adalah yang pertama kali memperkenalkan potensi bioteknologi termasuk rekayasa genetik, dan telah membuka pendekatan bans dalam pengembangan obat. Rekayasa genetilk mempunyai dampak terhadap perbaikan dan keamanan produk, dan memberikan pemecahan teknis dalam penyebarluasan pemakaian obat dengan bahan baku yang terbatas. Misalnya, sejak tahun 1982 telah dipasarkan insulin sebagai hasil pemanfaatan rekayasa genetik dalam industri. Dengan mengambil bagian yang mengatur pembuatan insulin pada sel-sel Langerhans manusia, dimasukkan ke dalam kuman E.Coli. Kuman ini dapat menghasilkan insulin yang sama dengan insulin manusia.
  4. Pengembangan Antibiotik. Pada segi lain penerapan DNA rekombinan untuk pengobatan terbuka bagi pengembangan antibiotik. Kepentingan untuk pengembangan antibiotik dengan teknik ini didukung oleh kenyataan nilai penjualan dan keuntungan perdagangan antibiotik yang menduduki tempat teratas dewasa ini. Suatu hal yang perlu dicatat adalah, antibiotik bukan merupakan produk gen primer, tetapi lebih merupakan produk metabolit sekunder, dimana pembentukan antibiotik dalam sel melalui reaksi yang dikatalisir oleh enzim protein sebagai produk gen primer. Obat ini memiliki struktur kimia yang berbeda satu dengan lain dan memiliki kesamaan aksi sebagai penghambat pertumbuhan bakteri. Pada umumnya antibiotik dihasilkan oleh mikroba golongan aktinomisetes, dan biasanya dari jenis streptomises. Dalam perdagangan, ada beberapa kelompok besar antibiotik yang memegang peranan seperti penisilin,sefalosporin, dan tetrasiklin. Kelompok antibiotik lainnya adalah yang termasuk makrolida polien, streptomisin, eritromisin, rifampisin, bleomisin dan antrasiklin yang mempengaruhi segi-segi metabolisme sel yaitu dari replikasi DNA sampai kepada pembentukan protein. Sekurangnya ada tiga saluran penerapan DNA rekombinan dalam produksi antibiotik: melalui penyempurnaan produk, modifikasi invivo, dan anti- biotik hibrida
  5. Penyediaan Vaksin. Vaksin juga adalah suatu produk dalam bidang kesehatan yang bisa didekati dengan rekayasa genetik. Kegiatan penelitian terhadap hepatitis B adalah sebuah contoh. Melalui rekayasa genetik gen dari virus hepatitis B telah diklonakan, dan strukturnya telah diketahui pada tingkat nukleotida, kendatipun virusnya belum dapat dikembangkan di dalam sel jaringan biakan. Antigen permukaan yang diperlukan untuk memproduksi vaksin ini adalah suatu masalah yang sulit untuk dipecahkan, dalam arti sulit mencapai modifikasi yang cocok dari antigen, dan itu tidak akan terjadi pada pembawa prokariotik. Jalan untuk mengelakkan diri dari masalah yang muncul akibat penggunaan sistem pembawa eukariotik, adalah dengan menggunakan ragi atau sel binatang sebagai pembawa, yang dalam beberapa segi lebih menguntungkan

2.4.3    Rekayasa Genetika Dalam Aspek Industri

        1.       Pembuatan sel yang mampu mensintesis molekul yang penting secara ekonomi

Gen dari spesies bakteri yang berbeda dapat memetabolisme beberapa komponen minyak, dapat disematkan dalam plasmid dan dapat digunakan untuk mengubah spesies bakteri laut, yang kemudian dapat memetabolisme minyak untuk membersihkan tumpahan minyak di laut. Beberapa perusahaan bioteknologi merencanakan bakteri yang dapat mensintesis bahan kimia atau memecah limbah industri. Bakteri dirancang mampu memecah bahan buangan secara lebih efisien, mengikat nitrogen (untuk meningkatkan fertilitas tanah) dan membuat organisme yang dapat mengubah limbah biologi menjadi alkohol. Obat-obatan dan molekul penting komersial lain dihasilkan dalam sel rekayasa genetik. Apabila bioteknologi dalam bidang industri meliputi rekayasa bakteri untuk memecah limbah berbahaya, penggunaan selulosa oleh yeast untuk menghasilkan glukosa dan alcohol untuk bahan baker, penggunaan algae laut untuk bahan makanan dan substansi lain yang bermanfaat. Saccharomyces cerevisiae yang telah dimodifikasi dengan plasmid yang berisi dua gen selulase, yaitu endoglucanase dan exogluconase, dapat mengubah selulosa menjadi glukosa. Glukosa kemudian diubah menjadi ethyl alcohol oleh yeast. Yeast ini sekarang mampu mencerna kayu (selulosa) dan mengubah secara langsung menjadi alkohol.

Kemajuan industri dan bergesernya pola hidup manusia telah melahirkan bencana sampah plastik yang tidak dapat diuraikan oleh mikrobia. Hal ini menimbulkan masalah karena akan mencemari lingkungan dan menurunkan ualitas lingungan hidup. Salah satu upaya yang dilakukan dalam bioteknologi adalah menghasilkan biodegradable plastic yang dibuat dari bahan dasar polyhydroxy butirate (PHB) yang dihasikan oleh mikrobia. Plastik tersebut jika dibuang akan mengalami biodegradasi oleh mikrobia karena bahannya merupakan produk alami yang dapat terurai secara alami pula. Perkembangan penelitian dalam bidang ini telah mengupayakan pemindahan gen yang bertanggung jawab terhadap biosintesis PHB bakteri Alcaligenes eitrophus kedalam tanaman Arabidopsis thaliana. Tanaman transgenik tersebut akan menghasilkan PHB yang banyak sehingga dapat diproduksi dalam skala besar untuk menghasilkan bahan dasar plastik yang dapat terurai dan tidak akan mencemari lingkungan.

2.4.4    Rekayasa Genetika Dalam Aspek Lingkungan

          Rekayasa genetika ternyata sangat berpotensi untuk diaplikasikan dalam upaya penyelamatan keanekaragaman hayati, bahkan dalam bioremidiasi lingkungan yang sudah terlanjur rusak. Dewasa ini berbagai strain bakteri yang dapat digunakan untuk membersihkan lingkungan dari bermacam-macam faktor pencemaran telah ditemukan dan diproduksi dalam skala industri. Sebagai contoh, sejumlah pantai di salah satu negara industri dilaporkan telah tercemari oleh metilmerkuri yang bersifat racun keras baik bagi hewan maupun manusia meskipun dalam konsentrasi yang kecil sekali. Detoksifikasi logam air raksa (merkuri) organik ini dilakukan menggunakan tanaman Arabidopsis thaliana transgenik yang membawa gen bakteri tertentu yang dapat menghasilkan produk untuk mendetoksifikasi air raksa organik.

 

 

2.5      Dampak Rekayasa Genetika

Rekayasa genetika selain memberikan banyak manfaat, juga memberikan dampak negatif terhadap makhluk hidup dan lingkungan. Adapun beberapa dampak yang diakibatkan oleh rekayasa genetika adalah sebagai berikut.

(a).    Dampak rekayasa genetika terhadap kesehatan

Satu-satunya gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh penggunaan hasil rekayasa genetika adalah reaksi alergis. Hal ini terkait dengan jenis makanan yang dikonsumsi oleh manusia.

(b).   Dampak rekayasa genetika terhadap lingkungan

Dampak negatif dari rekayasa genetika terhadap lingkungan dapat muncul diakibatkan oleh sisa-sisa hasil rekayasa yang tidak dibersihkan secara maksimal. Sebagai contoh, apabila tanaman hasil rekayasa genetika tidak dibersihkan, maka dikhawatirkan dapat membunuh jasad renik dalam tanah bekas penanaman tanaman tersebut.

(c).    Dampak rekayasa genetika terhadap religi dan etika

Dampak negatif rekayasa genetika secara religi dan etika dikarenakan dalam rekayasa genetika memungkinkan untuk dihasilkan suatu produk yang dalam tubuh manusia yang sakit tidak dapat dihasilkan. Sebagai contoh, penggunaan obat insulin yang diproduksi dari transplantasi sel pankreas babi ke sel bakteri, serta xenotransplatation yang menggunakan katup jantung babi ditransplantasikan ke jantung manusia memberikan kekhawatiran terhadap mereka yang beragama Islam.

2.5      Keuntungan dan Kerugian Rekayasa Genetika

Produk hasil rekayasa genetika memiliki beberapa kelebihan dan juga kekurangan. Adapun kelebihan dari produk rekayasa genetika adalah sebagai berikut.

  1. 1.    PRG yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman.

PRG telah memberikan keuntungan kepada petani yaitu dengan menekan pengeluaran biaya untuk pembelian pestisida. Selain itu, PRG juga mengurangi hilangnya pasar akibat penolakan konsumen atas komoditas yang tercemar oleh pestisida, serta dapat menekan rusaknya lingkungan akibat penggunaan pestisida yang berlebihan dalam pengendalian hama dan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman B.t. corn dapat secara nyata menekan aplikasi pestisida dan mengurangi hilangnya biaya pengendalian OPT.

  1. PRG toleran terhadap jenis herbisida.

PRG ini memberikan keuntungan biaya dalam mengatasi gulma karena petani tidak memerlukan penggunaan herbisida dalam jumlah besar dengan berbagai jenis herbisida.Tanaman hasil rekayasa genetika tersebut resisten terhadap jenis herbisida,contohnya strain kedele hasil rekayasa genetika Mosanto yang tidak memiliki efek negatif apabila diaplikasikan herbisida jenis Roundup.

  1. PRG tahan terhadap serangan penyakit tanaman.

Beberapa cendawan, virus, dan bakteri banyak menimbulkan kerugian. Para pakar fitopatologi telah banyak menemukan beberapa varietas tanaman hasil rekayasa genetika yang tahan terhadap seranagan penyakit.

  1. PRG toleran terhadap dingin.

Gen antibeku dari ikan air dingin telah diintroduksi ke beberapa tanaman diantaranya tembakau dan tomat, sehingga tanaman dapat mentolelir terhadap suhu dingin yang pada tanaman biasa dapat mengakibatkan kerusakan pada proses perkecambahan.

  1. PRG toleran terhadap kekeringan atau salinitas.

PRG ini mampu bertahan pada kondisi lingkungan yang kering dan tanah yang mengandung garam yang tinggi.

  1. PRG sebagai tambahan nutrisi.

PRG dapat membantu menambah kekurangan jenis vitamin tertentu, seperti strain golden rice yang merupakan varietas PRG padi yang ditambahkan vitamin A mampu mencegah kebutaan pada penduduk di negara-negara berkembang.

  1. PRG sebagai obat atau vaksin.

Vaksin yang disisipkan pada produk tanaman seperti pada tanaman tomat atau kentang lebih memeudahkan dalam proses pengiriman dan penyimpanan, dibandingkan dengan vaksin injeksi.

  1. PRG sebagai phytoremediation.

PRG tumbuhan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi polusi logam berat dalam tanah.

Produk rekayasa genetika selain memiliki kelebihan, juga memiliki kelemahan. Beberapa kelompok pemerhati lingkungan, organisasi keagamaan, dan para ahli menganggap bahwa pemanfaatan PRG akan menimbulkan bahaya terhadap lingkungan, kesehatan, dan tidak ekonomis.

  1. 1.    Bahaya lingkungan.

Bahaya lingkungan yang mungkin diakibatkan oleh penggunaan produk rekayasa genetika antara lain :

  1. Kematian organisme bukan target. Hasil penelitian laboratorium menunjukkan bahwa varietas jagung B.t. telah menyebabkan kematian yang tinggi pada ”monarc butterfly caterpillars” meskipun serangga ini tidak menyerang tanaman jagung. Hal ini karena pollen jagung B.t terbawa oleh angin ke tanaman milkweed yang merupakan inang ”monarc butterfly caterpillars”.
  2. Penurunan efektifitas dari pestisida. Penggunaan PRG tumbuhan yang tahan terhadap hama secara terus menerus dapat menstimulir munculnya gen-gen baru hama yang tahan/resisten terhadap beberapa jenis pestisida.
  3. Transfer gen kepada spesies yang tidak menjadi target. Kasus munculnya ”superweeds” yang sangat resisten terhadap herbisida akibat penggunaan PRG (soybean roundup). Hal ini terjadi karena adanya transfer gen dari PRG tumbuhan ke gulma.
  4. 2.    Gangguan kesehatan.

Gangguan kesehatan yang mungkin diakibatkan oleh penggunaan produk rekayasa genetika anatara lain:

  1. PRG dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi manusia, antara lain :
  2. Alergi. Beberapa produk makanan yang berasal dari PRG menimbulkan dampak alergi terhadap manusia. Intoduksi gen tertentu seperti gen kacag-kacangan ke dalam tanaman kedelai dapat menimbulkan reaksi allergi yang berpengaruh terhadap ketahanan tubuh.
  3. Pengaruh lain yang belum diketahui. Pengaruh PRG terhadap kesehatan masih terus diteliti, akan tetapi berdasarkan penomena yang telah terjadi seperti kasus cross polinasi dan kasus alergisitas, para ahli berpendapat kemungkinan reaksi buruk yang lain dapat terjadi.

 

  1. 3.    Pertimbangan ekonomi.

Penggunaan PRG dinilai tidak ekonomis dan merugikan petani, karena untuk menghasilkan PRG membutuhkan biaya yang tinggi dan selanjutnya PRG ini biasanya dipatenkan oleh penciptanya. Biaya penelitian dan hak paten PRG akan dibebankan kepada pengguna (petani) melalui penjualan PRG yang mahal. Selain itu, PRG pada umumnya tidak menghasilkan keturunan dan digunakan hanya satu kali tanam. Kondisi ini tentunya menimbulkan ketergantungan yang tinggi petani terhadap benih PRG oleh perusahaan penghasil PRG. Hasil penelitian oleh lembaga penelitian dan universitas terkemuka di AS (1989) menyebutkan bahwa varietas kedelai PRG menghasilkan panen yang lebih rendah dibandingkan dengan varietasnonPRG. PRG yang mengandung B.t ternyata tidak secara nyata mengurangi penggunaan pestisida seperti yang terjadi pada penanaman kapas PRG di Sulawesi Selatan, dan kasus kedelai RR yang ternyata tidak menurunkan pemakaian herbisida. Kondisi di atas membuktikan bahwa penggunaan PRG menurunkan keuntungan petani. Benbrook (1999) melaporkan bahwa petani di  AS harus mengeluarkan biaya tambahan 12 % karena menanam kedelai PRG.

 

Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa:

  1. Rekayasa genetika adalah suatu penerapan teknik-teknik genetika molekular untuk mengubah susunan genetik dalam kromosom atau mengubah sistem ekspresi genetik yang diarahkan pada kebermanfaatan tertentu.
  2. Rekayasa genetika pertama kali ditemukan oleh Crick dan Watson pada tahun 1953. Pada tahun 1973 Stanley Cohen dan Herbert Boyer menciptakan bakteri melalui rekayasa genetika untuk pertama kalinya.
  3. Prinsip rekayasa genetika dapat dijelaskan sebagai suatu proses penyematan segmen DNA dari organisme apapun ke dalam genom plasmid atau replikon virus untuk membentuk rekombinan DNA baru.
  4. Aplikasi rekayasa genetika dalam berbagai aspek kehidupan adalah sebagai berikut.
    1. Dalam Aspek Pertanian, memanipulasi struktur genetika tanaman untuk mendapatkan kombinasi sifat keturunan (unggul) yang diinginkan.
    2. Dalam Aspek Kesehatan, rekayasa genetika dapat digunakan sebagai alat penelitian sikuensi generasi DNA dan RNA dan koreksi kelainan genetik yang potensial pada hewan dan terapi gen.
    3. Dalam Aspek Industri, rekayasa genetika dapat digunakan dalam pembuatan sel yang mampu mensintesis molekul yang penting secara ekonomi.
  5. Rekayasa genetika selain memberikan banyak manfaat, juga memberikan dampak negatif terhadap makhluk hidup dan lingkungan.
  6. Rekayasa genetika dapat memberikan keuntungan dan kerugian bagi kehidupan.                                           DAFTAR PUSTAKA
  7. Arbianto, Purwo. 1994. Biokimia Konsep-Konsep Dasar. Bandung : ITB.
  8. Campbel dan Reece-Mitchell. Biologi Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

    D. Watson James, dkk. 1983. DNA Rekombinan SuatuPelajaran Singkat. Jakarta: Erlangga.

    Henyhili, Victoria dan Suratsih. 2003. Common TextBook Genetika. Yogyakarta : UNY.

    Ketut Sarna, dkk. 2001. Buku Ajar Genetika. Singaraja : IKIP N Singaraja.

    Sindumarta, Muliawati dan Dessy Natalia. 1983. Biokimia II: Metabolisme dan Informasi Genetika. Bandung : ITB.

     

    Suryo. 1990. Genetika. Bandung : ITB.

1.1  Latar Belakang

 

Masa depan hobi dan industri ikan hias air laut bergantung dari usaha bersama

semua pihak yang terlibat dalam menjamin bahwa perdagangan ikan hias dilakukan secara berkelanjutan, bertanggung jawab, dan ramah lingkungan. Belakangan ini industri ikan hias air laut banyak menerima kritikan dari pihak luar karena adanya praktek praktek penangkapan ikan hias dan pengumpulan koral yang merusak lingkungan.Misalnya, ikan hias asal Indonesia dan Philipina mempunyai citra yang buruk di matakonsumen karena dianggap ditangkap dengan menggunakan potasium sianida (KCN).Citra yang buruk semacam ini merugikan para pelaku industri yang selama ini mengutamakan kualitas dan bekerja keras untuk menghindari praktek-praktek merusak lingkungan.

Salah satu alat yang digunakan dalam pemanfaatan produk ikan hias air laut yang berkelanjutan adalah dengan menggunakan standar dalam mendidik dan mensertifikasi semua pihak yang terlibat dalam pengambilan dan pemeliharaan ikan hias dan koral mulai dari habitatnya di terumbu karang sampai akuarium.

Kedepan, trend pengembangan teknologi penangkapan ikan hias ditekankan pada teknologi penangkapan ikan hias yang ramah lingkungan (enviromental friendly fishing tecnology) dengan harapan dapat memanfaatkan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan. Teknologi penangkapan ikan  hias ramah lingkungan adalah suatu alat tangkap yang tidak memberikan dampat negatif terhadap lingkungan, yaitu sejauh mana alat tangkap tersebut merusak dasar perairan, kemungkinan hilangnya alat tangkap, serta kontribusinya terhadap polusi. Faktor lain adalah dampak terhadap bio-diversity dan target resources yaitu komposisi hasil tangkapan, adanya by catch serta tertangkapnya ikan-ikan muda.

 

1.2  Rumusan Masalah

  1. Bagaimana Penangkapan Hias Yang Ramah Lingkungan
  2. Bagaimana Penggunaan Alat Selam Pada Penangkapan Ikan Hias

 

 

1.3  Tujuan

  1. Untuk Mengetahui Cara Penangkapan Ikan Hias Yang Ramah Lingkungan
  2. Untuk Mengetahui Penggunaan Alat Selam Pada Penangkapan Ikan Hias

 

 BAB II PEMBAHASAN

 

2.1  Penangkapan Ikan Hias Yang Ramah Lingkungan

Banyak teknologi yang digunakan tidak memperhatikan kelestarian lingkungan termasuk di dalamnya lingkungan perairan. Lingkungan perairan ini menjadi korban dari ulah kegiatan manusia yang tidak bertanggung jawab, seperti pembuangan limbah rumah tangga maupun industri yang menyebabkan pencemaran. Kegiatan dibidang perikanan seperti penangkapan ikan  hias yang menggunakan  racun dan alat-alat tangkap yang membahayakan kelestarian sumberdaya ikan juga merupakan salah satu faktor yang merusak lingkungan perairan. Sumberdaya ikan, meskipun termasuk sumberdaya yang dapat pulih kembali (renewable resources) namun bukanlah tidak terbatas. Oleh karena itu perlu dikelola secara bertanggungjawab dan berkelanjutan agar kontribusinya terhadap ketersediaan nutrisi, peningkatan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan. Pengelolaan sumberdaya ikan hias sangat erat kaitannya dengan pengelolaan operasi penangkapan ikan hias dan sasaran penangkapan ikan hias  yang dilakukan. Usaha-usaha untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan hias  dari ancaman kepunahan, sebenarnya telah dilakukan sejak lama oleh berbagai ahli penangkapan ikan di seluruh dunia. Sebagai contoh, industri penangkapan ikan hias di Laut Utara telah melakukan berbagai usaha untuk mengurangi buangan hasil tangkap sampingan (by catch) lebih dari seratus tahun yang lalu.
Selain hal tersebut di atas, untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan perlu juga dilihat dari penggunaan alat-alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan yaitu dari segi pengoperasian alat penangkapan ikan, daerah penangkapan dan lain sebagainya sesuai dengan tata laksana untuk perikanan yang bertanggungjawab atau Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF).

Ekosistem terumbu karang merupakan gantungan hidup bagi masyarakat yang hidup di daerah pesisir, baik secara langsung maupun tidak langsung.Bergantung secara langsung dengan mengambil sumberdaya terumbu karang untuk kebutuhan hidup. Tidak langsung, berhubungan dengan fungsi terumbu karang melindungi pulau tempat tinggalnya. Ikan hias merupakan salah satu sumberdaya ekosistem terumbu karang yang menghidupi sebagian besar masyarakat . Dan penangkapan ikan hias ini juga menimbulkan konflik di dalam masyarakat. Sebagian masyarakat yang tidak melakukan penangkapan ikan hias menuduh penangkap ikan hias sebagai perusak ekosistem terumbu karang. Dan hal tersebut tidak dapat dipungkiri karena pada kenyataannya memang sebagian nelayan untuk menangkap ikan-ikan hias tertentu masih menggunakan potas atau racun sianida. Prinsip-prinsip tentang penangkapan ikan hias laut adalah Pengumpulan ikan harus dikelola sedemikian rupa sehingga: Penggunaan bahan-bahan kimia untuk menangkap ikan dilarang. Untuk memudahkan penangkapan ikan, hanya boleh menggunakan tongkat/daun kelapa

Masalah yang sering terjadi dalam kegiatan penangkapan ikan hias laut yang berasal dari terumbu karang adalah tingginya tingkat kematian Mengapa ikan hias hasil tangkapan tersebut mudah mati? Ada beberapa sebab yang sering menjadi sumber kematian ikan hias tersebut, dan kesemua ini berkaitan dengan prinsip penangkapan ikan hias ramah lingkungan. Dalam kegiatan penangkapan ikan hias di terumbu karang yang ramah lingkungan, ada serangkaian kriteria yang harus dilaksanakan. Penangkapan ikan hias ramah lingkungan mencakup:Tata cara penangkapan, Penanganan dan penyimpanan,Persyaratan lain yang berkaitan dengan perawatan dan prinsip-prinsip.

Tata cara penangkapan ikan hias, penggunaan alat selam merupakan salah satu dari beberap[a bagian terpenting yang harus diketahui oleh nelayan penangkap ikan hias air laut.

2.2 Penggunaan Alat Selam Pada Penangkapan Ikan Hias

Penangkapan ikan hias yang ramah lingkungan tidak lepas dari pengetahuan penggunaan alat selam dan aspek fisiologisnya untuk  nelayan. Walaupun nelayan hanya menggunakan snorkel untuk menangkap ikan hias tapi ilmu selam dan pengetahuan selam sangat dibutuhkan oleh para nelayan.Seperti : Snorkel, Masker/gogel,Fins.

Penglihatan di dalam air sangat buruk, maka diperlukan alat yaitu masker. Alat tersebut memberikan rongga udara antara mata dan air, sehingga penglihatan akan lebih jelas dan dapat melindungi terhadap iritasi air pada mata.Sewaktu menyelam, masker akan mendapat tekanan hidrostatis. Oleh karena itu, pemakaian masker tidak boleh terlalu ketat dan selalu mengadakan equalisasi (penyesuaian tekanan) dengan menghembuskan udara ke dalam masker melalui hidung, maka hidung harus diikutsertakan ke dalam masker. Dengan alasan inilah kenapa goggle (kacamata renang) tidak dapat digunakan untuk menyelam.Masker mempunyai kelemahan sebagai akibat dari kombinasi sudut bias dan indeks bias antara air, kaca, dan udara yang menyebabkan benda-benda akan terlihat ¡¾2 kali lebih besar dan ¡¾1/2 kali lebih dekat.Untuk mendapatkan masker yang baik dan sesuai dengan kegunaannya, perlu memperhatikan ciri-ciri masker sebagai berikut:

1. Safety tempered glass

2. Frame terbuat dari bahan anti karat

3. Double seal/skirt yang lentur untuk wajah

4. Nose pocket/kantung hidung

5. Ikat kepala/strap dilengkapai dengan buckle

6. Katup Kuras

Snorkel adalah sebuah pipa yang dipergunakan untuk bernapas bagi penyelam di permukaan air, berguna untuk skin diving sewaktu beristirahat di permukaan. Melalui snorkel seorang penyelam dapat mudah bernapas tanpa harus menegakkan kepala keluar dari air saat berada di permukaan, sehingga dapat bebas mengamati keadaan bawah air. Panjang pipa ¡¾ 30 cm, apabila lebih maka akan bertambah besar volume ruang udara mati (dead air space) yang dapat mengurangi udara baru yang masuk ke dalam paru-paru.

Snorkel biasanya digantungkan di sebelah kiri masker pada penyelaman, namun dapat juga di depan atau sebelah kanan, tergantung tipe snorkel.

Teknik napas melalui snorkel dengan menghembuskan udara terlebih dahulu, kemudian membuang napas, hal ini untuk menghindari adanya air yang masuk melalui ujung pipa yang terbuka.Untuk mengetahui ujung pipa snorkel berada diatas permukaan, dapat di cek dengan dipegang oleh tangan kiri. Untuk mengetahui ujung pipa sudah masuk ke dalam air biasanya akan terdengar air masuk ke pipa snorkel pada telinga sebelah kiri atau kanan.

Fins digunakan untuk menambah daya kayuh penyelam sehingga menambah laju pergerakan dalam air, bukan untuk kecepatan. Teknik pemakaian ayunan kaki perlahan namun kuat serta santai. Fin yang diindonesiakan dengan istilah “sirip selam” atau “kaki katak” diciptakan untuk memberi kekuatan pada kaki dan merupakan piranti penggerak. Fins bukan dibuat demi menambah kecepatan berenang namun menambah daya kayuh. Dengan bantuan fins kemampuan renang kita bertambah 10 kali lebih besar dibanding tanpa menggunakan fins.

 

 

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Ikan hias di Indonesia memang melimpah, sumberdaya ikan, meskipun termasuk sumberdaya yang dapat pulih kembali (renewable resources) namun bukanlah tidak terbatas. Oleh karena itu perlu dikelola secara bertanggungjawab dan berkelanjutan agar kontribusinya terhadap ketersediaan nutrisi, peningkatan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan.Penangkapan ikan hias yang ramah lingkungan sebagai gerakan awal dan berkelanjutan untuk proses perbaikan

Pengetahuan dan penggunaan alat selam pun harus mumpuni sebagai penunjang keselamata nelayan dalam mencari dan memanfaatkan ikan hias yang ramah lingkungan

 

 

3.2 Saran

Hendaknya kita sebagai semesta pembicaraan lebih arif dalam memanfaatkan sumber daya alam,agar tetap lestari. Dan dapat menggunakan alat alat sebagai penunjang keselamatan.

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

 

 

1.1  LATAR BELAKANG

 

Ilmu mengenai perikanan di Indonesia relatif masih baru. Akhir-akhir ini ilmu tentang perikanan banyak dipelajari mengingat ikan merupakan salah satu sumberdaya yang penting. Sebelum kita membahas lebih lanjut pengertian ikhtiologi, sebaiknya perlu diketahui tentang “Apakah Ikan itu?“. Ikan merupakan salah satu jenis hewan vertebrata yang bersifat poikilotermis, memiliki ciri khas pada tulang belakang, insang dan siripnya serta tergantung pada air sebagai medium untuk kehidupannya. Ikan memiliki kemampuan di dalam air untuk bergerak dengan menggunakan sirip untuk menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak tergantung pada arus atau gerakan air yang disebabkan oleh arah angin. Dari keseluruhan vertebrata, sekitar 50,000 jenis hewan, ikan merupakan kelompok terbanyak di antara vertebrata lain memiliki jenis atau spesies yang terbesar sekitar 25,988 jenis yang terdiri dari 483 famili dan 57 ordo. Jenis-jenis ikan ini sebagian besar tersebar di perairan laut yaitu sekitar 58% (13,630 jenis) dan 42% (9870 jenis) dari keseluruhan jenis ikan. Jumlah jenis ikan yang lebih besar di perairan laut, dapat dimengerti karena hampir 70% permukaan bumi ini terdiri dari air laut dan hanya sekitar 1% merupakan perairan tawar.

 

Mengapa ilmu tentang perikanan perlu dipelajari?. Selain ikan merupakan salah satu sumberdaya yang penting, nilai-nilai kepentingan yang lain dari ikan antara lain dapat memberikan manfaat untuk rekreasi, nilai ekonomi atau bernilai komersial, dan ilmu pengetahuan untuk masayarakat. Ikhtiologi atau “Ichthyology“ merupakan salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari ikan secara ilmiah dengan penekanan pada taksonomi dan aspekaspek lainnya. Kata ikhtiologi berasal dari pengertian ichtio = ikan dan logos = ilmu, jadi di dalam ikhtiologi ini dicakup beberapa aspek baik mengenai aspek biologi maupun ekologi ikan. Dalam mempelajari ihktiologi ini tidak terlepas dari ilmu-ilmu yang lain karena saling berkaitan. Beberapa cabang ilmu pengetahuan yang sangat terkait dengan ikhtiologi ini antara lain Taksonomi Vertebrata, Morfologi dan Anatomi Hewan, Fisiologi, Genetika, dan Evolusi. Informasi yang digunakan dalam mempelajari hubungan evolusioner ikan berawal dari pengetahuan taksonomi terutama deskripsi ikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.2  PERUMUSAN MASALAH

 

1.2.1 Apa dan Bagaimana system seksualitas ikan?

1.2.2 Bagaimana Macam-Macam Telur Ikan dan Bagiannya?

1.2.3 Bagaimana Proses Pembuahan  Ikan?

 

 

 

 

 

 

1.3  TUJUAN PENULISAN

 

1.3.1 Untuk Mengetaghui System Seksualitas Ikan

1.3.2 Untuk Mengetahui Macam-Macam Telur Ikan dan Bagiannya

1.3.3 Untuk Mengetahui Proses Pembuahan Ikan

 

 

 

 

 

 

 

 

1.4  MANFATAT PENULISAN

 

Manfaat dari penulisan makalah ini adalah Untuk mengetahui pola kehidupan ikan laut secara ikhtiologi baik dari system seksualitas ikan, macam macam telur ikan dan bagian-bagiannya, dan juga adanya informasi yang mendukung tentang proses pembuahan ikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II KAJIAN PUSTAKA

 

 

 

Pemijahan sebagai salah sattu  bagian dari reproduksi merupakan  mata rantai daur hidup  yang menentukan kelangsungan hidup spesies. Penambahan populasi  ikan bergantung kepada berhasilnya pemijahan ini dan juga bergantung kepada kondisi dimana telur dan larva ikan kelak berkembang. Oleh karena itu  sesungguhnya pemijahan menuntut  suatu kepastian untuk keamanan kelangsungan hidup keturunannya denagn memiluih tempat, waktu,dan kondisi yang menguntungkan. Berdasarkan hal ini pemijahan tiap spesiea ikan mempunyai kebiasaan  yng berbeda tergantung habitat  pemijahan itu untuk melangsungkan prossesnya. Dalam keadaan normal ikan melangsungkan pemijahan minimum  satu kali dalam satu daur hidupnya seperti yang terdapat pada ikan salmon  dan sidat. Sesudah melakukan pemijahan , induk ikan tersebut mati karena kehabisan tenaga.

Hampir semua ikan pemijahannya berdasarkan reproduksi sxsual yaitu terjadinya persatuan sel produksi organ seksual yang berupa telur dari ikan betina  dan spermatozoa dari ikan jantan. Dari persatuan kedua macam sel tersebut akan terbentuk individu baru  yang akan menambah besarnya populasi. Persatuan kedua macam sel sex  tadi ada yang terjadi di dalam  tubuh (pembuahan di dalam atau fertilisasi normal) dan ada pula yang terjadi diluar  tubuh (fertilisasi eksternal). Ikan yang mengadakan fertilisai internal mempunyai perlengkapan tubuh untuk memastikan berhasilnya fertilisasi tadi dengan organ khusus untuk keperluan ini. Organ tersebut biasabya terdapat pada ikan jantan saja ,seperti clasper,pada golongan ikan elasmobranchia,pterygopod pada golongan ikan pari (masih elasmobranchia), gonmopodium pada familli  poeciliidae dan beberapa spesies lainnya. Ikan elasmobranchia pada umumnya melakukan fertilisasi internal, sedangkan ikan teleost  yang telah diketahui  melakukan hal ini adalah  family poeciliidae goodidae, yeniinsidae, dan anablepidae.

Sehubungan dengan pemijahan, dikenal ada tig macam ikan yaitu vivipar, ovovivipar, dan ovipar. Ikan vivipar dan ovovivipar ialah ikan yang melahirkan anak-anaknya sedangkan ikan ovipar ialah ikanyang mengeluarkan telur pad waktu terjadi pemijahan. Perbedaan antara  ikan vivipar dan ikan ovovivipar terletrak pada perkembangan telur  yang di kandung dan keadaan anak-anaknya pada waktu dilahirkan.

 

 

 

 

 

BAB III PEMBAHASAN

 

 

3.1SEKSUALITAS IKAN

 

Pada prinsipnya, seksualitas hewan terdiri dari dua jenis kelamin yaitu jantan dan betina. Begitu pula seksualitas pada ikan, yang dikatakan ikan jantan adalah ikan yang mempunyai organ penghasil sperma,sedangkan ikan betina adalah ikan yang mempunyai organ penghasil telur. Suatu populasi terdiri dari ikanikan yang berbeda seksualitasnya, maka populasi tersebut disebut populasi heteroseksual, bila populaitersebut terdiri dari ikan-ikan betina saja maka disebut monoseksual. Namun, penentuan seksualitas ikan di suatu perairan harus berhati-hati karena secara keseluruhan terdapat bermacam-macam seksualitas ikanmulai dari hermaprodit sinkroni, protandri, protogini, hingga gonokorisme yang berdiferensiasi maupun yang tidak.

 

Ikan hermaprodit mempunyai baik jaringan ovarium maupun jaringan testis yang sering dijumpai dalam beberapa famili ikan. Kedua jaringan tersebut terdapat dalam satu organ dan letaknya seperti letak gonad yang terdapat pada individu normal. Pada umumnya, ikan hermaprodit hanya satu sex saja yang berfungsi pada suatu saat, meskipun ada beberapa spesies yang bersifat hemaprodit sinkroni. Berdasarkan perkembangan ovarium dan atau testis yang terdapat dalam satu individu dapat menentukan jenis hermaproditismenya.

a. Hermaprodit sinkron/simultaneous. Dalam gonad individu terdapat sel kelamin betina dan sel kelamin jantan yang dapat masak bersama-sama dan siap untuk dikeluarkan. Ikan hermaprodit jenis ini ada yang dapat mengadakan pembuahan sendiri dengan mengeluarkan telur terlebih dahulu kemudian dibuahi oleh sperma dari individu yang sama, ada juga yang tidak dapat mengadakan pembuahan sendiri. Ikan ini dalam satu kali pemijahan dapat berlaku sebagai jantan dengan mengeluarkan sperma untuk membuahi telur dari ikan yang lain, dapat pula berlaku sebagai betina dengan mengeluarkan telur yang akan dibuahi sperma dari individu lain. Di alam atau akuariumyang berisi dua ekor atau lebih ikan ini, dapat menjadi pasangan untuk berpijah. Ikan yang berfasebetina mempunyai tanda warna yang bergaris vertikal, sesudah berpijah hilang warnanya dan berubah menjadi ikan jantan. Contoh ikan hermaprodit sinkroni yaitu ikan-ikan dari Famili

Serranidae.

b. Hermaprodit protandrous. Ikan ini mempunyai gonad yang mengadakan proses diferensiasi dari fase jantan ke fase betina. Ketika ikan masih muda gonadnya mempunyai daerah ovarium dan daerah testis, tetapi jaringan testis mengisi sebagian besar gonad pada bagian lateroventral. Setelah jaringan testisnya berfungsi dan dapat mengeluarkan sperma, terjadi masa transisi yaitu ovariumnya membesar dan testis mengkerut. Pada ikan yang sudah tua, testis sudah tereduksi sekali sehingga sebagian besar dari gonad diisi oleh jaringan ovarium yang berfungsi, sehingga ikan berubah menjadi fase betina. Contoh ikan-ikan yang termasuk dalam golongan ini antara lain Sparus auratus, Sargus annularis, Lates calcarifer (ikan kakap).

c. Hermaprodit protoginynous. Keadaan yang sebaliknya dengan hermaprodit protandri. Proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan. Pada beberapa ikan yang termasuk golongan ini sering terjadi sesudah satu kali pemijahan, jaringan ovariumnya mengkerut kemudian jaringan testisnya berkembang. Salah satu spesies ikan di Indonesia yang sudah dikenal termasuk ke dalam golongan hermaprodit protogini ialah ikan belut sawah (Monopterus albus) dan ikan kerapu Lumpur (Epinephelus tauvina). Ikan ini memulai siklus reproduksinya sebagai ikan betina yang berfungsi, kemudian berubah menjadi ikan jantan yang berfungsi. Urutan daur hidupnya yaitu : masa juvenile yang hermaprodit, masa betina yang berfungsi, masa intersek dan masa terakhir masa jantan yang berfungsi. Pada ikan-ikan yang termasuk ke dalam Famili Labridae, misalnya Halichieres sp. terdapat dua macam jantan yang berbeda.   Ikan jantan pertama terlihatnya seperti betina tetapi tetap jantan selama hidupnya, sedangkan jantan yang kedua ialah jantan yang berasal dari perubahan ikan betina. Pada ikan-ikan yang mempunyai dua fase dalam satu siklus hidupnya, pada tiap-tiap fasenya sering didapatkan ada perbedaan baik dalam morfologi maupun warnanya. Keadaan demikian menyebabkan terjadinya kesalahan dalam mendeterminasi ikan itu menjadi dua nama, yang sebenarnya spesies ikan itu sama. Misalnya pada ikan Larbus ossifagus ada dua individu yangberwarna merah dan ada yang berwarna biru. Ternyata ikan yang berwarna merah adalah ikan betina, sedangkan yang berwarna biru adalah ikan jantan.

Hermaprodit protandri dan hermaprodit protogini sering disebut hermaprodit beriring. Pada waktu ikan itumasih muda mempunyai gonad yang berorganisasi dua macam seks, yaitu terdapat jaringan testis dan ovarium yang belum berkembang dengan baik. Proses suksesi kelamin dari satu populasi hermaprodit protandri atau hermaprodit protogini terjadi pada individu yang berbeda baik menurut ukuran atau umur, tetapi merupakan suatu proses yang beriring. Selain hermaproditisme, pada ikan terdapat juga Gonokhorisme, yaitu kondisi seksual berganda yaitu pada ikan bertahap juvenil gonadnya tidak mempunyai jaringan yang jelas status jantan atau betinanya. Gonad tersebut kemudian berkembang menjadi semacam ovarium, setelah itu setengah dari individu ikanikan itu gonadnya menjadi ovarium (menjadi ikan betina) dan setengahnya lagi menjadi testis (menjadiikan jantan). Gonokhoris yang demikian dinamakan gonokhoris yang “tidak berdiferensiasi:, yaitu keadaannya tidak stabil dan dapat terjadi interseks yang spontan. Misalnya Anguilla anguilla dan Salmo gairdneri irideus adalah gonokhoris yang tidak berdiferensiasi. Ikan gonokhorisme yang “berdiferensiasi” sejak dari mudanya sudah ada perbedaan antara jantan dan betina yang sifatnya tetap sejak dari kecilsampai dewasa, sehingga tidak terdapat spesies yang interseks.

Sifat seksual primer pada ikan tandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi, yaitu ovarium dan pembuluhnya pada ikan betina, dan testis dengan pembuluhnya pada ikan jantan. Sifat seksual sekunder ialah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan ikan jantan dan ikan betina. Satu spesies ikan yang mempunyai sifat morfologi yang dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina dengan jelas, maka spesies itu bersifat seksual dimorfisme. Namun, apabila satu spesies ikan dibedakan jantan dan betinanya berdasarkan perbedaan warna, maka ikan itu bersifat seksual dikromatisme. Pada umumnya ikan jantan mempunyai warna yang lebih cerah dan lebih menarikdari pada ikan betina.

 

Pada dasarnya sifat seksual sekunder dapat dibagi menjadi dua yaitu :

a) Sifat seksual sekunder yang bersifat sementara, hanya muncul pada waktu musim pemijahan saja. Misalnya “ovipositor”, yaitu alat yang dipakai untuk menyalurkan telur ke bivalvia, adanya semacam jerawat di atas kepalanya pada waktu musim pemijahan. Banyaknya jerawat dengan susunan yang khas pada spesies tertentu bisa dipakai untuk tanda menentukan spesies, contohnyaikan Nocomis biguttatus dan Semotilus atromaculatus jantan.

b) Sifat seksual sekunder yang bersifat permanent atau tetap, yaitu tanda ini tetap ada sebelum, selama dan sesudah musim pemijahan. Misalnya tanda bulatan hitam pada ekor ikan Amia calva jantan, gonopodium pada Gambusia affinis, clasper pada golongan ikan Elasmobranchia, warna yang lebih menyala pada ikan Lebistes, Beta dan ikan-ikan karang, ikan Photocornycus yang berparasit pada ikan betinanya dan sebagainya. Biasanya tanda seksual sekunder itu terdapat positif pada ikan jantan saja. Apabila ikan jantan tadi dikastrasi (testisnya dihilangkan), bagian yang menjadi tanda seksual sekunder menghilang, tetapi pada ikan betina tidak menunjukkan sesuatu perubahan. Sebaliknya tanda bulatan hitan pada ikan Amia betina akan muncul pada bagian ekornya seperti ikan Amia jantan, bila ovariumnya dihilangkan. Hal ini disebabkan adanya pengaruh dari hormon yang dikeluarkan oleh testis mempunyai peranan pada tanda

seksual sekunder, sedangkan tanda hitam pada ikan Amia menunjukkan bahwa hormon yang dikeluarkan oleh ikan betina menjadi penghalang timbulnya tanda bulatan hitam.

 

3.2 MACAM MACAM TELUR IKAN DAN BAGIANNYA

 

Telur dari hewan yang bertulang belakang, secara umum dapat dibedakan berdasarkan kandungan kuning telur dalam sitoplasmnyaa yaitu :

a) Telur homolecithal (isolecithal). Golongan telur ini hanya terdapat pada mamalia. Jumlah kuning telurnya hanya sedikit terutama dalam bentuk butir-bitir lemak dan kuning telur yang terbesar di dalam sitoplama.

b) Telur telolecithal. Golongan telur ini terdapat sejumlah kuning telur yang berkumpul pada salah satu kutubnya. Ikan tergolong hewan yang mempunyai jenis telur tersebut.

Protoplasma dari telur Teleostei dan Elasmobranchia akan mengambil bagian pada beberapa pembelahanpertama. Kuning telur tidak turut dalamproses-proses pembelahan, sedangkan perkembangan embrionya terbatas pada sitoplasma yang terdapat pada kutub anima.

Telur ikan ovipar yang belum dibuahi (Gambar 4.1), bagian luarnya dilapisi oleh selaput yang dinamakan selaput kapsul atau chorion. Pada chorion ini terdapat sebuah mikropil yaitu suatu lubang kecil tempat masuknya sperma ke dalam telur pada waktu terjadi pembuahan. Di bawah chorion terdapat selaput yang kedua dinamakan selaput vitelline. Selaput yang ketiga mengelilingi plasma telur dinamakan selaput plasma. Ketiga selaput ini semuanya menempel satu sama lain dan tidak ada ruang diantaranya. Bagiantelur yang terdapat sitoplasma biasanya berkumpul di sebelah telur bagian atas yang dinamakan kutub

anima, sedangkan bagian kutub yang berlawanan terdapat banyak kuning telur yang dinamakan kutub vegetatif. Kuning telur yang ada di bagian tengah keadaannya lebih pekat daripada kuning telur yang ada

pada bagian pinggir karena adanya sitoplasma yang banyak terdapat di sekeliling inti telur

 

Gambar 4.1 Bagan telur sebelum dibuahi

 

Gambar 4.2 Bagan telur setelah keluar dari tubuh induk, dengan ruang perivitelline

 

Telur yang baru saja keluar dari tubuh induk dan bersentuhan dengan air akan terjadi perubahan yaitu i) selaput chorion akan terlepas dengan selaput vitelline dan membentuk ruang yang ini dinamakan ruang perivitelline (Gambar 4.2). Adanya ruang perivitelline ini , maka telur dapat bergerak lebih bebas selama dalam perkembangannya, selain itu dapat juga mereduksi pengaruh gelombang terhadap posisi embrio yang sedang berkembang. Air masuk ke dalam telur yang disebabkan oleh adanya perbedaan tekanan osmose dan imbibisi protein yang terdapat pada permukaan kuning telur. Selaput vitelline merupakan penghalang masuknya air jangan sampai merembes ke dalam telur. ii) pengerasan selaput chorion. Waktu yang diperlukan untuk pengerasan selaput chorion tidak sama bergantung pada ion kalsium yang terdapat dalam air. Menurut Hoar (1957 dalam Effendie, 1997) telur yang ditetaskan dalam air yang mengandung kalsium klorida 0.0001 M, selaput chorionnya akan lebih keras dari pada telur yang ditetaskan di air suling. Pengerasan chorion ini akan mencegah terjadinya pembuahan polyspermi. Telur-telur ikan yang terdapat di perairan bebas masih sangat sedikit diteliti. Delsman (1921 – 1938) merupakan orang pertama yang melakukan penelitian secara mendalam terhadap telur dan larva ikan pelagis di Laut Jawa. Beberapa macam telur pelagis dan larva di Laut Jawa yang didapat oleh Delsman seperti Gambar 4.3. Tidak semua telur ikan mempunyai bentuk yang sama, umumnya suatu spesies yang berada dalam satu genus mempunyai kemiripan atau mempunyai perbedaan yang kecil. Di perairan didapatkan bermacam telur dan larva ikan bercampur aduk dalam tingkat perkembangan yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan polapemijahan ikan-ikan di Indonesia masih belum diketahui,sehingga ada kemungkinan didapatkan ikanikan yang memijah dalam sepanjang tahun.

 

Gambar 4.3 Jenis-jenis telur ikan pelagis di Laut Jawa dan Selat Malaka (Sumber:Delsman, 1929 dalam Effendie, 1979)

 

 

Keterangan :

1. Chirocentrus dorab                         12. Dorosoma chacunda

2. Tidak dikenal                                  13. Chanos chanos

3. Clupea fimbriata                              14. Pellona sp.

4. Stelophorus heterolobus                   15. Cybium maculatum

5. Engraulis kammalensis                    16. Echeneis naucrates

6. Stolephorus indicus                         17. Saurida tumbil

7. Trichiurus sp.                                  18. Harpodon nehereus

8. Muraena sp.                                    19. Tetradon sp.

9. Decapterus (Caranx) kurra             20. Tidak dikenal

10. Hemirhampus sp.                          21. Fistularia serrata

11. Caranx macrosoma

Dalam menggolongkan telur ikan terdapat beberapa macam tanda yang dapat dipakai untuk membantu pengenalan lebih lanjut antara lain bentuk telur, butir minyak, warna, keadaan permukaan butir kuning telur, dan sebagainya. Sebagai contoh tanda-tanda yang terdapat pada telur ikan Parang-parang dalamkeadaan hidup ukuran telur antara 1590 – 1670 mm, cangkang telur tidak licin, ada sesuatu seperi jarring laba-laba. Berdasarkan tanda-tanda tersebut, maka dapat dibuat klasifikasi telur-telur pelagis yang terdapat di perairan sebagai dsar pengenalan telur lebih lanjut.

Ada beberapa sistem lain dalam pengelompokan telur berdasarkan sifat-sifat yang lain yaitu :

a). Sistem pengelompokan telur ikan berdasarkan jumlah kuning telurnya :

§ Oligolecithal : telur dengan kuning telur sangat sedikit jumlahnya, contoh ikan Amphioxus

§ Telolecithal : telur dengan kuning telur lebih banyak dari Oligolecithal. Umumnya jenis telur

ini banyak dijumpai di daerah empat musim, contoh ikan Sturgeon

§ Makrolecithal : telur dengan kuning telur relatif banyak dan keping sitoplasma di bagian

kutub animanya. Telur semacam ini banyak terdapat pada kebanyakan ikan.

b). Sistem yang berdasarkan jumlah kuning telur namun dikelaskan lebih lanjut berdasarkan berat jenisnya :

§ Non bouyant : telur yang tenggelam ke dasar saat dikeluarkan dari induknya. Golongan telur ini menyesuaikan dengan tidak ada cahaya matahari, kadang-kadang oleh induknya telur diletakkan atau ditimbun oleh batu-batuan atau kerikil, contoh telur ikan trout dan ikan salmon.

§ Semi bouyant : telur tenggelam ke dasar perlahan-lahan, mudah tersangkut dan umumnya telur berukuran kecil, contoh telur ikan Coregonus

§ Terapung : telur dilengkapi dengan butir minyak yang besar sehingga dapat terapung. Umumnya terdapat pada ikan-ikan yang hidup di laut.

c). Telur dikelompokkan berdasarkan kualitas kulit luarnya

§ Non adhesive : telur sedikit adhesive pada waktu pengerasan cangkangnya, namun kemudian sesudah itu telur sama sekali tidak menempel pada apapun juga, contoh telur ikan salmon

§ Adhesive : setelah proses pengerasan cangkang, telur bersifat lengket sehingga akan mudah menempel pada daun, akar tanaman, sampah, dan sebagainya, contoh telur ikan mas (Cyprinus carpio)

§ Bertangkai : telur ini merupakan keragaman dari telur adhesive, terdapat suatu bentuk tangkai kecil untuk menempelkan telur pada substrat

§ Telur berenang : terdapat filamen yang panjang untuk menempel pada substrat atau filament tersebut untuk membantu telur terapung sehingga sampai ke tempat yang dapat ditempelinya, contoh telur ikan hiu (Scylliorhinus sp.)

§ Gumpalan lendir : telur-telur diletakkan pada rangkaian lendir atau gumpalan lendir, contoh telur ikan lele (Clarias) Pengelompokan telur berdasarkan lingkungan yang diberikan induknya;

a). telur tersebar, tidak ada tambahan sesuatu dari induknya untuk keberhasilan hidup telur tersebut.

§ Telur terapung, umumya terdapat pada ikan laut seperti ikan tenggiri.

§ Telur tenggelam ke dasar, banyak terdapat pada ikan air tawar

§ Telur adhesive, menempel pada substrat, batu, tumbuhan dan lain-lain seperti pada ikan mas.

b). telur tersebar atau diletakkan satu persatu tetapi dengan beberapa syarat perlindungan namun tanpa perhatian induk;

§ telur dalam benang lendir

§ telur dengan cangkang yang berubah seperti tangkai yang adhesive

§ telur dibungkus dalam kapsul pelindung yang dikeluarkan oleh uterus

§ bila telur menyentuh air, cangkangnya akan pecah dan menggulung menjadi organ yang adhesive untuk menempel pada substrat

c). telur diletakkan pada gumpalan lendir tetapi tidak membentuk sarang. Telur tersebut dijaga oleh ikan jantan;

§ telur diletakkan di celah batu karang di atas permukaan air terendah pasang naik, sehingga akan terkena udara pada waktu pasang turun. Ikan jantan berpuasa menunggu telur selama pengeraman dari gangguan predator

§ telur tergulung pada massa yang bulat dan induk menggulung dengan tubuhnya

d). Telur diletakkan dalam sarang pada kerikil, pasir atau lumpur di dasar perairan;

§ pada kerikil dalam air yang mengalir. Telur ditutupi dan induk meninggalkan sarang

§ pada pasir atau kerikil di dasar perairan yang digali oleh induk

§ sarang yang berbentuk cangkir di dasar perairan, dan telur tidak ditutupi. Jantan biasanya menjaga telur dan mengipasinya, telur biasanya adhesive.

§ Sarang terpendam di dalam dasar lumpur atau detritus.

e). Sarang telur diletakkan di bawah atau di atas objek. Penjagaan telur biasanya dilakukan oleh ikan jantan.

f). Sarang dibuat dari bahan tanaman yang tersusun seperti sarang burung yang dijalin oleh suatu zat yang dikeluarkan oleh ginjal. Ikan jantan bertugas menjaga sarang.

g). Sarang terbuat dari gelembung atau busa yang disusun oleh ikan jantan dan sarang itu dikeraskan oleh lendir yang dikeluarkan oleh ikan jantan pula. Telur diletakkan dalam gelembung ini.

h). Penyesuaian khusus untuk menjaga telur yang dilakukan oleh induknya;

§ telur dalam mulut, contoh ikan Famili Cichlidae (mujair)

§ sebagian kulit perut induk membengkak untuk meletakkan telur hingga telur menetas, contoh ikan lele di Brazil

§ telur dalam bentuk gumpalan dihubungkan oleh semacam benang dengan bagian lengkungantulang di kepala ikan jantan sehingga kedua gumpalan tersebut menggantung di kedua pinggir kepala

§ telur diletakkan dalam kantung yang terdapat di bagian perut induk, contoh ikan kuda laut (Syngnatidae)

i). pemijahan yang bekerja sama dengan binatang lain, contoh ikan bitterling yang memerlukan moluska untuk meletakkan telurnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

3.3 PROSES PEMBUAHAN

 

Proses pembuahan pada ikan terjadi apabila spermatozoa masuk ke dalam telur melalui lubang mikropil yang terdapat pada chorion. Tiap spermatozoa mempunyai kesempatan yang sama untuk membuahi satu telur, tetapi karena ruang tempat terjadinya pembuahan pada ikan ovipar sangat besar, maka kesempatan spermatozoa itu untuk bertemu dengan telur sebenarnya sangat kecil. Oleh karena itu, spermatozoa yang dikeluarkan jumlahnya sangat besar dibandingkan dengan jumlah telur yang akan dibuahi, sehingga dalam kondisi yang optimum spermatozoa ikan yang baru dikeluarkan dari tubuh mempunyai kekuatan untuk bergerak dalam air selama 1 – 2 menit.

Berdasarkan kepada penelitian yang dilakukan oleh Hartman dan juga oleh Motalenti (Hoar, 1957 dalam Effendie, 1997) telur dan sperma yang baru dikeluarkan dari tubuh induk, mengeluarkan zat kimia yangberguna dalam proses pembuahan. Zat yang dikeluarkan oleh telur dan sperma tersebut dinamakan Gamone. Gamone yang berasal dari telur adalah Gynamone I dan Gynamone II, sedangkan Gamone yangberasal dari spermatozoa adalah Androgamone I dan Androgamone II. Gynamone I berfungsi untuk mempercepat pergerakan dan menarik spermatozoa dari spesies yang sama secara kemotaksis. GynamoneII berfungsi untuk mengumpulkan dan menahan spermatozoa pad permukaan telur. Fungsi Androgamone I ialah untuk menenkan aktivitas spermatozoa ketika masih berada dalam saluran genital ikan jantan, sedangkan Androgamone II berfungsi untuk membuat permukaan chorion menjadi lembek sebagai lawan dari fungsi Gynamone II. Lapisan telur yang sudah berada dalam air adalah keras dan tidak dapat ditembus oleh spermatozoa kecuali melalui mikropil yang bentuknya seperti corong. Lubang corong yang besar terletak di bagian luar dan lubang yang kecil di bagian dalam. Ketika spermatozoa masuk ke dalam lubang corong, itu merupakan sumbat bagi yang lainnya dan setelah kepala spermatozoa itu masuk, bagian ekornya terlepas. Dengan demikian pembuahan pada ikan umumnya monosperma. Apabila terjadi pembuahan polysperma

hanya satu spermatozoa saja yang melebur bersatu dengan inti telur.sedangkan yang lainnya dihisap oleh telur sebagai bahan makanannya. Sesaat setelah terjadi pembuahan, isi telur agak sedikit mengkerut karena pecahnya rongga alveoli yang terdapat di dalam telur, sehingga menyebabkan rongga perivitelline lebih membesar sehingga telur yang telah dibuahi dapat mengadakan pergerakan rotasi selama dalam perkembangannya sampai menetas.

Setelah terjadi pembuahan, telur akan mengalami masa pengeraman oleh induknya hingga menetas menjadi larva ikan. Lama masa pengeraman ikan tidak sama bergantung kepada spesies ikannya dan

beberapa faktor luar. Faktor luar yang terutama mempengaruhi pengeraman ialah suhu perairan. Dalam bidang kultur ikan, sehubungan dengan masa pengeraman dikenal dengan istilah derajat hari, yaitu hasil perkalian derajat suhu perairan dengan lama pengeraman. Derajat hari untuk spesies ikan ada yang nilainya tetap, ada yang berubah-ubah. Menurut Nikolsky (1963 dalam Effendie, 1997) faktor cahaya juga dapat mempengaruhi masa pengeraman ikan. Telur yang sedang dalam masa pengeraman apabila diletakkan dalam tempat yang gelap akan menetas lebih lambat. Faktor luar lainnya yang dapat mempengaruhi masa pengeraman ialah zat yang terlarut dalam air terutama zat asam arang dan ammonia dapat menyebabkan kematian embrio dalam masa pengeraman. Tekanan zat asam dalam air telah diketahui dapat mempengaruhi untur meristik yaitu jumlah ruas tulangg belakang. Bila tekanan zat asam itu tinggi, jumlah ruas tulang belakang embrio menjadi bertambah dan sebaliknya apabila tekanan zat asam arang berkurang jumlah ruas tulang belakang berkurang jumlahnya. Menetas merupakan saat terakhir masa pengeraman sebagai hasil beberapa proses sehingga embrio keluar dari cangkangnya. Pada saat akan terjadi penetasan seperti yang telah dikemukakan, kekerasan chorion semakin menurun. Hal ini disebabkan oleh substansi enzim dan unsur kimia lainnya yang dikeluarkan oleh kelenjar endodermal di daerah pharink. Enzim ini dinamakan chorionase yang terdiri dari pseudokeratin yang kerjanya bersifat mereduksi chorion menjadi lembik. Dalam proses ini pH dan suhu memegang peranan. Menurut Blaxter dalam Effendie (1979) bahwa pH 7,9 – 9,6 dan suhu 14 – 20°C merupakan kondisi yang optimum. Pada waktu akan terjadi penetasan, embrio sering mengubah posisinya karena kekurangan ruang di dalam cangkang. Dengan pergerakan-pergerakan tersebut bagian cangkang telur yang telah lembik akan pecah. Umumnya, dua atau tiga kali pembetulan posisinya embrio mengatur dirinya lagi. Pada bagian cangkang yang pecah ujung ekor embrio dikeluarkan terlebih dahulu sambil digerakkan. Kepalanya dikeluarkan terakhir karena ukurannya lebih besar dibandingkan dengan bagian tubuh yang lainnya, namun kadangkala didapatkan kepala yang keluar lebih dulu. Anak ikan yang baru ditetaskan tersebut dinamakan larva, dengan tubuhnya yang belum sempurna baik organ luar maupun organ dalamnya. Sehubungan dengan perkembangan larva ini, terdapat dua tahap perkembangan yaitu prolarva dan postlarva. Prolarva biasanya masih mempunyai kantung kuning telur, tubuhnya transparan dengan beberapa butir pigmen yang fungsinya belum diketahui. Sirip dada dan ekor sudah ada tetapi belum sempurna bentuknya dan kebanyakan prolarva yang baru keluar dari cangkang telur ini tidak punya sirip perut yang nyata melainkan hanya bentuk tonjolan saja. Mulut dan rahang belum berkembang dan ususnya masih merupakan tabung yang lurus. Sistem pernafasan dan peredaran darah tidak sempurna. Makanannya didapatkan dari sisa kuning telur yang belum habis dihisap. Adakalanya larva ikan yang baru ditetaskan letaknya dalam keadaan terbalik karena kuning telurnya masih mengandung minyak. Apabila kuning telur tersebut telah habis dihisap, larva akan kembali seperti biasa. Larva ikan yang baru ditetaskan pergerakannya hanya sewaktu-waktu saja dengan menggerakkan bagianekornya ke kiri dan kekanan dengan banyak diselingi oleh istirahat karena tidak dapat mempertahankan keseimbangan posisi tegak. Postlarva merupakan masa larva dimana kantung kuning telur mulai hilang sampai terbentuknya organ-organ baru atau selesainya taraf penyempurnaan organ-organ yang telah ada sehingga pada masa akhir dari postlarva tersebut secara morfologi sudah mempunyai bentuk hampir seperti induknya. Pada tahap postlarva ini, larva tersebut sudah terdapat pigmentasi yang banyk pada bagian tubuh tertentu. Perkembangan dari telur hingga larva dapat dilihat pada gambar berikut :

 

a  b    c   d

 

 

e    fg     h

 

i  j

l

 

Gambar 4.5. Perkembangan dari telur hingga larva. a. 12 jam setelah fertilisasi (akhir morula), b. 25 jamterakhir (gastrula), c. 27 jam (kuning telur 7/10 dikelilingi blastoderm), d. 30 jam, e. 37 jam, f. 41 jam,g.54 jam, h. 64 jam, i. 83 jam, j. Larva setelah menetas, k. Juvenil

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

 

4.1 KESIMPULAN

 

Seksualitas ikan terdiri dari dua bagiann yaitu jantan dan betina, yang dikatakan ikan jantan adalah ikan yang mempunyai organ penghasil sperma,sedangkan ikan betina adalah ikan yang mempunyai organ penghasil telur. Telur dari hewan yang bertulang belakang, secara umum dapat dibedakan berdasarkan kandungan kuning telur dalam sitoplasmnyaa yaitu :

a) Telur homolecithal (isolecithal). Golongan telur ini hanya terdapat pada mamalia. Jumlah kuning telurnya hanya sedikit terutama dalam bentuk butir-bitir lemak dan kuning telur yang terbesar di dalam sitoplama.

b) Telur telolecithal. Golongan telur ini terdapat sejumlah kuning telur yang berkumpul pada salah satu kutubnya. Ikan tergolong hewan yang mempunyai jenis telur tersebut. Proses pembuahan pada ikan terjadi apabila spermatozoa masuk ke dalam telur melalui lubang mikropil yang terdapat pada chorion. Tiap spermatozoa mempunyai kesempatan yang sama untuk membuahi satu telur, tetapi karena ruang tempat terjadinya pembuahan pada ikan ovipar sangat besar, maka kesempatan spermatozoa itu untuk bertemu dengan telur sebenarnya sangat kecil.

 

 

4.2 SARAN

 

Untuk menjaga ekosisitem ikan secara lestari di laut, hendaknya kita dapat mengetahui ikhtiologi yaitu ilmu yang mempelajari ikan secara lebih khusus dan mendetail.Baik  dari sisi seksualitas ikan maupun system pembuahan ikan.

 

FISIKA KIMIA LAUT

LAPORAN PENELITIAN PENGGUNAAN ALAT EKMAN GRAB

 

Tujuan penelitian ;

 

  1. Untuk mengetahui jenis substrat pada perairan laut
  2. Untuk mengetahui vegetasi benthos pada substrat perairan laut

 

Tempat Penelitian : Laut di depan Balai Riset Perikanan dan Kelautan Gondol.

 

Alat : Ekman Grab

 

Metode Penelitian

Penelitan  Benthos

 

 

1.Disiapkan ekman grab.

 

2.Dibuka penutupnya.

 

3. Dimasukkan kedalam badan air laut secara tegak lurus sampai kedasar.

 

4. Dijatuhkan pemberatnya.

 

5. Ditarik pelan-pelan ke permukaan.

 

6. Dibuka penutupnya.

 

7. Diletakkan sampel bentos ke dalam nampan.

 

8. Diamati jenis bentos

 

 

Penelitian Substrat

 

 

1. Diambil dari dasar  laut.

 

2. Diambil tipe substratnya.

 

3. Ditentukan tipe substratnya.

 

4. Pencatatan hasil

 

 

Hasil Penelitian

 

 

  1. Untuk penelitian benthos, saat pengambilan data tidak ada benthos yang ditemukan baik phito benthos maupun zoo benthos pada laut di belakang Balai Riset Penelitian dan Perikanan Gondol.

 

  1. Untuk penelitian substrat, substrat penyusun dasar laut di belakang Balai Riset Penelitian dan Perikanan Gondol adalah pasir  yang terdiri dari jenis Karbonat dan Silikat.

 

 

Kesimpulan

 

 

  1. Tidak ditemukannya benthos pada proses pengambilan data disebabkan karena  daya cengkram Ekman Grab pada substrat tidak maksimal.

 

  1. Substrat penyusun dasar laut berupa pasir yang berupa gabungan Silikat dan Karbonat karena laut di belakang Balai Riset Penelitian Perikanan dan Kelautan Gondol terdapat gugusan Terumbu Karang.

seaweed

Seaweed is a microorganism that grows in oceans, lakes, rivers and other bodies of water and is comprised of algae. Algae is a plantlike organism that doesn’t contain actual roots, flowers, leaves and stems, but does contain the green pigment known as chlorophyll. This allows the organisms to grow through the process of photosynthesis. Seaweed can include members of green, red or brown algae families, and there exist around 10,000 species within many marine habitats around the world.

taksonomi

A seaweed may belong to one of several groups of multicellular algae: the red algae, green algae, and brown algae. As these three groups are not thought to have a common multicellular ancestor, the seaweeds are a polyphyletic group. In addition, some tuft-forming bluegreen algae (Cyanobacteria) are sometimes considered as seaweeds — “seaweed” is a colloquial term and lacks a formal definition

ekologi

Two specific environmental requirements dominate seaweed ecology. These are the presence of seawater (or at least brackish water) and the presence of light sufficient to drive photosynthesis. Another common requirement is a firm attachment point. As a result, seaweeds most commonly inhabit the littoral zone and within that zone more frequently on rocky shores than on sand or shingle. Seaweeds occupy a wide range of ecological niches. The highest elevation is only wetted by the tops of sea spray, the lowest is several meters deep. In some areas, littoral seaweeds can extend several miles out to sea. The limiting factor in such cases is sunlight availability. The deepest living seaweeds are the various kelps.

A number of species such as Sargassum have adapted to a fully planktonic niche and are free-floating, depending on gas-filled sacs to maintain an acceptable depth. Others have adapted to live in tidal rock pools. In this niche seaweeds must withstand rapidly changing temperature and salinity and even occasional drying

.
Types of Seaweed

The simplest of the seaweeds are among the cyanobacteria, formerly called the blue-green algae, and green algae (division Chlorophyta), found nearest the shore in shallow waters and usually growing as threadlike filaments, irregular sheets, or branching fronds. The brown algae (division Phaeophyta), in which brown pigment masks the green of the chlorophyll, are the most numerous of the seaweeds of temperate and polar regions. They grow at depths of 50 to 75 ft (15-23 m). The red seaweeds (division Rhodophyta), many of them delicate and fernlike, are found at the greatest depths (up to 879 ft/268 m); their red pigment enables them to absorb the blue and violet light present at those depths.

Reproduction in Seaweeds

Seaweeds reproduce in a variety of ways. Lower types reproduce asexually. More advanced kinds produce motile zoospores that swim off, anchor themselves, and grow into new individuals, or they reproduce sexually by forming sex cells (gametes) that, after fusing, follow the same pattern. Sometimes pieces of a seaweed break off and form new plants; in a few species there is a cycle of asexual and sexual reproduction foreshadowing the alternation of generations characteristic of plants.

Makin bersedih ibu pertiwi kykne brother,…. ini udah zamannya perdagangan bebas, persaingan itu ketat . Jangan salahkan MENDAG, kalau harga KENTANG anda yg 7000,~ itu tidak sanggup bersaing dengan KENTANG import yg 2.000,~ salahkan diri sdri yg tidak kreatif dan efisiensi .   Kalau terbukti barang china lebih murah lebih efisien, kenapa tidak di import,untuk kesejahteraan konsumsi rakyat dan ibu rumah tangga,   Apakah rakyat yg lain mau terimbas terkena INFLASI dengan melihat harga barang barang pokok naik, beras kentang dan garam ???   Jelas terbukti kalo barang lokal tidak kreatif/ tidak efisien,      Maklum sih, kalo org indo biasanya yg jalan itu OTOT, bukan malah OTAKnya yg berfikir dan bertanya mengapa dan bagaimana bisa kentang CHINA, BANGLADESH sejauh itu cuma ber harga 2.000,~