Latar Belakang

 

Manusia adalah mahkluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu. Lihatlah sapi, kambing , kerbau, atau apa pun. Begitu sudah tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Manusia sepertinya menyalahi kodratnya.

 

Pabrik susu merupakan pihak pertama yang bisa disalahkan. Akibat pabrik susu yang terus mengiklankan produknya. Produk susu formula yang diambil kebanyakan dari susu hewani dan nabati seperti sapi, kerbau, kambing, atau pun dari sari kedelai. Padahal, jika dipikirkan lebih lanjut, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manusia. Manusia seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi yang juga hanya minum susu sapi. Tidak ada anak sapi yang minum susu manusia.

 

Mencuatnya kasus susu formula yang marak belakangan ini, sangat meresahkan masyarakat Indonesia  yang selama ini mengandalkan susu formula untuk meningkatkan kecukupan akan gizi dan protein untuk anak-anak. Masalah susu formula berbakteri enterobacter Sakazakii  menjadi masalah yang ditangani serius oleh menteri kesehatan. Bermula dari IPB yang melakukan penelitian sejak 2003-2006 terhadap puluhan merek susu formula dan menemukan lebih dari 20 persen sampel mengandung bakteri Enterobacter Sakazakii. Aturan Internasional Codex sudah melarang adanya bakteri ini di susu formula sejak Juli 2008.

 

Kasus lain yang belum lama ini tidak kalah mengejutkan, berita bahwa susu di RRC mengakibatkan ribuan bayi mengalami kerusakan ginjal dan empat diantaranya meninggal. Penyebab kejadian ini adalah adanya kandungan melamin  dalam produk susu di RRC. Penambahan melamin ke dalam kandungan susu dikarenakan  melamin mengandung kandungan nitrogen yang tinggi dan memiliki karakteristik protein.Penambahan melamin ditujukan untuk meningkatkan kadar protein susu sehingga seolah-olah pada saat diperiksa kadar proteinnya menjadi tinggi. Perilaku produsen yang lebih berupaya menekan biaya pembuatan formula susu, dan meningkatkan profit dari penjualan susu secara tidak langsung telah melakukan proses pembunuhan berencana dan penciptaan generasi yang penyakitan sejak dalam kandungan  sosok ibu.

 

Susu dikatakan makanan/minuman paling jelek untuk manusia,karena susu benda cair.Sehingga ketika masuk ke mulut langsung mengalir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi dengan enzim yang diproduksi mulut kita. Akibat tidak bercampur enzim,tugas usus semakin berat.

 

Salah satu ahli usus terkemuka di dunia Prof.Dr Hiromi Shinya.Beliau sudah memeriksa keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika dan Jepang. Setiap memeriksa pasiennya, Prof.Hiromi melakukan penelitian. Yakni , untuk mengetahui kaitan wujud dalamnya usus dengan kebiasaan makan dan minum pasiennya.Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti makan atau minumnya tidak bermutu. Antara lain susu dan daging.

 

Semua fakta di atas mencipatakan gagasan penulis untuk mencoba memberikan sedikit harapan kepada anak- anak panti asuhan yang selama ini tidak pernah mendapatkan asupan gizi dari ASI,melalui produk ASI kemasan. Karena merekalah yang paling terkena dampak negatif dari susu formula berbakteri,selama ini hanya nengandalkan asupan gizi dari susu formula, karena sosok ibu yang seharusnya melakukan kodratnya menyusui mereka tidak didapatkan oleh anak anak panti asuhan.

 

 

TUJUAN DAN MANFAAT

Tujuan

Penulisan PKM GT ini pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan solusi terhadap nasib anak-anak panti asuhan yang selama ini tidak pernah mendapatkan asupan gizi dari ASI.Walaupun anak-anak panti asuhan sudah mendapat asupan gizi dari susu formula yang berbahan dasar susu sapi tapi dengan adanya susu formula yang belakangan ini banyak diberitakan mengandung bakteri membuat anak-anak panti asuahan rentan terkena dampak negatif dari susu formula berbakteri . Sehingga dengan adanya ASI kemasan, diharapkan masa depan anak anak panti asuhan dapat diperbaiki sejak dini.

Manfaat

Terpenuhinya kecukupan gizi ASI anak-anak panti asuhan walaupun mereka tidak pernah menikmati secara langsung bagaimana rasanya menikmati ASI  dari sosok seorang ibu. Tapi setidaknya dengan adanya ASI kemasan melalui prosees DONOR ASI, anak-anak panti asuhan pernah merasakan minum susu manusia. Tidak lagi dari susu sapi ataupun susu hewan lainnya yang sekarang ini dikemas dalam produk susu formula.Dan anak -anak panti asuhan  terhindar dari dampak negatif susu formula berbakteri.

 

GAGASAN

Kondisi Kekinian

Susu merupakan bahan pangan alami yang dianggap oleh kebanyakan masyarakat memeiliki nilai nutrisi yang lengkap.Dan hampir di konsumsi seluruh lapisan masyarakat, namun hingga saat ini kualitas dan manfaatnya belum banyak dipahami. Susu berasal dari semua hewan mamalia yaitu hewan yang mempunyai kelenjar ambing atau kelenjar susu.ada lebih dari 10.000 spesies mamalia yang menghasilkan susu diantaranya manusia yang disebut ASI (Air Susu Ibu), sapi, kambing, domba, unta, kerbau, kuda dan lain-lain.

 

Salah satu dari sekian dampak negatif susu yang belakangan ini lagi hangat diperbincangkan di masyarakat khususnya kalangan ibu-ibu adalah susu formula berbakteri Enterobacter sakazakii . Manusia telah menyalahi kodratnya sendiri.Tidak seharusnya manusia minum/makan susu dari sumber susu lain,walaupun dikatakan mengandung nilai gizi tinggi. Manusia seharusnya hanya minum/makan susu manusia, itulah kodrat yang benar yang memang manusiawi.

 

Sementara itu, disaat manusia mengalami krisis susu formula berbakteri sudah seharusnya manusia kembali pada kodratnya, yaitu minum/makan susu yang berasal dari manusia yaitu susu dari ibu kita sendiri yang kita kenal dengan sebutan ASI. Fakta yang perlu dikaji kembali, bahwa produsen susu formula berusaha menyajikan produknya mendekati karakteristik ASI. Sayangnya, pemberian ASI eksklusif  belum jadi gaya hidup keluarga di berbagai lapisan masyarakat.Dampak buruk terbesar dari keberadaan susu formula berbakteri adalah anak-anak yang berada di panti asuhan.Selama ini dapat dipastikan kecukupan gizi anak-anak tersebut dipenuhi oleh susu fomula berbagai merek.Dengan adanya upaya pengemasan ASI menjadi produk ASI kemasan akan mencukupi asupan gizi anak anak panti asuhan.Selain itu dampak positif dari adanya produk ASI kemasan adalah adanya penanggulangan sejak dini dampak negatif susu formula berbakteri.Sebenarnya tanpa ada produsen susu formula manusia masih dapat memenuhi kebutuhan akan gizi dan protein dari ASI kemasan. Anggapan masyarakat khususnya kaum ibu-ibu yang tidak dapat menyimpan ASI adalah kesalahan yang sangat besar.Dengan adanya kesadaran ibu-ibu diharapkan terwujudnya program donor ASI untuk membantu asupan ASI anak-anak panti asuhan melalui kegiatan sosial.Perlu diketahui, bahwa ASI bisa disimpan dalam jangka waktu tertentu. Paling lama ASI dapat disimpan tak lebih dari 6 bulan dalam keadaan beku.

 

Solusi yang Pernah dilakukan

Kebutuhan manusia akan susu selama ini di penuhi oleh susu formula maupun susu kalengan yang sering kita liha iklannya di tv.Begitu juga kebutuhan susu anak-anak panti asuhan dipenuhi oleh susu formula yang belum jelas diketahui kebenaran manfaatnya sebagai penunjang gizi anak-anak. Jika dipikirkan kembali susu formula yang memang bahan dasarnya adalah susu sapi  selayaknya diminum atau dimakan oleh sapi bukan manusia. Karena manusia hanya minum susu manusia dan sapi hanya minum susu sapi. Bukan manusia minum susu sapi atau sapi minum susu manusia.

 

Sebelumnya telah banyak juga bermunculan susu yang berasal dari nabati, seperti dari sari kedelai. Tapi susu ini kurang begitu mendapatkan peminat di pasaran. Hanya sebagian masyarakat yang masih menjadi konsumen susu jenis ini.

 

 

 

Kehandalan Gagasan

Manusia selama ini sudah keluar dari kodrat manusianya yaitu sudah tidak minum/makan susu manusia lagi tetapi selalu disusui kebanyakan oleh sapi ataupun kambing. Perilaku alamiah lain yang menyimpang dari manusia yaitu hanya manusia mahkluk di dunia ini ketika sudah dewasa masih minum susu. Lihatlah kambing, sapi, kerbau atau apa pun. Begitu sudah tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu.Keberadaan susu formula yang beragam semakin memperbesar kesalahan kodrat manusia.Anak-anak panti asuhan adalah korban pertama dari masalah ini, anak-anak yang masih punya sosok ibu pasti pernah minum ASI eksklusif dari ibunya walaupun sebentar. Tapi jangan dibayangkan anak-anak panti asuhan susu formula adalah ASI bagi mereka yang kini diberitakan berbakteri.ASI memang tidak seajaib susu fomula ataupun susu kalengan, tapi ASI lah yang sebenarnya dibutuhkan untuk asupan gizi anak-anak panti asuhan . ASI kemasan adalah solusi inofatif terhadap kebutuhan asupan gizi anak-anak panti asuhan. Pengupayaan ASI kemasan ini dilakukan dengan kegiatan sosial yaitu pelaksanaan program DONOR ASI.

Kegiatan ini bukanlah bertujuan untuk komersil,ataupun jual beli ASI hasil donor,tapi lebih menggugah kesadaran kaum ibu ibu terhadap nasib anak anak panti asuhan. Donor ASI untuk membuat ASI kemasan bukanlah semata-mata hanya menguntungkan anak-anak panti asuhan yang akan menerima atau meminum ASI kemasan hasil donor, tetapi juga menguntungkan bagi kaum ibu ibu pendonornya. Keuntungan untuk ibu-ibu pendonor adalah : Memberikan atau Mendonorkan ASI segera setelah melahirkan akan meningkatkan kontraksi rahim, yang berarti             mengurangiresikoperdarahan.
Memberikan atau Mendonorkan ASI juga membantu memperkecil ukuran rahim keukuran sebelum           hamil.
Menyusui atau Mendonorkan (ASI) membakar kalori sehingga membantu penurunan berat badan lebih    cepat.
Beberapa ahli menyatakan bahwa terjadinya kanker payudara pada wanita menyusui sangat rendah.Dengan kata lain apabila ibu-ibu mau mendonorkan ASInya menjadi ASI kemasan untuk disumbangkan pada anak anak panti asuhan potensi terjadinya kanker payudara pada ibu ibu akan berkurang

Oleh karena itu upaya ASI kemasan adalah inovasi yang kongkret untuk meningkatkan asupan atau kebutuha gizi yang benar pada anak anak panti asuhan dan mencegah sejak dini dampak negatif susu formula yang berbakteri.

Pihak-Pihak Terkait

Pihak pihak terkait dalam pembuatan ASI kemasan  adalah  kaum ibu ibu yang sadar dan rela mendonorkan ASInya untuk anak-anak Panti Asuhan melalui kegiatan DONOR ASI.Pihak pihak lain yang terkait adalah praktisi kesehatan seperti bidan atau pun dokter yang bertugas melakukan pengecekan kesehatan dan kelayakan ibu-ibu yang melakukan Donor ASI dan mengawasi proses DONOR dan pengemasan ASI.

Langkah-Langkah Strategis

Langkah lebih lanjut yaitu langkah real, melakukan sosialisasi terhadap ibu-ibu khususnya yang menyusui.Karena selama ini ibu-ibu masih awam mendengar ataupun melakukan DONOR ASI. Di sisi lain, beberapa ibu mempunyai produksi dan simpanan ASI perah yang berlebih, sehingga sayang untuk dibuang dan lebih baik memilih untuk mendonorkan ASI perah tersebutDalam hal ini praktisi kesehatan yang bertugas memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu.Bahwa donor ASI adalah kegiatan yang sehat. Setelah itu diadakan pengecekan atau check up lebih lanjut terhadap kesehatan ibu-ibu pendonor. Dengan adanya sadar ASI oleh ibu-ibu melalui DONOR ASI akan menciptakan produk ASI kemasan yang bermanfaat untuk anak-anak     panti    asuhan.

Syarat-syarat ibu pendonor dapat mendonorkan ASInya yaitu : Ibu pendonor ASI berada dalam keadaan sehat dan sedang menyusui bayi yang sehat denganpola       tumbuh            kembang          yang    sesuai,Tidak sedang mengkonsumsi obat-obat secara rutin, kecuali pil KB (hanya hormon progestin), thyroxin, insulin, vitamin kehamilan, zat besi, dan kalsium.
Tidak merokok, menggunakan narkoba, dan tidak secara rutin mengkonsumsi alkohol, Melakukan screening ada-tidaknya penyakit, seperti hepatitis, HIV/AIDS, atau tuberkulosis. Para ibu yang menderita penyakit tersebut dilarang menjadi         donor   ASI.

Setelah selasai pengecekan,proses donor ASI untuk membuat ASI kemasan dapat dilakukan.Dengan menggunakan alat Breast Pump dan ASI pun siap dikemas pada kemasan steril dan disimpan pada lemari pendingin yang bersuhu stabil. Untuk selanjutnya di sumbangkan kepada anak-anak panti asuahan yang        membutuhkan.

ASI kemasan  sebelum digunakan atau diminum oleh anak anak panti asuhan dilakukan terlebih dahulu proses dipasteurisasi sehingga relatif aman. Bila akan diberikan dalam waktu 72 jam, ASI disimpan di dalam lemari pendingin (di bawah 5 derajat Celsius, bukan dibuat dalam keadaan beku).
Bila akan diberikan dalam waktu 3 bulan, ASI disimpan di bagian atas lemari pendingin (freezer), dibekukan pada suhu di bawah -18 derajat Celsius. Dengan penyimpanan khusus ini dapat dibekukan untuk 6 bulan.ASI kemasan siap di berikan kepada anak-anak panti asuhan dengan beberapa langkah berikut:
Ambil ASI yang disimpan berdasarkan waktu pemerahan ASI (yang pertama diperah harus diberikan lebih dulu). Dengan catatan waktu dan tanggal pemerahan pada kemasan steril  ASI     tersebut.
Untuk ASI yang disimpan di lemari pendingin cukup dihangatkan dengan cara meletakkan ASI kemasan di wadah berisi air hangat selama 15 menit, sambil dikocok      secara  perlahan.
Untuk ASI beku, keluarkan kemasan susu steril yang berisi ASI beku. Setengah jam sebelum waktu menyusui, rendamlah di dalam wadah berisi air hangat. Atau pindahkan ASI beku ke lemari pendingin bagian bawah semalam sebelumnya. Saat akan digunakan esok hari, susu akan mencair, kemudian hangatkan. ASI beku yang dicairkan dapat tahan 24 jam dalam lemari pendingin. Ingat, jangan membekukan kembali ASI yang sudah dipindah ke lemari            pendingintersebut.
Tidak dianjurkan memanaskan di atas kompor dan microwave karena akan merusak kandungan vitamin   dalam            ASI.
Buanglah ASI yang tersisa setelah diberikan pada bayi, jangan menyimpan kembali ke lemari        pendingin        atau            dipanaskan.
Berikan ASI dengan menggunakan sendok kecil sesuap demi sesuap

Dibandingkan susu formula, ASI lebih tahan lama.Pada saat berinteraksidengan udara luar, biasanya yangterjadi bukan pembusukan ASI tetapi lebih merupakan berkurangnya khasiat ASI, terutama zat yang membantupembentukan daya imun bayi atau anak.

 

KESIMPULAN

 

Gagasan

ASI kemasan merupakan solusi inovatif guna menunjang asupan gizi anak-anak panti asuhan dan  dampak negatif susu fomula dan susu kalengan berbakteri. Dengan adanya ASI kemasan diharapkan kebutuhan gizi anak-anak panti asuhan yang selama ini tidak pernah dipenuhi oleh ASI dapat terpenuhi.Adanya DONOR ASI untuk mewujudkan ASI kemasan ditengah permasalahan ekonomi, dan semakin naiknya harga susu formula yang belum jelas manfaatnya bagi bayi dan anak-anak. ASI kemasan di tujukan untuk menggugah kesadaran ibu-ibu guna  dapat juga memenuhi kebutuhan ASI anak anak panti asuhan sehingga  kebutuhan susu anak panti asuhan dapat terpenuhi, bukan hanya untuk anak mereka tetapi kaum ibu-ibu diharapkan juga dapat mendonorkan ASInya untuk anak-anak panti asuhan yang tidak pernah mendapatkan sentuhan ASI  melalaui DONOR ASI PEDULI ANAK NEGERI.

 

 

 

Tehnik Implementasi

Untuk membuat ASI kemasan langkah yang pertama dilakukan adalah pengambilan ASI yang sehat dan bersih melalui proses DONOR ASI dari ibu- ibu pendonor dengan  breast pump oleh para praktisi kesehatan yang dilibatkan dalam pembuatan ASI kemasan ini. Langkah selanjutnya, pengemasan ASI yang sudah diperas dalam kemasan yang sudah disterilkan terlebih dahulu dengan mencantumkan tanggal penyimpanan. Sehingga lama waktu penympanan ASI kemasan dapat di kontrol setiap saat. Langkah terakhir,simpan ASI kemasan pada lemari pendingin yang suhunya stabil. Untuk ketahanan ASI yaitu 0 sampai s/d 15 derajat celcius. Sosialisasi dan kesadaran masyarakat sangat penting untuka menunjang terealisasinya gagasan ini.

 

Prediksi Hasil

Berdasarkan data-data yang dimiliki, ASI kemasan  dapat diterima dimasyarakat karena kegiatan ini merupakan kegiatan sosial yang menguntungkan untuk anak-anak panti asuhan dan juga untuk ibu-ibu pendonornya.ASI kemasan akan menunjang kecukupan gizi anak-anak panti asuhan dan mencegah sejak dini  dampak negatif susu formula berbakteri terhadap anak-anak panti asuhan melalui kesadaran ibu-ibu dengan DONOR ASI. Sehingga dengan adanya ASI kemasan ini manusia kembali lagi ke kodratnya yaitu manusia minum susu manusia dan anak-anak panti asuhan tumbuh sehat karena mereka juga adalah generasi kita yang pantas mendapatkan kelayakan-kelayakan melalui kesadaran kita kepada mereka.