1.1  Latar Belakang

 

Masa depan hobi dan industri ikan hias air laut bergantung dari usaha bersama

semua pihak yang terlibat dalam menjamin bahwa perdagangan ikan hias dilakukan secara berkelanjutan, bertanggung jawab, dan ramah lingkungan. Belakangan ini industri ikan hias air laut banyak menerima kritikan dari pihak luar karena adanya praktek praktek penangkapan ikan hias dan pengumpulan koral yang merusak lingkungan.Misalnya, ikan hias asal Indonesia dan Philipina mempunyai citra yang buruk di matakonsumen karena dianggap ditangkap dengan menggunakan potasium sianida (KCN).Citra yang buruk semacam ini merugikan para pelaku industri yang selama ini mengutamakan kualitas dan bekerja keras untuk menghindari praktek-praktek merusak lingkungan.

Salah satu alat yang digunakan dalam pemanfaatan produk ikan hias air laut yang berkelanjutan adalah dengan menggunakan standar dalam mendidik dan mensertifikasi semua pihak yang terlibat dalam pengambilan dan pemeliharaan ikan hias dan koral mulai dari habitatnya di terumbu karang sampai akuarium.

Kedepan, trend pengembangan teknologi penangkapan ikan hias ditekankan pada teknologi penangkapan ikan hias yang ramah lingkungan (enviromental friendly fishing tecnology) dengan harapan dapat memanfaatkan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan. Teknologi penangkapan ikan  hias ramah lingkungan adalah suatu alat tangkap yang tidak memberikan dampat negatif terhadap lingkungan, yaitu sejauh mana alat tangkap tersebut merusak dasar perairan, kemungkinan hilangnya alat tangkap, serta kontribusinya terhadap polusi. Faktor lain adalah dampak terhadap bio-diversity dan target resources yaitu komposisi hasil tangkapan, adanya by catch serta tertangkapnya ikan-ikan muda.

 

1.2  Rumusan Masalah

  1. Bagaimana Penangkapan Hias Yang Ramah Lingkungan
  2. Bagaimana Penggunaan Alat Selam Pada Penangkapan Ikan Hias

 

 

1.3  Tujuan

  1. Untuk Mengetahui Cara Penangkapan Ikan Hias Yang Ramah Lingkungan
  2. Untuk Mengetahui Penggunaan Alat Selam Pada Penangkapan Ikan Hias

 

 BAB II PEMBAHASAN

 

2.1  Penangkapan Ikan Hias Yang Ramah Lingkungan

Banyak teknologi yang digunakan tidak memperhatikan kelestarian lingkungan termasuk di dalamnya lingkungan perairan. Lingkungan perairan ini menjadi korban dari ulah kegiatan manusia yang tidak bertanggung jawab, seperti pembuangan limbah rumah tangga maupun industri yang menyebabkan pencemaran. Kegiatan dibidang perikanan seperti penangkapan ikan  hias yang menggunakan  racun dan alat-alat tangkap yang membahayakan kelestarian sumberdaya ikan juga merupakan salah satu faktor yang merusak lingkungan perairan. Sumberdaya ikan, meskipun termasuk sumberdaya yang dapat pulih kembali (renewable resources) namun bukanlah tidak terbatas. Oleh karena itu perlu dikelola secara bertanggungjawab dan berkelanjutan agar kontribusinya terhadap ketersediaan nutrisi, peningkatan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan. Pengelolaan sumberdaya ikan hias sangat erat kaitannya dengan pengelolaan operasi penangkapan ikan hias dan sasaran penangkapan ikan hias  yang dilakukan. Usaha-usaha untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan hias  dari ancaman kepunahan, sebenarnya telah dilakukan sejak lama oleh berbagai ahli penangkapan ikan di seluruh dunia. Sebagai contoh, industri penangkapan ikan hias di Laut Utara telah melakukan berbagai usaha untuk mengurangi buangan hasil tangkap sampingan (by catch) lebih dari seratus tahun yang lalu.
Selain hal tersebut di atas, untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan perlu juga dilihat dari penggunaan alat-alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan yaitu dari segi pengoperasian alat penangkapan ikan, daerah penangkapan dan lain sebagainya sesuai dengan tata laksana untuk perikanan yang bertanggungjawab atau Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF).

Ekosistem terumbu karang merupakan gantungan hidup bagi masyarakat yang hidup di daerah pesisir, baik secara langsung maupun tidak langsung.Bergantung secara langsung dengan mengambil sumberdaya terumbu karang untuk kebutuhan hidup. Tidak langsung, berhubungan dengan fungsi terumbu karang melindungi pulau tempat tinggalnya. Ikan hias merupakan salah satu sumberdaya ekosistem terumbu karang yang menghidupi sebagian besar masyarakat . Dan penangkapan ikan hias ini juga menimbulkan konflik di dalam masyarakat. Sebagian masyarakat yang tidak melakukan penangkapan ikan hias menuduh penangkap ikan hias sebagai perusak ekosistem terumbu karang. Dan hal tersebut tidak dapat dipungkiri karena pada kenyataannya memang sebagian nelayan untuk menangkap ikan-ikan hias tertentu masih menggunakan potas atau racun sianida. Prinsip-prinsip tentang penangkapan ikan hias laut adalah Pengumpulan ikan harus dikelola sedemikian rupa sehingga: Penggunaan bahan-bahan kimia untuk menangkap ikan dilarang. Untuk memudahkan penangkapan ikan, hanya boleh menggunakan tongkat/daun kelapa

Masalah yang sering terjadi dalam kegiatan penangkapan ikan hias laut yang berasal dari terumbu karang adalah tingginya tingkat kematian Mengapa ikan hias hasil tangkapan tersebut mudah mati? Ada beberapa sebab yang sering menjadi sumber kematian ikan hias tersebut, dan kesemua ini berkaitan dengan prinsip penangkapan ikan hias ramah lingkungan. Dalam kegiatan penangkapan ikan hias di terumbu karang yang ramah lingkungan, ada serangkaian kriteria yang harus dilaksanakan. Penangkapan ikan hias ramah lingkungan mencakup:Tata cara penangkapan, Penanganan dan penyimpanan,Persyaratan lain yang berkaitan dengan perawatan dan prinsip-prinsip.

Tata cara penangkapan ikan hias, penggunaan alat selam merupakan salah satu dari beberap[a bagian terpenting yang harus diketahui oleh nelayan penangkap ikan hias air laut.

2.2 Penggunaan Alat Selam Pada Penangkapan Ikan Hias

Penangkapan ikan hias yang ramah lingkungan tidak lepas dari pengetahuan penggunaan alat selam dan aspek fisiologisnya untuk  nelayan. Walaupun nelayan hanya menggunakan snorkel untuk menangkap ikan hias tapi ilmu selam dan pengetahuan selam sangat dibutuhkan oleh para nelayan.Seperti : Snorkel, Masker/gogel,Fins.

Penglihatan di dalam air sangat buruk, maka diperlukan alat yaitu masker. Alat tersebut memberikan rongga udara antara mata dan air, sehingga penglihatan akan lebih jelas dan dapat melindungi terhadap iritasi air pada mata.Sewaktu menyelam, masker akan mendapat tekanan hidrostatis. Oleh karena itu, pemakaian masker tidak boleh terlalu ketat dan selalu mengadakan equalisasi (penyesuaian tekanan) dengan menghembuskan udara ke dalam masker melalui hidung, maka hidung harus diikutsertakan ke dalam masker. Dengan alasan inilah kenapa goggle (kacamata renang) tidak dapat digunakan untuk menyelam.Masker mempunyai kelemahan sebagai akibat dari kombinasi sudut bias dan indeks bias antara air, kaca, dan udara yang menyebabkan benda-benda akan terlihat ¡¾2 kali lebih besar dan ¡¾1/2 kali lebih dekat.Untuk mendapatkan masker yang baik dan sesuai dengan kegunaannya, perlu memperhatikan ciri-ciri masker sebagai berikut:

1. Safety tempered glass

2. Frame terbuat dari bahan anti karat

3. Double seal/skirt yang lentur untuk wajah

4. Nose pocket/kantung hidung

5. Ikat kepala/strap dilengkapai dengan buckle

6. Katup Kuras

Snorkel adalah sebuah pipa yang dipergunakan untuk bernapas bagi penyelam di permukaan air, berguna untuk skin diving sewaktu beristirahat di permukaan. Melalui snorkel seorang penyelam dapat mudah bernapas tanpa harus menegakkan kepala keluar dari air saat berada di permukaan, sehingga dapat bebas mengamati keadaan bawah air. Panjang pipa ¡¾ 30 cm, apabila lebih maka akan bertambah besar volume ruang udara mati (dead air space) yang dapat mengurangi udara baru yang masuk ke dalam paru-paru.

Snorkel biasanya digantungkan di sebelah kiri masker pada penyelaman, namun dapat juga di depan atau sebelah kanan, tergantung tipe snorkel.

Teknik napas melalui snorkel dengan menghembuskan udara terlebih dahulu, kemudian membuang napas, hal ini untuk menghindari adanya air yang masuk melalui ujung pipa yang terbuka.Untuk mengetahui ujung pipa snorkel berada diatas permukaan, dapat di cek dengan dipegang oleh tangan kiri. Untuk mengetahui ujung pipa sudah masuk ke dalam air biasanya akan terdengar air masuk ke pipa snorkel pada telinga sebelah kiri atau kanan.

Fins digunakan untuk menambah daya kayuh penyelam sehingga menambah laju pergerakan dalam air, bukan untuk kecepatan. Teknik pemakaian ayunan kaki perlahan namun kuat serta santai. Fin yang diindonesiakan dengan istilah “sirip selam” atau “kaki katak” diciptakan untuk memberi kekuatan pada kaki dan merupakan piranti penggerak. Fins bukan dibuat demi menambah kecepatan berenang namun menambah daya kayuh. Dengan bantuan fins kemampuan renang kita bertambah 10 kali lebih besar dibanding tanpa menggunakan fins.

 

 

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Ikan hias di Indonesia memang melimpah, sumberdaya ikan, meskipun termasuk sumberdaya yang dapat pulih kembali (renewable resources) namun bukanlah tidak terbatas. Oleh karena itu perlu dikelola secara bertanggungjawab dan berkelanjutan agar kontribusinya terhadap ketersediaan nutrisi, peningkatan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan.Penangkapan ikan hias yang ramah lingkungan sebagai gerakan awal dan berkelanjutan untuk proses perbaikan

Pengetahuan dan penggunaan alat selam pun harus mumpuni sebagai penunjang keselamata nelayan dalam mencari dan memanfaatkan ikan hias yang ramah lingkungan

 

 

3.2 Saran

Hendaknya kita sebagai semesta pembicaraan lebih arif dalam memanfaatkan sumber daya alam,agar tetap lestari. Dan dapat menggunakan alat alat sebagai penunjang keselamatan.