BAB I

PENDAHULUAN

 

 

 

 

1.1  LATAR BELAKANG

 

Ilmu mengenai perikanan di Indonesia relatif masih baru. Akhir-akhir ini ilmu tentang perikanan banyak dipelajari mengingat ikan merupakan salah satu sumberdaya yang penting. Sebelum kita membahas lebih lanjut pengertian ikhtiologi, sebaiknya perlu diketahui tentang “Apakah Ikan itu?“. Ikan merupakan salah satu jenis hewan vertebrata yang bersifat poikilotermis, memiliki ciri khas pada tulang belakang, insang dan siripnya serta tergantung pada air sebagai medium untuk kehidupannya. Ikan memiliki kemampuan di dalam air untuk bergerak dengan menggunakan sirip untuk menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak tergantung pada arus atau gerakan air yang disebabkan oleh arah angin. Dari keseluruhan vertebrata, sekitar 50,000 jenis hewan, ikan merupakan kelompok terbanyak di antara vertebrata lain memiliki jenis atau spesies yang terbesar sekitar 25,988 jenis yang terdiri dari 483 famili dan 57 ordo. Jenis-jenis ikan ini sebagian besar tersebar di perairan laut yaitu sekitar 58% (13,630 jenis) dan 42% (9870 jenis) dari keseluruhan jenis ikan. Jumlah jenis ikan yang lebih besar di perairan laut, dapat dimengerti karena hampir 70% permukaan bumi ini terdiri dari air laut dan hanya sekitar 1% merupakan perairan tawar.

 

Mengapa ilmu tentang perikanan perlu dipelajari?. Selain ikan merupakan salah satu sumberdaya yang penting, nilai-nilai kepentingan yang lain dari ikan antara lain dapat memberikan manfaat untuk rekreasi, nilai ekonomi atau bernilai komersial, dan ilmu pengetahuan untuk masayarakat. Ikhtiologi atau “Ichthyology“ merupakan salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari ikan secara ilmiah dengan penekanan pada taksonomi dan aspekaspek lainnya. Kata ikhtiologi berasal dari pengertian ichtio = ikan dan logos = ilmu, jadi di dalam ikhtiologi ini dicakup beberapa aspek baik mengenai aspek biologi maupun ekologi ikan. Dalam mempelajari ihktiologi ini tidak terlepas dari ilmu-ilmu yang lain karena saling berkaitan. Beberapa cabang ilmu pengetahuan yang sangat terkait dengan ikhtiologi ini antara lain Taksonomi Vertebrata, Morfologi dan Anatomi Hewan, Fisiologi, Genetika, dan Evolusi. Informasi yang digunakan dalam mempelajari hubungan evolusioner ikan berawal dari pengetahuan taksonomi terutama deskripsi ikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.2  PERUMUSAN MASALAH

 

1.2.1 Apa dan Bagaimana system seksualitas ikan?

1.2.2 Bagaimana Macam-Macam Telur Ikan dan Bagiannya?

1.2.3 Bagaimana Proses Pembuahan  Ikan?

 

 

 

 

 

 

1.3  TUJUAN PENULISAN

 

1.3.1 Untuk Mengetaghui System Seksualitas Ikan

1.3.2 Untuk Mengetahui Macam-Macam Telur Ikan dan Bagiannya

1.3.3 Untuk Mengetahui Proses Pembuahan Ikan

 

 

 

 

 

 

 

 

1.4  MANFATAT PENULISAN

 

Manfaat dari penulisan makalah ini adalah Untuk mengetahui pola kehidupan ikan laut secara ikhtiologi baik dari system seksualitas ikan, macam macam telur ikan dan bagian-bagiannya, dan juga adanya informasi yang mendukung tentang proses pembuahan ikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II KAJIAN PUSTAKA

 

 

 

Pemijahan sebagai salah sattu  bagian dari reproduksi merupakan  mata rantai daur hidup  yang menentukan kelangsungan hidup spesies. Penambahan populasi  ikan bergantung kepada berhasilnya pemijahan ini dan juga bergantung kepada kondisi dimana telur dan larva ikan kelak berkembang. Oleh karena itu  sesungguhnya pemijahan menuntut  suatu kepastian untuk keamanan kelangsungan hidup keturunannya denagn memiluih tempat, waktu,dan kondisi yang menguntungkan. Berdasarkan hal ini pemijahan tiap spesiea ikan mempunyai kebiasaan  yng berbeda tergantung habitat  pemijahan itu untuk melangsungkan prossesnya. Dalam keadaan normal ikan melangsungkan pemijahan minimum  satu kali dalam satu daur hidupnya seperti yang terdapat pada ikan salmon  dan sidat. Sesudah melakukan pemijahan , induk ikan tersebut mati karena kehabisan tenaga.

Hampir semua ikan pemijahannya berdasarkan reproduksi sxsual yaitu terjadinya persatuan sel produksi organ seksual yang berupa telur dari ikan betina  dan spermatozoa dari ikan jantan. Dari persatuan kedua macam sel tersebut akan terbentuk individu baru  yang akan menambah besarnya populasi. Persatuan kedua macam sel sex  tadi ada yang terjadi di dalam  tubuh (pembuahan di dalam atau fertilisasi normal) dan ada pula yang terjadi diluar  tubuh (fertilisasi eksternal). Ikan yang mengadakan fertilisai internal mempunyai perlengkapan tubuh untuk memastikan berhasilnya fertilisasi tadi dengan organ khusus untuk keperluan ini. Organ tersebut biasabya terdapat pada ikan jantan saja ,seperti clasper,pada golongan ikan elasmobranchia,pterygopod pada golongan ikan pari (masih elasmobranchia), gonmopodium pada familli  poeciliidae dan beberapa spesies lainnya. Ikan elasmobranchia pada umumnya melakukan fertilisasi internal, sedangkan ikan teleost  yang telah diketahui  melakukan hal ini adalah  family poeciliidae goodidae, yeniinsidae, dan anablepidae.

Sehubungan dengan pemijahan, dikenal ada tig macam ikan yaitu vivipar, ovovivipar, dan ovipar. Ikan vivipar dan ovovivipar ialah ikan yang melahirkan anak-anaknya sedangkan ikan ovipar ialah ikanyang mengeluarkan telur pad waktu terjadi pemijahan. Perbedaan antara  ikan vivipar dan ikan ovovivipar terletrak pada perkembangan telur  yang di kandung dan keadaan anak-anaknya pada waktu dilahirkan.

 

 

 

 

 

BAB III PEMBAHASAN

 

 

3.1SEKSUALITAS IKAN

 

Pada prinsipnya, seksualitas hewan terdiri dari dua jenis kelamin yaitu jantan dan betina. Begitu pula seksualitas pada ikan, yang dikatakan ikan jantan adalah ikan yang mempunyai organ penghasil sperma,sedangkan ikan betina adalah ikan yang mempunyai organ penghasil telur. Suatu populasi terdiri dari ikanikan yang berbeda seksualitasnya, maka populasi tersebut disebut populasi heteroseksual, bila populaitersebut terdiri dari ikan-ikan betina saja maka disebut monoseksual. Namun, penentuan seksualitas ikan di suatu perairan harus berhati-hati karena secara keseluruhan terdapat bermacam-macam seksualitas ikanmulai dari hermaprodit sinkroni, protandri, protogini, hingga gonokorisme yang berdiferensiasi maupun yang tidak.

 

Ikan hermaprodit mempunyai baik jaringan ovarium maupun jaringan testis yang sering dijumpai dalam beberapa famili ikan. Kedua jaringan tersebut terdapat dalam satu organ dan letaknya seperti letak gonad yang terdapat pada individu normal. Pada umumnya, ikan hermaprodit hanya satu sex saja yang berfungsi pada suatu saat, meskipun ada beberapa spesies yang bersifat hemaprodit sinkroni. Berdasarkan perkembangan ovarium dan atau testis yang terdapat dalam satu individu dapat menentukan jenis hermaproditismenya.

a. Hermaprodit sinkron/simultaneous. Dalam gonad individu terdapat sel kelamin betina dan sel kelamin jantan yang dapat masak bersama-sama dan siap untuk dikeluarkan. Ikan hermaprodit jenis ini ada yang dapat mengadakan pembuahan sendiri dengan mengeluarkan telur terlebih dahulu kemudian dibuahi oleh sperma dari individu yang sama, ada juga yang tidak dapat mengadakan pembuahan sendiri. Ikan ini dalam satu kali pemijahan dapat berlaku sebagai jantan dengan mengeluarkan sperma untuk membuahi telur dari ikan yang lain, dapat pula berlaku sebagai betina dengan mengeluarkan telur yang akan dibuahi sperma dari individu lain. Di alam atau akuariumyang berisi dua ekor atau lebih ikan ini, dapat menjadi pasangan untuk berpijah. Ikan yang berfasebetina mempunyai tanda warna yang bergaris vertikal, sesudah berpijah hilang warnanya dan berubah menjadi ikan jantan. Contoh ikan hermaprodit sinkroni yaitu ikan-ikan dari Famili

Serranidae.

b. Hermaprodit protandrous. Ikan ini mempunyai gonad yang mengadakan proses diferensiasi dari fase jantan ke fase betina. Ketika ikan masih muda gonadnya mempunyai daerah ovarium dan daerah testis, tetapi jaringan testis mengisi sebagian besar gonad pada bagian lateroventral. Setelah jaringan testisnya berfungsi dan dapat mengeluarkan sperma, terjadi masa transisi yaitu ovariumnya membesar dan testis mengkerut. Pada ikan yang sudah tua, testis sudah tereduksi sekali sehingga sebagian besar dari gonad diisi oleh jaringan ovarium yang berfungsi, sehingga ikan berubah menjadi fase betina. Contoh ikan-ikan yang termasuk dalam golongan ini antara lain Sparus auratus, Sargus annularis, Lates calcarifer (ikan kakap).

c. Hermaprodit protoginynous. Keadaan yang sebaliknya dengan hermaprodit protandri. Proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan. Pada beberapa ikan yang termasuk golongan ini sering terjadi sesudah satu kali pemijahan, jaringan ovariumnya mengkerut kemudian jaringan testisnya berkembang. Salah satu spesies ikan di Indonesia yang sudah dikenal termasuk ke dalam golongan hermaprodit protogini ialah ikan belut sawah (Monopterus albus) dan ikan kerapu Lumpur (Epinephelus tauvina). Ikan ini memulai siklus reproduksinya sebagai ikan betina yang berfungsi, kemudian berubah menjadi ikan jantan yang berfungsi. Urutan daur hidupnya yaitu : masa juvenile yang hermaprodit, masa betina yang berfungsi, masa intersek dan masa terakhir masa jantan yang berfungsi. Pada ikan-ikan yang termasuk ke dalam Famili Labridae, misalnya Halichieres sp. terdapat dua macam jantan yang berbeda.   Ikan jantan pertama terlihatnya seperti betina tetapi tetap jantan selama hidupnya, sedangkan jantan yang kedua ialah jantan yang berasal dari perubahan ikan betina. Pada ikan-ikan yang mempunyai dua fase dalam satu siklus hidupnya, pada tiap-tiap fasenya sering didapatkan ada perbedaan baik dalam morfologi maupun warnanya. Keadaan demikian menyebabkan terjadinya kesalahan dalam mendeterminasi ikan itu menjadi dua nama, yang sebenarnya spesies ikan itu sama. Misalnya pada ikan Larbus ossifagus ada dua individu yangberwarna merah dan ada yang berwarna biru. Ternyata ikan yang berwarna merah adalah ikan betina, sedangkan yang berwarna biru adalah ikan jantan.

Hermaprodit protandri dan hermaprodit protogini sering disebut hermaprodit beriring. Pada waktu ikan itumasih muda mempunyai gonad yang berorganisasi dua macam seks, yaitu terdapat jaringan testis dan ovarium yang belum berkembang dengan baik. Proses suksesi kelamin dari satu populasi hermaprodit protandri atau hermaprodit protogini terjadi pada individu yang berbeda baik menurut ukuran atau umur, tetapi merupakan suatu proses yang beriring. Selain hermaproditisme, pada ikan terdapat juga Gonokhorisme, yaitu kondisi seksual berganda yaitu pada ikan bertahap juvenil gonadnya tidak mempunyai jaringan yang jelas status jantan atau betinanya. Gonad tersebut kemudian berkembang menjadi semacam ovarium, setelah itu setengah dari individu ikanikan itu gonadnya menjadi ovarium (menjadi ikan betina) dan setengahnya lagi menjadi testis (menjadiikan jantan). Gonokhoris yang demikian dinamakan gonokhoris yang “tidak berdiferensiasi:, yaitu keadaannya tidak stabil dan dapat terjadi interseks yang spontan. Misalnya Anguilla anguilla dan Salmo gairdneri irideus adalah gonokhoris yang tidak berdiferensiasi. Ikan gonokhorisme yang “berdiferensiasi” sejak dari mudanya sudah ada perbedaan antara jantan dan betina yang sifatnya tetap sejak dari kecilsampai dewasa, sehingga tidak terdapat spesies yang interseks.

Sifat seksual primer pada ikan tandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi, yaitu ovarium dan pembuluhnya pada ikan betina, dan testis dengan pembuluhnya pada ikan jantan. Sifat seksual sekunder ialah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan ikan jantan dan ikan betina. Satu spesies ikan yang mempunyai sifat morfologi yang dapat dipakai untuk membedakan jantan dan betina dengan jelas, maka spesies itu bersifat seksual dimorfisme. Namun, apabila satu spesies ikan dibedakan jantan dan betinanya berdasarkan perbedaan warna, maka ikan itu bersifat seksual dikromatisme. Pada umumnya ikan jantan mempunyai warna yang lebih cerah dan lebih menarikdari pada ikan betina.

 

Pada dasarnya sifat seksual sekunder dapat dibagi menjadi dua yaitu :

a) Sifat seksual sekunder yang bersifat sementara, hanya muncul pada waktu musim pemijahan saja. Misalnya “ovipositor”, yaitu alat yang dipakai untuk menyalurkan telur ke bivalvia, adanya semacam jerawat di atas kepalanya pada waktu musim pemijahan. Banyaknya jerawat dengan susunan yang khas pada spesies tertentu bisa dipakai untuk tanda menentukan spesies, contohnyaikan Nocomis biguttatus dan Semotilus atromaculatus jantan.

b) Sifat seksual sekunder yang bersifat permanent atau tetap, yaitu tanda ini tetap ada sebelum, selama dan sesudah musim pemijahan. Misalnya tanda bulatan hitam pada ekor ikan Amia calva jantan, gonopodium pada Gambusia affinis, clasper pada golongan ikan Elasmobranchia, warna yang lebih menyala pada ikan Lebistes, Beta dan ikan-ikan karang, ikan Photocornycus yang berparasit pada ikan betinanya dan sebagainya. Biasanya tanda seksual sekunder itu terdapat positif pada ikan jantan saja. Apabila ikan jantan tadi dikastrasi (testisnya dihilangkan), bagian yang menjadi tanda seksual sekunder menghilang, tetapi pada ikan betina tidak menunjukkan sesuatu perubahan. Sebaliknya tanda bulatan hitan pada ikan Amia betina akan muncul pada bagian ekornya seperti ikan Amia jantan, bila ovariumnya dihilangkan. Hal ini disebabkan adanya pengaruh dari hormon yang dikeluarkan oleh testis mempunyai peranan pada tanda

seksual sekunder, sedangkan tanda hitam pada ikan Amia menunjukkan bahwa hormon yang dikeluarkan oleh ikan betina menjadi penghalang timbulnya tanda bulatan hitam.

 

3.2 MACAM MACAM TELUR IKAN DAN BAGIANNYA

 

Telur dari hewan yang bertulang belakang, secara umum dapat dibedakan berdasarkan kandungan kuning telur dalam sitoplasmnyaa yaitu :

a) Telur homolecithal (isolecithal). Golongan telur ini hanya terdapat pada mamalia. Jumlah kuning telurnya hanya sedikit terutama dalam bentuk butir-bitir lemak dan kuning telur yang terbesar di dalam sitoplama.

b) Telur telolecithal. Golongan telur ini terdapat sejumlah kuning telur yang berkumpul pada salah satu kutubnya. Ikan tergolong hewan yang mempunyai jenis telur tersebut.

Protoplasma dari telur Teleostei dan Elasmobranchia akan mengambil bagian pada beberapa pembelahanpertama. Kuning telur tidak turut dalamproses-proses pembelahan, sedangkan perkembangan embrionya terbatas pada sitoplasma yang terdapat pada kutub anima.

Telur ikan ovipar yang belum dibuahi (Gambar 4.1), bagian luarnya dilapisi oleh selaput yang dinamakan selaput kapsul atau chorion. Pada chorion ini terdapat sebuah mikropil yaitu suatu lubang kecil tempat masuknya sperma ke dalam telur pada waktu terjadi pembuahan. Di bawah chorion terdapat selaput yang kedua dinamakan selaput vitelline. Selaput yang ketiga mengelilingi plasma telur dinamakan selaput plasma. Ketiga selaput ini semuanya menempel satu sama lain dan tidak ada ruang diantaranya. Bagiantelur yang terdapat sitoplasma biasanya berkumpul di sebelah telur bagian atas yang dinamakan kutub

anima, sedangkan bagian kutub yang berlawanan terdapat banyak kuning telur yang dinamakan kutub vegetatif. Kuning telur yang ada di bagian tengah keadaannya lebih pekat daripada kuning telur yang ada

pada bagian pinggir karena adanya sitoplasma yang banyak terdapat di sekeliling inti telur

 

Gambar 4.1 Bagan telur sebelum dibuahi

 

Gambar 4.2 Bagan telur setelah keluar dari tubuh induk, dengan ruang perivitelline

 

Telur yang baru saja keluar dari tubuh induk dan bersentuhan dengan air akan terjadi perubahan yaitu i) selaput chorion akan terlepas dengan selaput vitelline dan membentuk ruang yang ini dinamakan ruang perivitelline (Gambar 4.2). Adanya ruang perivitelline ini , maka telur dapat bergerak lebih bebas selama dalam perkembangannya, selain itu dapat juga mereduksi pengaruh gelombang terhadap posisi embrio yang sedang berkembang. Air masuk ke dalam telur yang disebabkan oleh adanya perbedaan tekanan osmose dan imbibisi protein yang terdapat pada permukaan kuning telur. Selaput vitelline merupakan penghalang masuknya air jangan sampai merembes ke dalam telur. ii) pengerasan selaput chorion. Waktu yang diperlukan untuk pengerasan selaput chorion tidak sama bergantung pada ion kalsium yang terdapat dalam air. Menurut Hoar (1957 dalam Effendie, 1997) telur yang ditetaskan dalam air yang mengandung kalsium klorida 0.0001 M, selaput chorionnya akan lebih keras dari pada telur yang ditetaskan di air suling. Pengerasan chorion ini akan mencegah terjadinya pembuahan polyspermi. Telur-telur ikan yang terdapat di perairan bebas masih sangat sedikit diteliti. Delsman (1921 – 1938) merupakan orang pertama yang melakukan penelitian secara mendalam terhadap telur dan larva ikan pelagis di Laut Jawa. Beberapa macam telur pelagis dan larva di Laut Jawa yang didapat oleh Delsman seperti Gambar 4.3. Tidak semua telur ikan mempunyai bentuk yang sama, umumnya suatu spesies yang berada dalam satu genus mempunyai kemiripan atau mempunyai perbedaan yang kecil. Di perairan didapatkan bermacam telur dan larva ikan bercampur aduk dalam tingkat perkembangan yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan polapemijahan ikan-ikan di Indonesia masih belum diketahui,sehingga ada kemungkinan didapatkan ikanikan yang memijah dalam sepanjang tahun.

 

Gambar 4.3 Jenis-jenis telur ikan pelagis di Laut Jawa dan Selat Malaka (Sumber:Delsman, 1929 dalam Effendie, 1979)

 

 

Keterangan :

1. Chirocentrus dorab                         12. Dorosoma chacunda

2. Tidak dikenal                                  13. Chanos chanos

3. Clupea fimbriata                              14. Pellona sp.

4. Stelophorus heterolobus                   15. Cybium maculatum

5. Engraulis kammalensis                    16. Echeneis naucrates

6. Stolephorus indicus                         17. Saurida tumbil

7. Trichiurus sp.                                  18. Harpodon nehereus

8. Muraena sp.                                    19. Tetradon sp.

9. Decapterus (Caranx) kurra             20. Tidak dikenal

10. Hemirhampus sp.                          21. Fistularia serrata

11. Caranx macrosoma

Dalam menggolongkan telur ikan terdapat beberapa macam tanda yang dapat dipakai untuk membantu pengenalan lebih lanjut antara lain bentuk telur, butir minyak, warna, keadaan permukaan butir kuning telur, dan sebagainya. Sebagai contoh tanda-tanda yang terdapat pada telur ikan Parang-parang dalamkeadaan hidup ukuran telur antara 1590 – 1670 mm, cangkang telur tidak licin, ada sesuatu seperi jarring laba-laba. Berdasarkan tanda-tanda tersebut, maka dapat dibuat klasifikasi telur-telur pelagis yang terdapat di perairan sebagai dsar pengenalan telur lebih lanjut.

Ada beberapa sistem lain dalam pengelompokan telur berdasarkan sifat-sifat yang lain yaitu :

a). Sistem pengelompokan telur ikan berdasarkan jumlah kuning telurnya :

§ Oligolecithal : telur dengan kuning telur sangat sedikit jumlahnya, contoh ikan Amphioxus

§ Telolecithal : telur dengan kuning telur lebih banyak dari Oligolecithal. Umumnya jenis telur

ini banyak dijumpai di daerah empat musim, contoh ikan Sturgeon

§ Makrolecithal : telur dengan kuning telur relatif banyak dan keping sitoplasma di bagian

kutub animanya. Telur semacam ini banyak terdapat pada kebanyakan ikan.

b). Sistem yang berdasarkan jumlah kuning telur namun dikelaskan lebih lanjut berdasarkan berat jenisnya :

§ Non bouyant : telur yang tenggelam ke dasar saat dikeluarkan dari induknya. Golongan telur ini menyesuaikan dengan tidak ada cahaya matahari, kadang-kadang oleh induknya telur diletakkan atau ditimbun oleh batu-batuan atau kerikil, contoh telur ikan trout dan ikan salmon.

§ Semi bouyant : telur tenggelam ke dasar perlahan-lahan, mudah tersangkut dan umumnya telur berukuran kecil, contoh telur ikan Coregonus

§ Terapung : telur dilengkapi dengan butir minyak yang besar sehingga dapat terapung. Umumnya terdapat pada ikan-ikan yang hidup di laut.

c). Telur dikelompokkan berdasarkan kualitas kulit luarnya

§ Non adhesive : telur sedikit adhesive pada waktu pengerasan cangkangnya, namun kemudian sesudah itu telur sama sekali tidak menempel pada apapun juga, contoh telur ikan salmon

§ Adhesive : setelah proses pengerasan cangkang, telur bersifat lengket sehingga akan mudah menempel pada daun, akar tanaman, sampah, dan sebagainya, contoh telur ikan mas (Cyprinus carpio)

§ Bertangkai : telur ini merupakan keragaman dari telur adhesive, terdapat suatu bentuk tangkai kecil untuk menempelkan telur pada substrat

§ Telur berenang : terdapat filamen yang panjang untuk menempel pada substrat atau filament tersebut untuk membantu telur terapung sehingga sampai ke tempat yang dapat ditempelinya, contoh telur ikan hiu (Scylliorhinus sp.)

§ Gumpalan lendir : telur-telur diletakkan pada rangkaian lendir atau gumpalan lendir, contoh telur ikan lele (Clarias) Pengelompokan telur berdasarkan lingkungan yang diberikan induknya;

a). telur tersebar, tidak ada tambahan sesuatu dari induknya untuk keberhasilan hidup telur tersebut.

§ Telur terapung, umumya terdapat pada ikan laut seperti ikan tenggiri.

§ Telur tenggelam ke dasar, banyak terdapat pada ikan air tawar

§ Telur adhesive, menempel pada substrat, batu, tumbuhan dan lain-lain seperti pada ikan mas.

b). telur tersebar atau diletakkan satu persatu tetapi dengan beberapa syarat perlindungan namun tanpa perhatian induk;

§ telur dalam benang lendir

§ telur dengan cangkang yang berubah seperti tangkai yang adhesive

§ telur dibungkus dalam kapsul pelindung yang dikeluarkan oleh uterus

§ bila telur menyentuh air, cangkangnya akan pecah dan menggulung menjadi organ yang adhesive untuk menempel pada substrat

c). telur diletakkan pada gumpalan lendir tetapi tidak membentuk sarang. Telur tersebut dijaga oleh ikan jantan;

§ telur diletakkan di celah batu karang di atas permukaan air terendah pasang naik, sehingga akan terkena udara pada waktu pasang turun. Ikan jantan berpuasa menunggu telur selama pengeraman dari gangguan predator

§ telur tergulung pada massa yang bulat dan induk menggulung dengan tubuhnya

d). Telur diletakkan dalam sarang pada kerikil, pasir atau lumpur di dasar perairan;

§ pada kerikil dalam air yang mengalir. Telur ditutupi dan induk meninggalkan sarang

§ pada pasir atau kerikil di dasar perairan yang digali oleh induk

§ sarang yang berbentuk cangkir di dasar perairan, dan telur tidak ditutupi. Jantan biasanya menjaga telur dan mengipasinya, telur biasanya adhesive.

§ Sarang terpendam di dalam dasar lumpur atau detritus.

e). Sarang telur diletakkan di bawah atau di atas objek. Penjagaan telur biasanya dilakukan oleh ikan jantan.

f). Sarang dibuat dari bahan tanaman yang tersusun seperti sarang burung yang dijalin oleh suatu zat yang dikeluarkan oleh ginjal. Ikan jantan bertugas menjaga sarang.

g). Sarang terbuat dari gelembung atau busa yang disusun oleh ikan jantan dan sarang itu dikeraskan oleh lendir yang dikeluarkan oleh ikan jantan pula. Telur diletakkan dalam gelembung ini.

h). Penyesuaian khusus untuk menjaga telur yang dilakukan oleh induknya;

§ telur dalam mulut, contoh ikan Famili Cichlidae (mujair)

§ sebagian kulit perut induk membengkak untuk meletakkan telur hingga telur menetas, contoh ikan lele di Brazil

§ telur dalam bentuk gumpalan dihubungkan oleh semacam benang dengan bagian lengkungantulang di kepala ikan jantan sehingga kedua gumpalan tersebut menggantung di kedua pinggir kepala

§ telur diletakkan dalam kantung yang terdapat di bagian perut induk, contoh ikan kuda laut (Syngnatidae)

i). pemijahan yang bekerja sama dengan binatang lain, contoh ikan bitterling yang memerlukan moluska untuk meletakkan telurnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

3.3 PROSES PEMBUAHAN

 

Proses pembuahan pada ikan terjadi apabila spermatozoa masuk ke dalam telur melalui lubang mikropil yang terdapat pada chorion. Tiap spermatozoa mempunyai kesempatan yang sama untuk membuahi satu telur, tetapi karena ruang tempat terjadinya pembuahan pada ikan ovipar sangat besar, maka kesempatan spermatozoa itu untuk bertemu dengan telur sebenarnya sangat kecil. Oleh karena itu, spermatozoa yang dikeluarkan jumlahnya sangat besar dibandingkan dengan jumlah telur yang akan dibuahi, sehingga dalam kondisi yang optimum spermatozoa ikan yang baru dikeluarkan dari tubuh mempunyai kekuatan untuk bergerak dalam air selama 1 – 2 menit.

Berdasarkan kepada penelitian yang dilakukan oleh Hartman dan juga oleh Motalenti (Hoar, 1957 dalam Effendie, 1997) telur dan sperma yang baru dikeluarkan dari tubuh induk, mengeluarkan zat kimia yangberguna dalam proses pembuahan. Zat yang dikeluarkan oleh telur dan sperma tersebut dinamakan Gamone. Gamone yang berasal dari telur adalah Gynamone I dan Gynamone II, sedangkan Gamone yangberasal dari spermatozoa adalah Androgamone I dan Androgamone II. Gynamone I berfungsi untuk mempercepat pergerakan dan menarik spermatozoa dari spesies yang sama secara kemotaksis. GynamoneII berfungsi untuk mengumpulkan dan menahan spermatozoa pad permukaan telur. Fungsi Androgamone I ialah untuk menenkan aktivitas spermatozoa ketika masih berada dalam saluran genital ikan jantan, sedangkan Androgamone II berfungsi untuk membuat permukaan chorion menjadi lembek sebagai lawan dari fungsi Gynamone II. Lapisan telur yang sudah berada dalam air adalah keras dan tidak dapat ditembus oleh spermatozoa kecuali melalui mikropil yang bentuknya seperti corong. Lubang corong yang besar terletak di bagian luar dan lubang yang kecil di bagian dalam. Ketika spermatozoa masuk ke dalam lubang corong, itu merupakan sumbat bagi yang lainnya dan setelah kepala spermatozoa itu masuk, bagian ekornya terlepas. Dengan demikian pembuahan pada ikan umumnya monosperma. Apabila terjadi pembuahan polysperma

hanya satu spermatozoa saja yang melebur bersatu dengan inti telur.sedangkan yang lainnya dihisap oleh telur sebagai bahan makanannya. Sesaat setelah terjadi pembuahan, isi telur agak sedikit mengkerut karena pecahnya rongga alveoli yang terdapat di dalam telur, sehingga menyebabkan rongga perivitelline lebih membesar sehingga telur yang telah dibuahi dapat mengadakan pergerakan rotasi selama dalam perkembangannya sampai menetas.

Setelah terjadi pembuahan, telur akan mengalami masa pengeraman oleh induknya hingga menetas menjadi larva ikan. Lama masa pengeraman ikan tidak sama bergantung kepada spesies ikannya dan

beberapa faktor luar. Faktor luar yang terutama mempengaruhi pengeraman ialah suhu perairan. Dalam bidang kultur ikan, sehubungan dengan masa pengeraman dikenal dengan istilah derajat hari, yaitu hasil perkalian derajat suhu perairan dengan lama pengeraman. Derajat hari untuk spesies ikan ada yang nilainya tetap, ada yang berubah-ubah. Menurut Nikolsky (1963 dalam Effendie, 1997) faktor cahaya juga dapat mempengaruhi masa pengeraman ikan. Telur yang sedang dalam masa pengeraman apabila diletakkan dalam tempat yang gelap akan menetas lebih lambat. Faktor luar lainnya yang dapat mempengaruhi masa pengeraman ialah zat yang terlarut dalam air terutama zat asam arang dan ammonia dapat menyebabkan kematian embrio dalam masa pengeraman. Tekanan zat asam dalam air telah diketahui dapat mempengaruhi untur meristik yaitu jumlah ruas tulangg belakang. Bila tekanan zat asam itu tinggi, jumlah ruas tulang belakang embrio menjadi bertambah dan sebaliknya apabila tekanan zat asam arang berkurang jumlah ruas tulang belakang berkurang jumlahnya. Menetas merupakan saat terakhir masa pengeraman sebagai hasil beberapa proses sehingga embrio keluar dari cangkangnya. Pada saat akan terjadi penetasan seperti yang telah dikemukakan, kekerasan chorion semakin menurun. Hal ini disebabkan oleh substansi enzim dan unsur kimia lainnya yang dikeluarkan oleh kelenjar endodermal di daerah pharink. Enzim ini dinamakan chorionase yang terdiri dari pseudokeratin yang kerjanya bersifat mereduksi chorion menjadi lembik. Dalam proses ini pH dan suhu memegang peranan. Menurut Blaxter dalam Effendie (1979) bahwa pH 7,9 – 9,6 dan suhu 14 – 20°C merupakan kondisi yang optimum. Pada waktu akan terjadi penetasan, embrio sering mengubah posisinya karena kekurangan ruang di dalam cangkang. Dengan pergerakan-pergerakan tersebut bagian cangkang telur yang telah lembik akan pecah. Umumnya, dua atau tiga kali pembetulan posisinya embrio mengatur dirinya lagi. Pada bagian cangkang yang pecah ujung ekor embrio dikeluarkan terlebih dahulu sambil digerakkan. Kepalanya dikeluarkan terakhir karena ukurannya lebih besar dibandingkan dengan bagian tubuh yang lainnya, namun kadangkala didapatkan kepala yang keluar lebih dulu. Anak ikan yang baru ditetaskan tersebut dinamakan larva, dengan tubuhnya yang belum sempurna baik organ luar maupun organ dalamnya. Sehubungan dengan perkembangan larva ini, terdapat dua tahap perkembangan yaitu prolarva dan postlarva. Prolarva biasanya masih mempunyai kantung kuning telur, tubuhnya transparan dengan beberapa butir pigmen yang fungsinya belum diketahui. Sirip dada dan ekor sudah ada tetapi belum sempurna bentuknya dan kebanyakan prolarva yang baru keluar dari cangkang telur ini tidak punya sirip perut yang nyata melainkan hanya bentuk tonjolan saja. Mulut dan rahang belum berkembang dan ususnya masih merupakan tabung yang lurus. Sistem pernafasan dan peredaran darah tidak sempurna. Makanannya didapatkan dari sisa kuning telur yang belum habis dihisap. Adakalanya larva ikan yang baru ditetaskan letaknya dalam keadaan terbalik karena kuning telurnya masih mengandung minyak. Apabila kuning telur tersebut telah habis dihisap, larva akan kembali seperti biasa. Larva ikan yang baru ditetaskan pergerakannya hanya sewaktu-waktu saja dengan menggerakkan bagianekornya ke kiri dan kekanan dengan banyak diselingi oleh istirahat karena tidak dapat mempertahankan keseimbangan posisi tegak. Postlarva merupakan masa larva dimana kantung kuning telur mulai hilang sampai terbentuknya organ-organ baru atau selesainya taraf penyempurnaan organ-organ yang telah ada sehingga pada masa akhir dari postlarva tersebut secara morfologi sudah mempunyai bentuk hampir seperti induknya. Pada tahap postlarva ini, larva tersebut sudah terdapat pigmentasi yang banyk pada bagian tubuh tertentu. Perkembangan dari telur hingga larva dapat dilihat pada gambar berikut :

 

a  b    c   d

 

 

e    fg     h

 

i  j

l

 

Gambar 4.5. Perkembangan dari telur hingga larva. a. 12 jam setelah fertilisasi (akhir morula), b. 25 jamterakhir (gastrula), c. 27 jam (kuning telur 7/10 dikelilingi blastoderm), d. 30 jam, e. 37 jam, f. 41 jam,g.54 jam, h. 64 jam, i. 83 jam, j. Larva setelah menetas, k. Juvenil

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

 

4.1 KESIMPULAN

 

Seksualitas ikan terdiri dari dua bagiann yaitu jantan dan betina, yang dikatakan ikan jantan adalah ikan yang mempunyai organ penghasil sperma,sedangkan ikan betina adalah ikan yang mempunyai organ penghasil telur. Telur dari hewan yang bertulang belakang, secara umum dapat dibedakan berdasarkan kandungan kuning telur dalam sitoplasmnyaa yaitu :

a) Telur homolecithal (isolecithal). Golongan telur ini hanya terdapat pada mamalia. Jumlah kuning telurnya hanya sedikit terutama dalam bentuk butir-bitir lemak dan kuning telur yang terbesar di dalam sitoplama.

b) Telur telolecithal. Golongan telur ini terdapat sejumlah kuning telur yang berkumpul pada salah satu kutubnya. Ikan tergolong hewan yang mempunyai jenis telur tersebut. Proses pembuahan pada ikan terjadi apabila spermatozoa masuk ke dalam telur melalui lubang mikropil yang terdapat pada chorion. Tiap spermatozoa mempunyai kesempatan yang sama untuk membuahi satu telur, tetapi karena ruang tempat terjadinya pembuahan pada ikan ovipar sangat besar, maka kesempatan spermatozoa itu untuk bertemu dengan telur sebenarnya sangat kecil.

 

 

4.2 SARAN

 

Untuk menjaga ekosisitem ikan secara lestari di laut, hendaknya kita dapat mengetahui ikhtiologi yaitu ilmu yang mempelajari ikan secara lebih khusus dan mendetail.Baik  dari sisi seksualitas ikan maupun system pembuahan ikan.