Indonesia sebagai  Negara Maritime mempunyai potensi hasil perikanan laut yang sangat besar. Sebagai Negara kepulauan yang mempunyai garis pantai terpanjang di dunia 81.000 km lebih mempunyai  potensi laut 6,1 juta ton/tahun dengan potensi lestari untuk usaha penangkapan 4,9 juta/tahun. Namun demikian potensi lestari tersebut sangat sulit untuk ditingkatkan. Kebutuhan dunia akan produk perikanan makin meningkat setiap tahun. Apabila dikonversikan dari program peningkatan konsumsi ikan penduduk Indonesia pada tahun 2003 dengan jumlah penduduk 210 juta jiwa dengan tingkat konsumsi ikan sebesar 26,5 kg/kapita/tahun, maka dibutuhkan persediaan 5,5 juta ton ikan pertahun. Apabila ditambah dengan volume ekspor 1,4 juta/ton dan kebutuhan ikan untuk industri  tepung ikan 0,3 juta ton/tahun maka pada tahun 2003 terjadi kekurangan produksi ikan sebesar 2,3 juta ton/tahun. Tingkat produksi budidaya pada saat ini 1,1 juta ton, berarti untuk mencukupi kebutuhan akan ikan pada tahun tersebut, Indonesia harus meningkatkan produksi budidaya sebesar 1,2 juta ton/tahun. Salah satu usaha budidaya yang masih  terbuka sangat luas adalah budidaya laut.

Usaha budidaya laut merupukan salah satu usaha yang  dapat  member alternative sumber penghasilan untuk meningkatkan pendapatan bagi  nelayan. Apabila  usaha budidaya  berkembang, maka produksi  dapat ditingkatkan baik jumlah maupun mutunya. Dampak  lebih lanjut dari usaha ini adalah kesejahteraan masyarakat  nelayan mengalami peningkatan, dismping itu Negara  diuntungkan karena  adanya peningkatan jumlah  devisa sebagai hasilekspor produk perikanan.

Kerapu tikus merupakan salah satu jenis ikan kerapu yang mempunyai prospek  pemasaran cukup baik dan harganya mahal terutama untuk pasar ekspor. Kalau kita perhatikan  ditingkat pengumpul ikan krapu, maka prosentase kerapu tikus yang tertangkap sangat  kecil dibandingkan dengan kerapu jenis lain. Hal ini yang menyebabkan  kerapu  tikus sulit dijumpai  dipsaran. Permintaan  pasar akan komoditas ini stabil bahkan  cenderung meningkat. Dengan  demikian pengembangan usaha budidaya  kerpau tikus mempunyai  prospek yang sangat cerah. NAmun demikian hal yang masih menjadi  perhatian  utama adalah ketersediaan  benih yang belum  dapat   terpenuhi baik jumlah, mutu maupun berkesinambungan. Benih yang berasal dari alam ketersediaannya belum dapat dipstikan. Benih yang diperoleh dari hatchery jumlahnya masih sangat terbatas hal ini disebabkan kelulushidupan (SR) yang masih rendah dan hatchery baru terdapat di lembaga pemerintah yang sedikit  jumlahnya dan terbatas fasilitasnya.

Memperhatikan hal tersebut, maka usaha pembenihan yang dlakukan baik usaha kecil perorangan, kelompok tani-nelayan maupun pengusaha besar mutlak diperlukan dan  harus segera dikembangkan untuk memenuhi  kebutuhan benih saat ini dan msa yang akan datang. Disamping memenuhi kebutuhan bnih didalam negeri, maka kelebihan benih juga  dapat diekspor ke Negara-negara  yang membutuhkan baik sebagai  ikan  hias maupun  benih budidaya. Hal ini memberikan peluang  tersendiri oleh karena pada saat  ini pembenihan kerapu tikus yang sudah berhasil memproduksi benih secara missal baru di Indonesia dan belum berhasil di negara-negara lain.

2.1      Taksonomi dan Morfologi Kerapu Tikus

Menurut Randall (1987), sistematika kerapu tikus adalah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.1. Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis)

Phylum                            : Chordata

Subphylum                      : Vertebrata

Class                                : Osteichtyes

Sub class                          : Actinopterigi

Ordo                                : Percomorphi

Sub ordo                          : Percoidea

Family                             : Serranidae

Subfamily                        : Epinephelinae

Genus                              : Cromileptes

Spesies                             : Cromileptes altivelis

 

Deskripsi yang dilakukan oleh Swainson cit Randall (1987) menyebutkan kerapu tikus mempunyai sirip dorsal X, 17-19; sirip anal III, 10; sirip pectoral 17-18; sirip garis lateral53-55; sisik berbentuk sikloid; bagian dorsal meninggi berbentuk concave (cembung); tebal tubuh2,6-3,0 inc SL; tidak mempunyai gigi cacine; lobang hidung besar berbentuk bulan sabit vertikal; sirip caudal membulat. Warna kulit terang abu-abu kehijauan dengan bintik-bintik hitam diseluruh kepala, badan dan sirip. Kerapu tikus muda bintik hitamnya lebih besar dan lebih sedikit. Menurut Valenciennes cit Randall (1987) kerapu tikus mempunyai panjang maksimum 70 cm.

 

2.2      Penyebaran dan Habitat

 

Daerah penyebaran kerapu tikus dimulai dari Afrika Timur sampai Pasifik Barat Daya (Valenciennes cit Randall. 1987). Weber dan Beaufort (1931) mengatakan bahwa, di Indonesiaa ikan kerapu banyak ditemukan diperairan Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Pulau Buru dan Ambon. Salah satu indikator adanya kerapu adalah perairan karang, Indonesia memiliki perairan karang yang cukup luas sehingga potensi sumberdaya ikan kerapunya sangat besar (Tampubolon dan Mulyadi, 1989).

Dalam siklus hidupnya, pada umunya kerapu muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5-3 m, selanjutnya menginjak dewasa berupaya keperairan yang lebih dalam antara 7-40 m, biasanya perpindahan ini berlangsung pada siang dan senja hari. Telur dan larva bersifat pelagis sedangkan kerapu muda hingga dewasa bersifat demersal (Tampubolon dan Mulyadi, 1989). Habitat favorit larva dan kerapu tikus muda adalah perairan pantai dengan dasar pasir berkarang yang banyak ditumbuhi padang lamun (Anonymous, 1991).

Powles cit Leis (1987) telah melakukan studi distribusi vertikal pada berbagai jenis larva ikan kerapu dngan menggunakan jaring neuston dan jaring bongo. Larva kerapu pada umumnya menghindari permukaan air pada siang hari, sebaliknya pada malam hari lebih banyak ditemukan dipermukaan air. Penyebaran vertikal tersebut sesuai dengan sifat ikan kerapu sebagai organisme noctural, pada siang hari lebih banyak bersembunyi di liang-liang karang, sedangkan pada malam hari aktif bergerak dikolom air untuk mencari makan.

Parameter-parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu temperatur antara 24-31 oC, salinitas antara 30-33 ppt, kandungan oksigen terlarut lebih besar dari       3,5 ppm dan pH antara 7,8-8,0 (Chua dan Teng, 1978; Yoshimitsu et. al. 1986). Menurut Nybakken (1988) perairan dengan kondisi tersebut diatas pada umumnya terdapat diperairan terumbu karang.

 

2.3      Siklus Reproduksi dan Perkembangan dan Perkembangan Gonad

Ikan kerapu bersifat hermaprodit protogini, yaitu pada perkembangan mencapai dewasa (matang gonad) berjenis kelamin betina dan akan berubah menjadi jantan apabila ikan tersebut tumbuh menjadi lebih besar atau bertambah tua umurnya. Fenomena perubahan jenis kelamin pada kerapu sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin dan ukuran (Smith, 1982). Sedangkan Chen (1977) mengatakan bahwa pada jenis E. diacanthus kecenderungan  perubahan kelamin terjadi selama massa non reproduksi yakni antara umur 2-6 tahun, tetapi perubahan terbaik terjadi antara umur 2-3 tahun dan perubahan itu terus berlangsung sepanjang tahun kecuali dua bulan selama masa kematangan gonad. Secara garis besar dapat dikatakan peralihan perubahan kelamin akan ada selama tidak dalam musim pemijahan, dan perubahan kelamin segera didapati sesudah pemijahan berlangsung.

Pada umumnya kerapu bersifat soliter tetapi pada saat akn memijah bergerombol, di perairan Indo Pasifik puncak pemijahan berlangsung beberapa hari sebelum bulan purnama pada malam hari (Tampubolon dan Mulyadi, 1989). Dari hasil pengamatan diwilayah Indonesia, musim-musim pemijahan ikan kerapu terjadi pada bulan Juni-September dan Nopember-Pebruari terutama di perairan Kep. Riau, Karimun Jawa dan Irian Jaya ( Sugama, 1995).

 

2.4      Perkembangan Larva

Telur fertil berwarna bening atau transparan, melayang-layang di badan air atau mengapung di permukaan air dengan diameter antara 850-950 mikron dan mempunyai gelembung minyak dengan diameter 170-220 mikron terletak pada bagian posterior, sehingga posisi embrio larva nungging ke bawah. Telur yang dibuahi akan mengalami perkembangan lebih lanjut menjadi embrio dan menetas menjadi larva kurang lebih 19 jam sejak telur dibuahi. Telur yang tidak dibuahi akan segera berubah warna menjadi keruh atau putih dan mengendap di dasar air.

Berdasarkan pengamatan mikroskopis dapat diketahui bahwa telur ikan kerapu tikus berbentuk bulat tanpa kerutan, cenderung menggerombol pada kondisi aerasi dan kuning telur tersebar merata. Perkembangan embrional telur sejak pembuahan sampai penetasan membutuhkan waktu paling tidak 19 jam, dimana pembelahan sel pertama kali terjadi 40 menit setelah pembuahan. Pembelahan sel berikutnya berlangsung setiap 15-30 menit sampai mencapai tahap multisel selama 2 jam 25 menit sejak penetasan. Setelah tahap multisel tahap berikutnya adalah blastula, gastrula, neurula, dan embrio. Gerakan pertama pada embrio terjadi kurang lebih pada jam ke 16 setelah pembuahan, selanjutnya telur menetas menjadi larva pada sekitar jam ke 19 pada suhu antara 27-29 oC. Larva yang baru menetas mempunyai panjang badan total antara 1,69-1,79 mm. Mata belum berpigmen, mulut dan anus belum terbuka. Perkembangan berikutnya tubuh semakin panjang, sedangkan kantong telur dan gelembung minyak semakin mengecil. Pembentukan sirip punggung mulai terjadi pada hari pertama. Pada hari kedua sirip dada mulai terbentuk dan jaringan usus telah berkembang sampai ke anus. Berikutnya pada hari ketiga mulai terjadi pigmentasi saluran pencernaan bagian atas dan mulut mulai membuka dengan ukuran bukaan sekitar 75 mikron.

 

2.5      Cara Makan dan Jenis Makanan

Sebagaimana jenis ikan kerapu lainnya, kerapu tikus bersifat carnivora, terutama memangsa larva moluska (trokofor), rotifer, mikrokrustasea, kopepode, dan zooplankton untuk larva; sedangkan untuk ikan kerapu tikus yang lebih dewasa memangsa ikan-ikan kecil, crustacea dan cephalopoda. Menurut Nybakken (1988) sebagai ikan karnivora, kerapu cenderung menangkap mangsa yang aktif bergerak di dalam kolom air. Kerapu mempunyai kebiasaan makan pada siang dan malam hari, lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari (Tampubolon dan Mulyadi, 1989). Berdasarkan prilaku makannya, ikan kerapu menempati struktur tropik teratas dalam piramida rantai makanan ( Randall, 1987). Sebagai ikan karnivora, kerapu mempunyai sifat buruk yaitu kanibalisme. Kanibalisme merupakan salah satu penyebab kegagalan pemeliharaan dalam usaha pembenihan.

3.1     Pembudidayaan Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis)

Kerapu tikus merupakan salah satu jenis ikan kerapu yang mempunyai prospek pemasaran cukup baik dan mahal terutama untuk pasar ekspor. Kalau kita perhatikan ditingkat pengumpul ikan kerapu, maka prosentase kerapu tikus yang tertangkap sangat kecil dibandingkan dengan kerapu jenis lainnya. Hal ini menyebabkan kerapu tikus sulit di jumpai di pasaran. Permintaan pasar akan komoditas ini stabil bahkan cenderung meningkat. Dengan demikian pengembangan usaha budidaya ikan kerapu ini memiliki prospek yang sangat cerah.

Adapun yang harus diperhatikan dalam proses pembudidayaan ikan kerapu tikus yaitu:

1)      Lokasi

Pemilihan lokasi untuk budidaya ikan kerapu memegang peranan yang sangat penting. Permilihan lokasi yang tepat akan mendukung kesinambungan usaha dan target produksi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih lokasi untuk budidaya ikan kerapu ini adalah faktor resiko seperti keadaan angin dan gelombang, kedalaman perairan, bebas dari bahan pencemar, tidak mengganggu alur pelayaran; faktor kenyamanan seperti dekat dengan prasarana perhubungan darat, pelelangan ikan (sumber pakan), dan pemasok sarana. Dan prasarana yang diperlukan (listrik, telpon), dan faktor hidrografi seperti selain harus jernih, bebas dari bahan pencemaran dan bebas dari arus balik, Dan perairannya harus memiliki sifat fisik dan kimia tertentu (kadar garam, oksigen terlarut).

2)      Analisis Produksi

Kerapu merupakan jenis ikan demersal yang suka hidup di perairan karang, di antara celah-celah karang atau di dalam gua di dasar perairan. Ikan karnivora yang tergolong kurang aktif ini relatif mudah dibudidayakan, karena mempunyai daya adaptasi yang tinggi. Untuk memenuhi permintaan akan ikan kerapu yang terus meningkat, tidak dapat dipenuhi dari hasil penangkapan sehingga usaha budidaya merupakan salah satu peluang usaha yang masih sangat terbuka luas.

Dikenal 3 jenis ikan kerapu, yaitu kerapu tikus, kerapu macan, dan kerapu lumpur yang telah tersedia dan dikuasai teknologinya. Dari ketiga jenis ikan kerapu di atas, untuk pengembangan di Singaraja ini disarankan jenis ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). Hal ini karena harga per kilogramnya jauh lebih mahal dibandingkan dengan kedua jenis kerapu lainnya. Di Indonesia, kerapu tikus ini dikenal juga sebagai kerapu bebek atau di dunia perdagangan internsional mendapat julukan sebagai panther fish karena di sekujur tubuhnya dihiasi bintik-bintik kecil bulat berwarna hitam.

3)      Penyebaran dan Habitat

Daerah penyebaran kerapu tikus di mulai dari Afrika Timur sampai Pasifik Barat Daya. Di Indonesia, ikan kerapu banyak ditemukan di perairan Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Pulau Buru, dan Ambon. Salah satu indikator adanya kerapu adalah perairan karang. Indonesia memiliki perairan karang yang cukup luas sehingga potensi sumberdaya ikan kerapunya sangat besar.

Dalam siklus hidupnya, pada umumnya kerapu muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5 – 3 m, selanjutnya menginjak dewasa beruaya ke perairan yang lebih dalam antara 7 – 40 m. Telur dan larvanya bersifat pelagis, sedangkan kerapu muda dan dewasa bersifat demersal. Habitat favorit larva dan kerapu tikus muda adalah perairan pantai dengan dasar pasir berkarang yang banyak ditumbuhi padang lamun.

Parameter-parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu temperatur antara 24 – 310C, salinitas antara 30-33 ppt, kandungan oksigen terlarut > 3,5 ppm dan pH antara 7,8 – 8. Perairan dengan kondisi seperti ini, pada umumnya terdapat di perairan terumbu karang.

Budidaya ikan kerapu tikus ini, dapat dilakukan dengan menggunakan bak semen atau pun dengan menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA). Untuk keperluan studi ini, dipilih budidaya dengan menggunakan KJA. Budidaya ikan kerapu dalam KJA akan berhasil dengan baik (tumbuh cepat dan kelangsungan hidup tinggi) apabila pemilihan jenis ikan yang dibudidayakan, ukuran benih yang ditebar dan kepadatan tebaran sesuai.

4)      Metode Bak Kultur

Seperti  telah disebutkan, bahwa bak kultur yang diperlukan dalam usaha pembenihan adalah: bak atau pematangan induk, bak pemeliharaa larva, dan bak kultur plankton.

  1. 1.      Bak induk

Bak yang dimaksud adalah bak yang digunakan untuk pemeliharaan induk hingga matang gonad bahkan memijah. Pemeliharaan atau pematangan induk dapat dilakukan melalui 2 macam wadah yaitu karamba jarring apung dilaut dan bak secara terkendali di darat.

Bak untuk pemeliharaan induk atau pematangan gonad dapat terbuat dari fiberglass atau pasangan bata. Bak sebaiknya terbentuk bulat, untuk memudahkan dalam pengumpulan telur dan sirkulsi air media akan lebih sempurna.Kapasitas bak  minimal adalah 50 ton dengan kedalaman 2 meter.  Untuk  keperluan dalam pengumpulan telur bak dilengkapi dengan bak penampung telur yang terletak tepat pada pipa pembuangan air yang dibuat pada permukaan bak. Disamping pipa pembuangan pada permukan yang berfungsi untuk mengeluarkan telur, juga harus dilengkapi pipa pembuangan yang terletak pada dasar bagian tengah untuk mengeluarkan kotoran dan pengeringan. Bak  induk seluruhnya ditempatkan dalam ruang terbuka yang mendapatkan cukup matahari.

 

  1. 2.      Bak pemeliharaan larva

Larva kerapu tikus dapat dipelihara dalam bak yang terbuat dari berbagai bahan dan ukuran, namun demikian harus memenuhi beberapa persyaratan yang diperlukan secara teknis dan kemudahan oprasional. Beberapa persyaratan bak larva : terbuat dari bahan yang tidak bereaksi dengan air laut atau bahan kimia, pori-pori bak terutama bagian dalam harus halus sehingga mudah pada saat pembersihan, tahan lama serta harga ekonomis.

Bak Larva harus dilengkapi dengan bak  panen yaitu bak kecil untuk menampung benih sementara pada saat panen. Bak ditempatkan tepat dibagian pipa pembuangan karena pada saat panen, jika  bak larva mempunyai kapasitas sekitar 10 ton, bak panen paling tidak mempunyai ukuran 1x 0,5 x 0,4 meter. Ukuran dan bentuk larva tidak berpengaruh langsung terhadap kehidupan larva.

Larva kerapu tikus, peka terhadap intensitas cahaya yang terlalu kuat, untuk itu bak pemeliharaan larva sebaiknya ditempatkan dalam ruang beratap. Atap dapt terbuat dari bahan asbes atau bahan lain yang tidak transparan. Jika bak ditempatkan dalam ruang tertutup(dilengkapi dengan dinding) atap asbes sebaiknya dikombinasi dengan bahan atap yang transparan sekitar 10 % agar supaya ruangan tidak terlalu gelap.Ketersediaan cahaya ii mempunyai plankton yang terdapat dalam media pemeliharaan dan dapat tetap hidup.

 

  1. 3.      Bak kultur plankton

Sarana kultur plankton yang diperlukan tidak hanya bak untuk kultur missal. Kultur  plankton dilakukan secara bertingkat  mulai kultur murni hingga kultur missal. Untuk keperluan kultur murni diperlukan laboratorium. Seperti halnya untuk pemeliharaan larva, bak untuk keperluan kultur missal plankton dapat teruat dari berbagai bahan dan ukuran. Namun bak yang paling umum adalah bak semen. Ukuran bak disesuaikan dengan kebutuhan plankton setiap harinya, jika bak larva lebih dari 10 bak sebaiknya bak plankton berukuran minimal 50 ton. Hal ini memudahkan dalam pekerjaan dan untuk mengoptimalkan tenaga kerja. Ukuran minimal bak plankton sebaiknya adalah sama dengan bak pemeliharaan larva. Berbagai ukuran bak ini bukan berdasarkan kebutuhan teknis kultur plankton tetapi untuk memudahkan dalam pekerjaan. Pada prinsipnya plankton dapat tumbuh dengan baik dan pada berbagai wadah.

Jumlah bak plankton yang diperlukan harus disesuaikan dengan jumlah bak pemeliharaan larva. Dan hasil penghitungan dan pengalaman, total volume bak plankton minimal 200% dari total volume bak larva. Dari total volume tersebut digunakan untuk kultur fitoplankton dan sisanya untuk zooplankton (rotifer)

Langkah-langkah dalam proses budidaya ikan kerapu yaitu:

1)                  Pemilihan Benih

Kriteria benih kerapu yang baik, adalah : ukurannya seragam, bebas penyakit, gerakan berenang tenang serta tidak membuat gerakan yang tidakberaturan atau gelisah tetapi akan bergerak aktif bila ditangkap, respon terhadap pakan baik, warna sisik cerah, mata terang, sisik dan sirip lengkap serta tidak cacat tubuh.

2)                  Penebaran Benih

Proses penebaran benih sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup benih. Sebelum ditebarkan, perlu diadaptasikan terlebih dahulu panda kondisi lingkungan budidaya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam adaptasi ini, adalah :

(a) waktu penebaran (sebaikanya pagi atau sore hari, atau saat cuaca teduh)

(b) sifat kanibalisme yang cenderung meningkat panda kepadatan yang tinggi

(c) aklimatisasi, terutama suhu dan salinitas.

3)                  Pendederan

Benih ikan kerapu ukuran panjang 4 – 5 cm dari hasil tangkapan maupun dari hasil pembenihan, didederkan terlebih dahulu dalam jaring nylon berukuran 1,5×3×3 m dengan kepadatan ± 500 ekor. Sebulan kemudian, dilakuan grading (pemilahan ukuran) dan pergantian jaring. Ukuran jaringnya tetap, hanya kepadatannya 250 ekor per jaring sampai mencapai ukuran glondongan (20 – 25 cm atau 100 gram). Setelah itu dipindahkan ke jaring besar ukuran 3×3×3 m dengan kepadatan optimum 500 ekor untuk kemudian dipindahkan ke dalam keramba pembesaran sampai mencapai ukuran konsumsi (500 gram).

4)   Pakan dan Pemberiannya

Biaya pakan merupakan biaya operasional terbesar dalam budidaya ikan kerapu dalam KJA. Oleh karena itu, pemilihan jenis pakan harus benar-benar tepat dengan mempertimbangkan kualitas nutrisi, selera ikan dan harganya. Pemberian pakan diusahakan untuk ditebar seluas mungkin, sehingga setiap ikan memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan pakan. Pada tahap pendederan, pakan diberikan secara ad libitum (sampai kenyang). Sedangkan untuk pembesaran adalah 8-10% dari total berat badan per hari. Pemberian pakan sebaiknya pada pagi dan sore hari. Pakan alami dari ikan kerapu adalah ikan rucah (potongan ikan) dari jenis ikan tanjan, tembang, dan lemuru. Benih kerapu yang baru ditebar dapat diberi pakan pelet komersial. Untuk jumlah 1000 ekor ikan dapat diberikan 100 gram pelet per hari. Setelah ± 3-4 hari, pelet dapat dicampur dengan ikan rucah. Produk NASA yang dapat digunakan adalah Viterna dan POC NASA, kedua produk ini dicampur terlebih dahulu menjadi satu. Dosis : 1 tutup botol campuran dari 2 produk NASA tersebut dicampurkan pada 1 liter air, kemudian disemprotkan atau direndam pada 5 kg pelet atau pakan ikan kerapu lainnya. Selanjutnya dikeringanginkan secukupnya sekitar 15 menit, kemudian baru pakan atau pelet ditebar di kolam. Pemberian 1 – 2 kali per hari pemberian pada pagi atau sore hari.

3.2  Faktor Penyebab Timbulnya Penyakit

  1. 1.      Lingkungan

Lingkungan terutama  sifat fisik, kimia dan biologi  perairan sangat mempengaruhi  kesimbangan antara ikan  sebagai inang dan organisasi penyebab penyakit. Lingkungan yang baik akan meningkatkan daya tahan ikan, sedang lingkungan yang kurang baik akan menyebabkan ikan mudah stress dan  dapat menurunkan  daya tahan  tubuh serta rentan terhadap serangan pathogen. Beberapa faktor lingkungan  yang dapat mempengaruhi kesehatan ikan adalah tempratur air, oksigen terlarut,salinitas,bahan oranik, Ammonia dan beberapa senyawa yang bersifat racun seperti pestisida.

  1. 2.      Daya Dukung Perairan

Kepadatan ikan yang melebihi daya dukung perairan akan  menimbulkan persaingan oksigen yang tinggi, sehingga  oksigen  terlarut menjadi rendah dan sisa metabolisme seperti  ammonia akan meningkat sehingga dapat menimbulkan stress dan merupakan penyebab timbulnya penyakit.

  1. 3.      Pakan

Pemberian  pakan yang kurang baik mutunya dapat menyebabkan ikan kekurangan vitamin-vitamin yang akan diikuti oleh pertumbuhan yang lambat atau penurunan daya tahan ikan sehingga ikan mudah terkena penyakit. Selain itu tingkat pemberian pakan dan kualitas pakan yang diberikan juga dapat mempengaruhi  system kekebalan.

Jenis-jenis Penyakit

Penyakit yang terdapat  pada pemeliharaan ikan kerapu tikus disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor pathogenetik dan non pathogenethik.

  1. 1.    Faktor pathogenetik
    1.  Penyakit  cacing, cacing mikroskopik  jenis nematode banyak dijumpai pada air  media  pemeliharaan larva kerapu tikus. Cacing jenis nematode yang ditemukan jumlahnya sangat  banyak, rata-rata berukuran panjang 834 mikro, dengan diameter tengah 88 mikro dan diameter ujung 18 mikro. Penyebab timbulnya  cacing dipemeliharaan ikan disebabkan oleh tingginya  bahan organic terlarut di perairan. Kondisi perairan  yang demikian dapat mempercepat berkembangnya cacing.Dalam usaha pembenihan  ikan kerapu tikus cacing jenis Nematoda perlu mendapat perhatian, karena dapat menyebabkan kegagalan karena banyak menimbulkan kematian dalam jumlah besar.
    2. Cryptocarioniasis

Penyakit ini disebabkan oleh jenis parasit protozoa yaitu Cryptocarioniasis irritans.Gejala yang terlihat  adalah terdapat bintik-bintikputih seperti titik, luka yang tersebar dan terjadi pendarahan pada kulit bagian dalam. Ikan kehilangan nafsu makan, mata membekak, pada sisik-sisik lepas dan terjadi pendarahan  pada kulitnya serta pembusukan pada bagian  sirip akibat terinfeksi bakteri/infeksi sekunder.

Untuk menanggulangi serangan parasit ini dapat dilakukan dengan perendaman baik menggunakan air tawar selama 15 menit atau methylene blue 0,1 ppm selama 30menit. Perendama dapat diulang sebanyak 2-3 kali. Sedangkan  terhadap infeksi sekunder seperti pembusukan dapat dicegah dengan menggunakan acriflavin 10 ppm/jam. Agar penyakit ini tidak mudah menyebar, maka ikan-ikan  yang telah terserang parasit ini harus dipisahkan  sejauh mungkin dari ikan yang sehat. Ikan yang mati atau sakit parah segera ambil dan musnahkan.

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang sering dijumpai pada pemeliharaan  ikan kerapu tikus adalah penyakit Bakterial Fin Rot dan Vibriosis.

Bakterial Fin Rot  atau penyakit sirip rontok disebabkan  oleh serangan baktery Myxobacter sp. Gejala yang diperlihatkan adalah kerusakan terutama pada sirip, ekor, geripis dan menipis pada bagian pangkalnya serta terdapat luka pada bagian spin bagian dorsal. Penanggulangan penyakit ini dilakukan dengan cara perendaman air tawar selama 10-15 menit atau Nitrofurazon 15 ppm selama 24 jam. Perendaman ini dapat dilakukan selam 3 hari berturut-turut.

Vibriosis, penyakit vibriosis disebabkan oleh  bakteri vibrio. Biasanya penyakit ini muncul sebagai pathogen sekunder yang timbul kemudian akibat infeksi  primer oleh protozoa. Gejala yang diperlihatkan adalah nafsu makan berkurang, ikan  tampak lesu, terjadi pembudukan pada  fin rot (bagian sirip),mata menonjol (popeye) dan terjadi pengumpulan  cairan diperut. Penanggulangan penyakit ini dapat dilakukan dengan pemberian 0,5 Oxytetracyclin/kg  pakan selama7 hari. Bila ikan tidak mau makan dapat dilakukan perendaman dengan Nitrofurazon 15 ppm selama 24 jam.

 

  1. 2.  Penyakit yang disebabkan oleh faktor non pathogenetik.

Pada pemeliharaan ikan kerapu tikus ini penyakit yang banyak disebabkan oleh faktor pathogenetis seperti lingkungan. Faktor lingkungan erat kaitannya dengan kualitas air. Kualitas air mempengaruhi kesehatan ikan adalah : tempratur air, oksigen terlarut, salinitas,Ammonia dan beberapa senyawa yang bersifat racun seperti pestisida. Beberapa penyakit non pathogenetik pada larva ikan kerapu tikus adalah

  1. Defiensi oksigen

Penyakit ini disebabkan karena ikan bak pemeliharaan dengan padat penebaran tinggi, kelebihan pakan, kurangnya aerasi system penyaringan yang  kurang baik serta banyaknya kotoran di dasar bak hingga menyebabkan terjadinya dekomposisi bahan organik. Gejala yang diperlihatkan adalah larva ikan  berada  dipermukaan  air, sulit bernafas dan akhirnya menyebabkan kematian dengan kondisi insang pucat,mulut operculum terbuka. Penanggulangannya  jika ikan menunjukkan gejala kekurangan oksigen  jangan  nyalakan aerasi  terlalu besar. Bersihkan dasar bak dengan menyipon perlahan-lahan dan lakukan pergantian air.

  1. Acidosis dan Alkolosis, sebagian besar ikan akan dapat hidup pada pH yang netral yaitu 7 Larva ikan kerapu tikus dapat hidup  pada kisaran pH 6-8. Jika Ph kurang dari 6, ikan akan sulit nafs, bergerak lambat dipinggir-pinggir bak dan akan mencari  udara di permukaan air. Alkoliosis terjadi bila pH mendekati 8 atau lebih. Gejala yang terlihat adalah warna kulit putih agak keruh, sirip mengembang, diikuti dengan kerusakan pada kulit dan insang. Gejala dan penanggulangan penyakit  ini hampir sama dengan penyakit defisiensi oksigen.
  2. Gas Bubble Diseases, kelarutan gas dalam air, khususnya air sebagai media larva ikan budidaya perlu mendapat perhatian  tersendiri, antara lain : kelarutan gas Oksigen dan Nitrogen. Hal ini disebabkan  karena  kandungan  oksigen  dalam air  sudah jenuh (super saturated). Gejala dan penanggulangan  penyakit  ini hampir sama dengan penyakit defiensi oksigen. Selain hal-hal tersebut di atas lewat faktor lingkungan  yang sering menyebabkan timbulnya penyakit adalah kelimpahan plankton, pencemaran dan iklim.

 

3.3  Cara Panen

Panen dilakukan dengan dua tahap yaitu panen dari bak pemeliharaan larva dan dari bak pendederan.

  1. 1.      Panen dari Bak Larva

Panen ini dilakukan setelah larva berumur 40 hari atau sudah menjadi benih yang siap untuk dipindahkan ke dalam bak pendederan, pemindahan ini dilakukan untuk melatih benih agar dapat ikan rucah dalam bak pendederan yang relatif lebih kecil dari bak pemeliharaan larva dengan kondisi media air yang terus mengalir selama 24 jam. Dari hasil pengamatan menunjukkan dengan cara ini benih lebih cepat beradaptasi dengan pakan yang baru berupa cacahan ikan sehingga benih tampak lebih cepat besar  dan benih yang hanya diberi pakan artemia dewasa.

 

  1. 2.      Panen dari Bak Pendederan

Panen dari bak ini dilakukan untuk benih yang akan dipelihara di Karamba Jaring Apung atau benih yang siap untuk dipacking. Yang perlu diperhatikan untuk benih yang akan dipacking adalah pada saat panen benih harus dalam kondisi dipuasakan atau tidak diberi pakan yang disesuaikan dengan tingkat berat dan ukuran. Untuk ukuran kurang 3 gram dipuasakan 12-24 jam sebelumnya, sedangkan untuk ikan yang lebih dari 3 gram, 36-46 jam menjelang pengangkutan. Kondisi benih demikian sangat aman untuk di packing.

 

Pengalaman menunjukkan benih kerapu tikus, bila di packing dalam kondisi kenyang atau di dalam lambung masih tersisa pakan maka pakan tersebut akan dimuntahkan, demikian juga bila waktu mempuasakan tidak tepat sehingga di dalam sistem pencernaan masih tersisa pakan, maka pada saat di packing akan mengeluarkan kotoran yang akan merusak kualitas air yang dapat mengakibatkan kematian pada ikan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan guna mendukung keberhasilan panen, antara lain : persiapan panen, ukuran panen, waktu panen dan cara panen.

  1. Persiapan panen, untuk medapat hasil panen yang maksimal, maka persiapan sebelum dilakukan pemanenan hendaknya disiapkan alat pane yang akan digunakan berupa : skop net, ember, dan jaring.
  2. Ukuran dan waktu panen, ukuran dan umur sangat menentukan kemampuan benih kerapu tikus untuk dipanen, oleh karena itu ukuran ikan hendaknya sudah mencapai 1,5 – 2cm atau ikan sudah berumur lebih dari 40 hari. Waktu panen sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari.
  3. Cara panen, dikurangi air di dalam bak sampai tersisa 1/3 dari volume awal. Ikan digiring dengan waring ke sudut bak, agar mempermudah penangkapannya. Ikan ditangkap dengan skop net dan dimasukkan ke dalam wadah yang siap untuk dimasukkan ke kantong plastik.