Analisis Situasi Usaha

        Potensi sumber daya perikanan di Bali mulai dilirik kembali, khususnya oleh masyarakat Bali Utara. Potensi perikanan khususnya bidang budidaya.  Potensi perikanan tangkap yang telah menurun berhasil ditopang oleh produksi perikanan budidaya. Hal ini mendorong berkembangnya usaha- usaha perikanan budidaya, baik itu budidaya ikan di tambak, kolam, karamba, jala apung,mina padi, dan lain-lain. Besarnya potensi dari bidang perikanan menyebabkan  usaha perikanan di kabupaten Buleleng sepanjang tahun terus bertambah.

Berdasarkan pemantauan  Dinas Perikanan Kabupaten Buleleng, pada tahun 2010 terdapat 724 unit usaha perikanan, meliputi 480 Balai Benih Ikan (BBI), 22 unit Balai Benih Udang (BBU),  dan 322 unit Balai Benih Swasta. Disamping itu juga terdapat ribuan unit-unit pembenihan skala rumah tangga (skala kecil) milik petani yang tersebar di kawasan pengembangan perikanan baik air tawar maupun air laut.

Hal ini menunjukkan kebutuhan akan pakan ikan terus meningkat seiring dengan berkembangnya usaha-usaha perikanan budidaya secara intensif. Selama ini jenis pakan yang digunakan oleh pembudidaya adalah pakan ikan olahan dari pabrik,  namun pada umumnya daya beli masyarakat tidak dapat menjangkau karena harga pakan buatan pabrik mahal dan terus mengalami kenaikan harga.   Harga pakan yang mahal disebabkan oleh bahan baku pakan pabrik menggunakan tepung ikan impor yang memiliki kualitas tinggi.  Tepung ikan impor dikatakan memiliki kualitas yang tinggi karena merupakan produk sampingan dari industri minyak ikan sehingga kandungan proteinnya tinggi dengan kandungan abu yang  rendah.  Tepung ikan lokal memiliki harga yang lebih rendah dibandingkan tepung ikan impor, namun kandungan protein tepung ikan lokal lebih rendah dengan kandungan abu yang lebih tinggi.  Tepung ikan lokal memiliki kualitas yang lebih rendah  karena bahan baku tepung ikan lokal adalah sisa ikan yang tidak habis terjual atau ikan dengan kualitas yang rendah.  Hal ini menyebabkan industri pakan atau pelet  lebih banyak menggunakan tepung ikan impor dibanding tepung ikan lokal, meskipun menyebabkan harga pakan menjadi mahal.

Indonesia sebenarnya memiliki berbagai sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan atau pellet. Contoh sumber daya alam yang dapat digunakan sebagai bahan baku pakan adalah keong sawah dan maggot.  Bahan baku tersebut mudah diperoleh  ataupun dibudidayakan dan bukan bahan kebutuhan pokok manusia.  Kandungan nutrisi yaitu protein dari keong sawah dan maggot hampir setara dengan kandungan protein tepung ikan impor.  Sayangnya, belum banyak atau bahkan belum ada usaha untuk mengolah dan membuat pakan sekala rumahan menggunakan bahan baku ini khususnya di kabupaten Buleleng.  Adanya upaya mengkonversi bahan baku pelet dari tepung ikan impor ke bahan baku keong sawah dan maggot yang harganya lebih murah dengan kualitas yang hampir sama, mengakibatkan menurunnya biaya produksi pembuatan pakan atau pellet, sehingga  harga jual pakan menjadi lebih murah dan dapat dijangkau oleh pelaku budidaya.  Pelaku budidaya membutuhkan pakan yang memiliki kandungan nutrisi yang memadai dan harga yang murah.

Atas dasar fakta dan asumsi di atas, usaha pakan buatan berbahan baku keong sawah dan maggot sangat bagus untuk dilaksanakan dan dikembangkan di kabupaten Buleleng.  Seirama dengan berkembangnya sistem budidaya ikan secara intensif akan semakin besar kebutuhan terhadap pakan ikan buatan. Dan apabila usaha budidaya ikan secara intensif telah menjadi “trademark” usaha perikanan, kiranya akan membuka peluang usaha produksi massal pakan ikan buatan sekala rumahan sebagai kebutuhan alternatif.

1.2. Profil Bidang Usaha yang Diusulkan

        Pakan buatan yang sering disebut pellet menurut Zonneveld (1991) adalah pakan kering dengan kadar air di bawah 10% dan kandungan nutrisinya lengkap sesuai kebutuhan dari jenis ikan yang dibudidayakan.

Pemilihan bahan baku keong sawah dan  maggot sebagai pengganti tepung ikan impor karena memiliki nilai gizi yang lengkap dan hampir sama kandungan proteinnya dengan tepung ikan impor, mudah dicerna, tidak mengandung racun, mudah diperoleh, bukan kebutuhan pokok manusia, bahan baku bisa dibudidayakan, sehingga potensial untuk perkembangan proses produksi pakan ke depan.  Desa Kalianget sebagai lokasi produksi pakan  menyediakan bahan baku yang melimpah melihat Desa Kalianget merupakan daerah persawahan sehingga keong sawah tersedia cukup banyak, selain itu keong belum dimanfaatkan oleh penduduk karena keong merupakan hama bagi para petani.  Bahan baku maggot atau pada umumnya lebih dikenal dengan nama belatung dapat dibudidayakan sebagai penunjang katersediaan stok bahan baku.  Proses budidaya dilakukan dengan menyediakan media hidup untuk maggot dalam hal ini  adalah bungkil kelapa atau bungkil pisang sebagai media melalui proses pembusukan

 

 

 

 

Maggot                                                Keong Sawah

Harga jual pakan buatan rumahan dengan bahan baku keong sawah dan maggot tidak mahal namun tetap memberi keuntungan. Harga pakan dengan bahan baku keong sawah dan maggot menjadi lebih murah karena dalam pembuatan pakan menggunakan prinsip pemanfaatan sumber daya alam yang terdapat di sekitar tempat produksi dan yang tidak dikonsumsi secara langsung oleh manusia atau pemanfaatan bahan baku yang memiliki nilai nutrisi dan nilai ekonomi dari pada bahan pangan hewani yang akan dihasilkan sehingga biaya produksi dapat ditekan serendah mungkin dan harga jual dapat disesuaikan dengan isi kantong pelaku budidaya atau petani.

 

 

 

 

II. Aspek-aspek Usaha

2.1 Aspek Hukum

a. Legalitas Usaha

Usaha yang dibuat yaitu usaha dagang dengan skala yang masih kecil, tenaga kerja yang digunakan juga masih sangat sedikit dan dapat diproduksi di rumah (Home industri)

b. Perizinan

Usaha yang diciptakan masih dalam skala kecil, izin yang digunakan yaitu hanya izin dari ketua Rukun Tetangga (RT) dan izin dari ketua Rukun Warga (RW). Selain itu juga izin dari masyarakat sekitar tempat memproduksi pakan buatan

2.2  Aspek Teknis dan Teknologi

a. Lokasi Usaha

Pakan buatan rumahan ini mengambil lokasi produksi di desa Kalianget. Pemilihan lokasi berdasarkan pertimbangan yaitu sumber bahan baku pakan di lokasi ini tersedia melimpah, ruang yang tersedia untuk proses produksi pakan luas sehingga mendukung proses-proses pembuatan pakan seperti proses pengeringan atau penjemuran, kepadatan masyarakat hunian tidak seperti di daerah perkotaan sehingga diharapkan pada saat proses produksi  yaitu penggunaan mesin olah tidak mengganggu kenyamanan dan ketenangan  masyarakat sekitar. Tempat ini juga sangat strategis karena para pelaku budidaya sedang berkembang,dan akses pasar ketempat-tempat lain mudah terjangkau dari tempat ini.

b. Mesin/Peralatan/Teknologi

Pembuatan pakan buatan rumahan ini memerlukan beberapa Mesin/Peralatan/Teknologi guna mendukung proses produksi yaitu, mesin pembuat pellet (food cutter), alat timbang, mesin pres, mixer, terpal, baskom, sendok pengaduk, ayakan

(gambar)

c. Proses Produksi Barang/Jasa

Tahap pertama produksi dilakukan survey target hasil produk pakan ke tempat-tempat pelaku budidaya perikanan dan petani serta mencari dan menentukan tempat memperoleh alat dan bahan untuk proses produksi pakan buatan. Survei pertama untuk pembelian alat dan bahan dilakukan di kota Singaraja, bila tidak ditemukan alat dan bahan yang menunjang untuk proses produksi dilakukan survey ke lokasi lain. Bahan baku keong sawah, dan maggot sudah tersedia di lokasi produksi yaitu desa Kalianget.  Keong sawah didapatkan dari petani yang memang tidak memanfaatkannya karena  sebagai bahan buangan yang bersifat hama. Keong sawah juga mudah untuk dibudidayakan karena temapat hidup hewan ini sangat mudah yaitu menyediakan tempat yang lembap dan cepat berkembangbiak  Maggot diperoleh melalui proses  budidaya dengan menggunakan media bungkil kelapa dan bungkil pisang. Untuk memproduksi pakan buatan rumahan dilakukan melalui beberapa proses pembuatan sampai menjadi pakan buatan.

 

 

d. Kapasitas

Pada tahap awal proses produksi, kami mengolah total bahan baku yang digunakan sebanyak 100 kg.  Dari 100 kg bahan baku akan menyusut sebanyak 10 kg setelah menajadi pellet sehingga pellet jadi yang di hasilkan 90 kg

e. Strategi Usaha

Dalam produksi pakan buatan sekala rumahan dilakukan strategi usaha memanfaatkan bahan baku dari sumber daya alam tempat lokasi produksi yang bukan kebutuhan pokok masyarakat dan tidak layak dikonsumsi secara langsung sehingga dapat menekan biaya produksi pakan tanpa mengurangi kualitas pakan dan kemampuan daya beli petani atau pelaku budidaya, sehingga diperoleh keuntungan yang maksimal dan melakukan promo guna membangun kerjasama dengan petani atau pelaku budidaya perikanan yang berkembang pesat di kabupaten Buleleng. Usaha pakan buatan  berbahan baku keong sawah dan maggot juga mendapat dukungan dan kerjasama dengan Gerakan Kelompok Tani(gapoktan) yang ada di tiap desa. Desa yang telah kami survey memiliki gapoktan yaitu Desa Kalianget, Joanyar, Sulanyah yang merupakan wilayah kecamatan Seririt, sedangkan untuk wilayah kecamatan Banyar desa yang telah mendukung usaha pakan buatan ini adalah desa Banyar, Dencarik, dan Temukus.

f. Analisis Lingkungan

Dampak  terhadap lingkungan yaitu untuk dampak negatif akan di upayakan seoptimal mungkin agar tidak menghasilkan limbah yang dapat merusak lingkungan tapi untuk sisi lain usaha pakan buatan rumahan ini mendukung kelestarian lingkungan dalam hal penggunaan bahan baku yang bersifat hama yaitu penggunaan keong sawah yang merupakan hama bagi petani.

2.3  Aspek Pemasaran

a. Jenis Produk (Barang/Jasa) yang Ditawarkan

Produk yang kami tawarkan pakan buatan yang berbahan baku dari pemanfaatan sumberdaya alam yang tidak  layak dikonsumsi secara langsung oleh manusia yaitu pemanfaatan keong sawah dan maggot dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

b. Kegunaan Produk (Barang/Jasa) yang Ditawarkan

Produk pakan buatan yang kami produksi ini memiliki kegunaan sebagai pakan komoditas perikanan pelaku budidaya air tawar yang sedang berkembang pesat di kabupaten Buleleng yaitu pelaku budidaya lele. Gurame, Nila dan komoditas yang lain.  Pakan buatan berbahan baku keong sawah dan maggot sebagai perbaikan atas mahalnya harga pakan buatan pabrik yang tidak dapat dibeli oleh pelaku budidaya atau petani dengan kualitas yang tidak kalah dengan pakan buatan pabrik.

c. Target Konsumen

Produk yang dihasilkan berupa pakan buatan ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pakan dan menunujang daya beli pelaku budidaya perikanan air tawar  yang sedang berkembang pesat  di kabupaten Buleleng.

d. Wilayah Pemasaran

Pemasaran produk pakan buatan rumahan ini pada tahap awal akan kami pasarkan  langsung ke lokasi tempat pelaku budidaya perikanan dalam sekala kecil ataupun komoditas budidaya perikanan sekala besar yaitu seperti di kawasan seputar lokasi produksi pakan yang telah mempunyai organisasi perkumpulan pelaku budidaya yaitu GAPOKTAN  yang berkembang pesat dan sangat mendukung usaha pakan buatan berbahan baku keong sawah dan maggot ini, selain itu kawasan lain yang terdapat lokasi budidaya perikanan dan untuk tahap lebih lanjut kami akan mengadakan kerjasama dengan toko atau usaha dan jasa penyedia pakan buatan sebagai lokasi pemasaran selanjutunya.

e. Peta Persaingan

Produk pakan buatan rumahan belum banyak atau bahkan belum ada usaha yang sama untuk mengolah dan membuat pakan sekala rumahan di kabupaten Buleleng. Selain itu, produk pakan buatan rumahan ini dapat bersaing dengan pakan buatan pabrik karena harga dari pakan buatan rumahan  lebih murah dengan tetap memperhitungkan kualitas dan tingkat keuntungan yang seimbang.

f. Potensi Pemasaran

Melihat pesatnya perkembangan pelaku budidaya perikanan di kabupaten Buleleng dan hampir tidak ada pesaing yang sama kecuali pakan buatan pabrik yang harganya mahal, produk pakan buatan rumahan optimis bisa diterima baik oleh pasar dan pelaku budidaya. Kawasan produktif budidaya perikanan di sekitar tempat produksi pakan merupakan akses yang sangat bagus dan menjanjikan, dukungan dan kerjasama gerakan kelompok tani di tiap desa merupakan langkah awal perkembangan usaha ini ke depan.  Kawasan  lain tempat pelaku budidaya dan petani juga merupakan potensi bagus pemasaran produk pakan buatan rumahan ini selain itu juga toko atau penyedia jasa  penjualan produk perikanan.

g. Rencana Jumlah dan Harga Produk

Apabila proposal usaha pakan buatan rumahan ini disetujui, pada tahap awal akan memproduksi sebanyak 100 kg dari campuran bahan baku. Pakan dikemas menjadi ukuran 1 kg, 5 kg, 10 kg, dan dipasarkan juga dengan ukuran curah.  Harga jual pakan buatan rumahan ini adalah Rp 10.000 per kg sedangkan harga pakan buatan pabrik di pasaran Rp 13.000

      2.4  Aspek Manajemen

a. Bentuk Usaha

Usaha yang dibuat dalam bentuk industri skala kecil yang dapat diproduksi dengan cara (Home industri) atau industri rumah tangga, dimana usaha ini membutuhkan dana yang tidak begitu besar dalam realisasinya.

b. Struktur Organisasi

Proses produksi pakan buatan rumahan ini, melibatkan 4 orang yang  bekerjasama di dalamnya yaitu Kadek Fendi Wirawan, Kadek Yusandika, Gede Andi Antara, I Made Wiratama yang masing-masing memiliki jabatan dan tanggung jawab diantaranya, Kadek Fendi Wirawan menjabat sebagai direktur utama yang juga sebagai penanggung jawab usaha dan pemasaran, Kadek Yusandika sebagai akunting yang mengatur dan mengawasi keuangan yang masuk dan keluar, Gede Andi Antara dan Made Wiratama bertugas di bagian produksi dan merangkap tugas sebagai penyedia alat dan bahan.

c.  Tenaga Kerja

Usaha pakan buatan rumahan dalam proses produksi awal tidak akan merekrut tenaga kerja lain dalam proses produksi. Dengan 4 orang pada struktur organisasi sudah dapat melakukan proses produksi dengan maksimal dengan jabatan dan fungsi tugas yang sudah ditentukan.  Dan apabila usaha pakan ini nantinya telah berkembang kami akan merekrut tenaga kerja lain mengingat kesibukan kami sebagai mahasiswa.

5  Aspek Ekonomi dan Keuangan

a. Perkiraan Pendapatan

Modal Tetap (MT)

NO Nama Barang Jumlah Biaya
1 Mesin Food Cutter(pellet ikan) kapasitas 100-150 kg/jam 1 Rp. 11.875.000
2 Mixer pencampur pakan(kapasitas 45 kg) 1 Rp. 9.700.000
3 Alat Timbang 1 Rp. 300.000
4 Mesin Press 1 Rp. 700.000
5 Baskom/Wajan 2 Rp .339.000
6 Terpal 2 Rp.150.000
7 Ayakan 2 Rp. 50.000
8 Sendok Pengaduk 2 Rp. 30.000
9 Listrik 380 Volt Rp 200.000
                      JUMLAH Rp. 23.344.000

 

Biaya Tidak Tetap (BTT)

No Nama Bahan Jumlah Biaya
1 Keong Sawah(tepung) 24 kg Rp.96.000
2 Maggot(tepung) 20 kg Rp. 100.000
3 Tepung Terigu 6 kg Rp. 24.000
4 Dedak Halus 14 kg Rp. 28.0000
5 Vitamin dan Mineral 5 kg Rp. 50.000
6 Minyak Ikan 1 Botol Rp. 21.000
7 Tepumg Kedelai 25 kg Rp. 75.000
8 Tepumg Jagung 6 kg Rp. 18.000
                          JUMLAH Rp. 412.000

 

Biaya Tetap (BT)

1 Gaji Produksi dan Penyedia Alat dan Bahan(2 Tenaga) Rp. 3000.000
2 Gaji Akuntan Rp. 1.100.000
3 Gaji Marketing Rp1.100.000
                  JUMLAH Rp. 5.200.000

 

Perhitungan Biaya Umum (BU):

10% dari Biaya Tetap (BT)           = 10% x Rp 5.200.000

= Rp 520.000

 

 

Perhitungan Biaya Penyusutan (BP):

NO Nama Barang(Modal Tetap) Harga/Daya Tahan(bulan) Biaya Penyusutan
1 Mesin Food Cutter(pellet ikan) kapasitas 100-150 kg/jam Rp. 11.875.000/48 bulan Rp 247.395
2 Mixer pencampur pakan(kapasitas 45 kg) Rp. 9.700.000/48 bulan Rp 202.083
3 Alat Timbang Rp. 300.000/24 bulan Rp 12.500
4 Mesin Press Rp. 700.000/36 bulan Rp 19.444
5 Baskom/Wajan Rp .339.000/12 bulan Rp 28.250
6 Terpal Rp.150.000/6 bulan Rp 25 000
7 Ayakan Rp. 50.000/6 bulan Rp 8.333
8 Sendok Pengaduk Rp. 30.000/6 bulan Rp 5000
                      Jumlah Biaya Penyusutan Rp 548.005

 

Pendapatan;

90 kg x Rp. 10.000                                   = Rp. 900.000 (jam)

8 Jam x Rp. 900.000                                 = Rp. 7.200.000 (hari)

30 x Rp.7.200.000                                                = Rp.216.000.000(bulan)

Rasio:

 

 

Perhitungan BEP (Break Event Point):

 

 

= 9.629.629

 

 

b. Perkiraan Biaya

Perkiraan biaya produksi pakan buatan rumahan adalah sebagai berikut :

Penyediaan alat

NO Nama Barang Jumlah Biaya
1 Mesin Food Cutter(pellet ikan) kapasitas 100-150 kg/jam 1 Rp. 11.875.000
2 Mixer pencampur pakan(kapasitas 45 kg) 1 Rp. 9.700.000
3 Alat Timbang 1 Rp. 300.000
4 Mesin Press 1 Rp. 700.000
5 Baskom/Wajan 2 Rp .339.000
6 Terpal 2 Rp.150.000
7 Ayakan 2 Rp. 50.000
8 Sendok Pengaduk 2 Rp. 30.000
9 Listrik 380 Volt Rp 200.000
                      JUMLAH Rp. 23.344.000

 

Penyediaan bahan

No Nama Bahan Jumlah Biaya
1 Keong Sawah(tepung) 24 kg Rp.96.000
2 Maggot(tepung) 20 kg Rp. 100.000
3 Tepung Terigu 6 kg Rp. 24.000
4 Dedak Halus 14 kg Rp. 28.0000
5 Vitamin dan Mineral 5 kg Rp. 50.000
6 Minyak Ikan 1 Botol Rp. 21.00
7 Tepumg Kedelai 25 kg Rp. 75.000
8 Tepumg Jagung 6 kg Rp. 18.000
                          JUMLAH Rp. 412.000

 

c. Kebutuhan Dana

Berdasarkan rincian dana di atas, untuk dapat memproduksi pakan buatan rumahan maka dibutuhkan dana untuk pembelian alat dan bahan dengan perhitungan total sebagai berikut :

Rp.23.344.000 + Rp. 412.000 = Rp.Rp. 23.756.000

d. Alternatif Sumber Dana

Sumber dana untuk dapat mewujudkan usaha produksi pakan buatan rumahan  ini diperoleh dari DIPA Undiksha, besarnya dana yang diperlukan dalam usaha ini adalah Rp 23.756.000-.

  1. II.    Penutup

Usaha pakan buatan rumahan ini sangat bagus dikembangkan dan sangat menjanjikan untuk usaha ke depan, mengingat semakin meningkat dan berkembangnya usaha perikanan sistem budidaya baik dalam sekala besar maupun perikanan sekala rumah tangga yang sepanjang tahun semakin intensif,  membuat fakta  besarnya  kebutuhan pakan para pembudidaya atau petani di kabupaten Buleleng.  Rendahnya daya beli pelaku budidaya terhadap pakan buatan pabrik yang mahal akan teratasi dengan pakan buatan rumahan ini dengan harga yang lebih murah dan kualitas yang tidak kalah, selain itu belum  atau hampir tidak ada usaha  sejenis di kabupaten Buleleng akan memberikan kecendrungan yang sangat besar terhadap berkembangya usaha pakan buatan rumahan ini ke depan nantinya.

Untuk dapat mewujudkan usaha pakan buatan rumahan ini maka bantuan dana sangat diperlukan terutama dalam pembelian alat dan bahan yang digunakan untuk proses produksi pakan buatan.