Pakan alami dalam budidaya air laut

Pakan alami adalah organisme hidup baik tumbuhan ataupun hewan yang dapat dikonsumsi oleh ikan.  Pakan alami juga mengandung arti segala bahan makanan yang tersaji dan berasal langsung dari alam. Contoh: Silase atau daun-daunan adalah makanan alaminya ternak (di darat). Fitoplankton dan zooplankton adalah makanan alaminya ikan (di air).  Pakan alami dalam budidaya laut biasanya menghuni wilayah perairan laut yang merupakan sumber makanan utama untuk larva dan juvenile ikan laut.  Pakan alami dapat bergerak aktif dan sehingga mengundang larva ikan untuk memakannya.  Dalam budidaya air laut pakan alami bisa didapat dengan jalan budidaya  maupun menangkap di alam.  Hasil tangkapan pakan alami dari alam  sangat brgantung dengan musim dan kualitasnya sangat beragam.  Karena itulah pakan alami perlu di budidayakan.

Pakan alami, terdiri atas : 1). Pakan Segar (fresh feed atau frozen feed). Adalah pakan segar dan beku dari freezer dimana bentuknya tidak berubah seperti keadaan hidup. Misalnya fito maupun zooplankton beku serta ikan atau udang-udangan beku dll.  2).Pakan Hidup (live food). Adalah pakan yang diberika dalam keadaan masih hidup ketika diberikan kepada hewan kultivan. Pakan ini bias dibiakkan bersama-sama dengan kultur kultivan tapi juga bias dibiakkan terpisah. Misal: fitoplankton Chlorella sp atau zooplankton Brachionus sp atau Artemia sp sebagai pakan yang dibiakkan bersama-sama dengan larva ikan laut dan udang.

Artemia sp merupakan salah satu pakan alami dalam budidaya laut. Pemenuhan artemia sp sebagai kebutuhan pakan alami dilakukan dengan melakukan kultur artemia. Secara taksonomis, klasifikasi sistematika Artemia adalah sebagai berikut:

Phyllum : Arthropoda

Class : Crustacea

Subclass : Branchiopoda

Order : Anostraca

Family : Artemiidae

Genus : Artemia, Leach 1819

Populasi Artemia ditemukan di lebih dari 300 danau air asin baik alamiah

maupun buatan di seluruh dunia ((Sorgeloos et al., 1986). Kemampuan beradaptasi secara fisiologis artemia di kadar garam yang tinggi menjadikan hewan ini satu satunya yang paling efisien pada system osmoregulasinya di kerajaan binatang (Croghan, 1958). Apalagi hewan ini juga mampu mensintesa secara efisien pigmen-pigmen respirasi (haemoglobin) untuk mengatasi rendahnya kadar oksigen di media hidupnya dimana konsentrasi kadar garamnya sangat tinggi (Gilchrist,1954) dan akhirnya dapat memproduksi kista dormannya ketika kondisi lingkungan membahayakan kelangsunganhidupnya. Sehingga Artemia hanya akan ditemukan di perairan dengan kadar garam dimana predatornya tidak bias hidup di dalamnya,yaitu pada 70 ppt (Sorgeloos, et al., 1986). Pada kondisi dimana tidak ada predator dan kompetitor Artemia dapat sering berkembang dalam kultur tunggal (monokultur) yang skala besar, dengan densitas yang terkontrol terutama oleh makanan yang terbatas. Reproduksi ovoviviparous (nauplii sebagai keturunan langsungnya) terjadi biasanya pada tingkat kadar garam yang rendah, sementara kista sebagai hasil reproduksi oviparous diproduksi pada salinitas diatas 150 ppt (Sorgeloos, et. al., 1986).

Kista kering diambil di tambak-tambak garam atau danau-danau garam dan di produksi pada Artemia yang diberi makan fitoplankton alami. Perkembangan terkini menunjukkan bahwa mengkultur nauplii Artemia hingga dewasa sebagai pakan langsung bagi larvae yang lebih besar merupakan sumber protein bagi pakan hewan bahkan untuk manusia(Sorgeloos, 1980). Semenjak munculnya ekspansi lavikultur secara komersial dan mendunia pada ikan laut dan udang dangan yang membutuhkan kista Artemia dalam jumlah banyak, dimana kista kemudian akan ditetaskan menjadi nauplii sebagai pakan larvae, kebutuhan akan adanya Artemia menjadi sangat krusial di industry marikultur.

Kemudahan pemanfaatan Artemia terletak pada keseterdiaan kista kering kemasan yang memuaskan konsumen seperti para akuaris, akuakulturis, ahli ekologi perairan, dan ahli toksikologi lingkungan yang memanfaatkan Artemia sebagai hewan standard di laboratorium. Menurut Kinne (1977) lebih dari 85% hewan laut yang dikultivasi sejauh ini telah diberi Artemia sebagai sumber makanannya baik secara single maupun kombinasi dengan sumber makanan yang lain.

Walau di alam Artemia hanya tumbuh baik pada kadar garam lebih dari 100 ppt, namun Artemia juga masih hidup pada air laut normal. Kenyataannya, batas salinitas terendah dimana Artemia masih ditemukan di alam merupakan batas salinitas tertinggi dimana ikan sebagai predator ditemukan. Berdasarkan penelitian, performa fisiologi seperti laju pertumbuhan dan efisiensi konversi makanan justru paling bagus pada salinitas rendah yaitu pada salinitas air laut 35 ppt (Reeve, 1963). Sehingga, kultur Artemia dalam air laut secara tertutup dari predator baik dari air sendiri maupun udara (insekta) kemudian dikembangkan.

Secara umum, kultur Artemia dilakukan pada beberapa cara :

1). Konstruksi Wadah

Bahan : fibre glass, kayu berlapis plastik, semen

Bentuk: conical, persegi tanpa sudut (lengkung)

Depth : < 100 cm

Size : variatif

2). Sistem Pemeliharaan

Raceway System (air berputar)

Flow Through System (air mengalir)

Batch System without water renewal (Kultur dalam wadah tanpa

ganti air)

3). Pakan

Alga, tepung kedelai, dedak, bungkil kelapa, copepoda, rotifera,

silase ikan, ragi, microcapsulated diets dll

4). Media

Air (20-35 ppt): danau air asin, tambak garam

Secara umum teknik kultur Artemia dengan densitas tinggi memerlukan

beberapa factor pendukung diantaranya sbb:

5).  Pengadukan secara terus-menerus dengan aerasi sehingga semua volume media tercampur dan Artemianya terdistribusi di semua kolom

 

 

 

Sebagai kesimpulan dari uraian diatas, maka ada beberapa pertimbangan mengapa praktisi budidaya mempergunakan Artemia sebagai sumber pakan alami.

Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa:

1. Artemia telah secara intensif dimanfaatkan sebagai pakan di industry aquakultur secara luas, dan kistanya telah tersedia di pasaran di pelbagai sumber yang bias dipercaya kualitasnya.

2. Teknologi untuk memproduksi larvae nauplii dari materi kista Artemia telah

diketahui secara baik

3. Artemia telah dikenal sebagai sumber pakan alami dengan kandungan nutrisi lengkah bagi pelbagai kelompok kultifan krustasea dan ikan baik yang hidup pada media air laut maupun tawar

4. Artemia ditemukan di lebih dari 300 danau air asin dan di tambak-tambak garam di seluruh dunia. Pemanfaatan terbesar Artemia berda di Asia Tenggara yang berasal dari the Great Salt Lake di Utah, U.S.A dimana pemanenan (harvesting), pengeringan (drying), dan pengalengan (canning) dilakukan dibawah lisensi Pemerintah Amerika.

5. Di hampir semua system akuakultur, Artemia disajikan dalam bentuk nauplii segar yang baruI menetas. Namun beberapa praktisi lebih memilih Artemia dewasa yang nilai nutrisi dipercaya lebih baik.

 

Gambar artemia