Kain tenun bukan hanya buah keterampilan turun-temurun bagi masyarakat desa kalianget, melainkan juga bentuk identitas kultural dan artefak ritual. Di luar lingkup tradisi masyarakat daerah tujuan wisata itu, kain tenun Balipun tidak sebatas cendera mata, tetapi terus berkembang sebagai komoditas berbasis budaya. Dinamakan tenun ikat karena dalam proses pembuatan motifnya benang bahan pembuat kain itu diikat dalam bentuk-bentuk tertentu. Kain tenun ikat khas Bali sebagai satu kekayaan bangsa masih sangat potensial dikembangkan dan dicarikan pangsa pasar untuk mendorong kegairahan ekonomi perajin, sekaligus memperkaya rancangan motif, teknik pembuatan, dan jenis tekstil yang digunakan. Selama ini di Bali yang paling dikenal potensi tenun ikatnya adalah kawasan wisata Candidasa, Kabupaten Karangasem, Bali. Tenganan, demikian nama desa itu, atau biasa disebut Bali Aga (Bali asli). Menurut sejarah, masyarakat yang tinggal di Desa Tenganan ini adalah suku asli Bali yang tetap mempertahankan pola hidup tradisional sampai saat ini. Ketaatan masyarakat pada aturan tradisional desa yang diwariskan nenek moyang mereka secara turun temurun menjadi sebuah benteng kokoh dari pengaruh luar. Dalam hal dan situasi lain banyak sekalai yang bisa di gali dari tenun ikat ini menuju penguatan dan pengembangan desa mandiri. Tapi pada satu sisi, di jaman yang serba mendapat sentuhan modernisasi, sedikit demi sedikit tenun ikat mulai dilupakan bahkan ditinggalkan. sehingga banyak orang yang mempunyai kemahiran dalam bidang ini yang lalu banting setir ke bidang lain. dijumpai kenyataan bahwa banyak alat tenun bukan mesin (ATBM) yang tidak dioperasikan.

Lahirnya tenun ikat sebagai program Penguatan Penguatan dan Pengembangan desa menuju Desa Mandiri dipengaruhi oleh beberapa faktor yang  dianggap sangat besar peranannyadalam mengakibatkan perkembangan desa dan proses pemberdayaan masyarakat menjadi tidak atau belum optimal. Tidak optimalnya perkembangan dan pemberdayaan diakibatkan oleh beberapa faktor yakni, banyaknya bantuan yang masuk ke desa belum mampu memberi dampak yang signifikan dalam menumbhkembangkan prakarsa swadaya tenun ikat dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sdan pemanfaatan tenun ikat. Secara langsung atau biasa di sebut masalah ego sektoral. Beberapa faktor lain yang turut mempengaruhi adalah :pola pikir masyarakat desa yang bergantung pada bantuan,biaya sosial budaya yang tinggi, dan beberapa faktor lokal lain. Dengan adanya tenun ikat sebagai penguatan dan pengembangan desa menuju desa mandiri adnya proses pemberdayaan masyarakat yang dimulai dari proses : penyadaran,perencanaan,pelaksanaan,pengendalian,pengelolaan, dan pemanfaatan serta pelestarian tenun ikat.

C.RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat diajukan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :

1.Bagaimana cara mengubah pola pikir masyarakat desa yang bergantung pada bantuan menuju pkepengembangan desa mandiri melalui tenun ikat?

2.Bagaimana partisipasi masyarakat dalam proses pemberdayaan melalui tenun ikat yang di arahkan untuk peningkatan kapasitas kemandirian desa sebagai program yang terpadu, kontinyu, dan konsisten?

 D.TUJUAN PROGRAM

Tujuan dari program kreativitas mahasiswa pengabdian masyarakat ini adalah sebagai berikut.

1.Merubah pola pikir masyarakat menuju kepada pengembangan desa mandiri melalui pemberdayaan tenun ikat

2. Untuk mengetahui partisipasi masyarakat tentang pemberdayaan tenun ikat sebagai peningkatan kapasitas kemandirian desa yang terpadu, kontinyu,dan konsisiten.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN

            Hasil Program Kreativitas Mahasiswa yang dilaksanakan dalam bentuk pengabdian masyarakat ini diharapkan mampu memberikan wawasan dan menambah pengetahuan serta merubah pola pikir masyarakat desa menjadi lebih mandiri melalui pemberdayaan tenun ikat tidak hanya kemampuan dalam hal kualitas tapi juga secara kuantitas. Hal khusus yang ingin diharapkan adalah : meningkatkan peran serta masyarakat terutama kelompok miskin dan kelompok perempuan dalam meningkatkan kemandirian guna menopang ekonomi dan adanya atau terbentuknya kelembagaan desa yang berpihak pada orang miskin, transparansi, partisipasi, desentralisasi, akuntabilitas, keberlanjutan dan keterpaduan program.

  F. KEGUNAAN PROGRAM

         Adapun kegunaan dari program pemberdayaan tenun ikat sebagai penguatan dan pengembangan desa kailianget sebagai desa mandiri adalah :

1.Melestarikan Warisan Budaya

2.Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Ekonomi Masyarakat

Pemberdayaan Tenun Ikat ini akan meningkatkan sumber daya manusia di desa kalianget yang berdasarkan atas kemandirian sehingga memberi pengaruh ekonomis dalam kehidupan masyarakat

G.METODE PELAKSANAAN PROGRAM

Metode yang digunakan pada Program Kreativitas Mahasiswa ini adalah metode interaksi dan kerjasama antar mahasiswa, kelompok masyarakat pengrajin di desa kalianget, pihak desa adat, dan pihak terkait yang mendukung pelaksaaan program tersebut. Selain itu, dalam melaksanakan PKM ini, penulis juga menggunakan metode lain, yaitu :

1.Metode Penyuluhan dan Pembinaan

Penulis mengadakan penyuluhan dan pembinaan yang dilakukan secara intensif dan berturut di desa kalianget dan adanya evaluasi dalam pemberdayaan tenun ikat guna menilai tingkat perkembangan desa dari desa berkembang , desa maju dan desa mandiri.Dalam penyuluhan mahasiswa melkukan kerjasama dengan kelembagaan desa sehingga dapat menganalisis hambatan dan kendala yang dihadapi dan di perolehnya masukan program pemberdayaan pengrajin tenun ikat di desa kalianget.